Laman

Rabu, 04 November 2009

Menyesal

Pudar seperti terhapus tangan-tangan halus
Kemudian seakan menghilang, lenyap, dan tak lagi terjangkau

Dalam detak waktu yang makin mennghujam asa
Menjauhkannya dari kehangatan dan cinta
Pergi bersama detik jam yang bergulir perlahan,
setitik waktu yang tersisa

Jika masa lalu mengguratkan kehangatan tawa,
Menorehkan cerita bahagia
Maka kini dalam rambatan hari ia mennjauh
Menghantarkan pada bisu yang kian membeku

Dari segunung perhatian yang mengharukan
Yang tersisa hanya sebutir perpisahan menyakitkan

Dan jiwa pun menjerit dalam penyesalan tanpa arti
Tak bergaung meski telah menyerahkan seluruh daya

Andai lidah bertulang,
dan andai rasa memiliki logika
Mungkin tak kan pernah terucap
.
.
.
.
"cinta"

Mungkin ia masih di sini
Mungkin, masih akan ada kehangatan yang mendebarkan
Masih berada dalam pelukan tanpa kerikuhan
Dan...
Rasa itu mungkin tak kan pernah pudar,
Tak kan pernah terhaous dan hilang

Ia...
akan tetap di sini, bersamaku
Menjaga dalam keutuhan tak terbantahkan
Merengkuh dalam nyanyian cinta meski tanpa kata

Bukan ini,
bukan dingin yang kian membekukan rasa
Bukan ia yang semakin menjauh
Meninggalkanku di sini,
di belakang,
jauh...
dan...
tetap sendiri....

1 komentar:

nalatanjung mengatakan...

poem ini kutulis saat sedang broken heart.. wkwkwk... =D
Lucu sih, tapi hasilnya keren kan??

Posting Komentar