“Aku tidak mau hidup lagi… aku tidak pantas ada di sini, aku tidak punya harapan apapun lagi…,” isaknya. “…aku harus mati,”
^^^
Seharusnya aku tidak melanggar perintah Ibu, seharusnya aku mendengarkan larangan Kakak. Seharusnya aku tahu, karena seharusnya ini bukan duniaku!
Aku mengenalnya hampir setahun yang lalu, di pesta tahun baru pertama yang kuikuti dengan Uwi temanku. Ia pria tampan, gentle, baik, dan seribu kesempurnaan lain yang dulunya tidak berani kubayangkan untuk kumiliki meski hanya dalam mimpi. Namanya Rafa.
Rafa yang tinggi, putih, cenderung pucat jika kuperhatikan. Malam itu kulihat ada lingkar hitam di bawah matanya, dan ia kurus.
Tapi diluar itu semua, ia terlihat begitu tampan dan memesona. Aku tergoda, aku terlena oleh untaian manis yang selalu ia bingkai setiap kali kami bicara. Dan aku merasa, duniaku mulai berubah. Aku, Narcyssa, Cissy kutu buku yang kehidupannya datar tanpa riak, hitam putih tak berwarna, fokus pada satu tujuan yaitu keberhasilan hidup agar bisa membahagiakan Ibu, mulai menemukan jalan baru. Jalan baru yang kupikir indah, penuh taman bunga mawar dan matahari, lili dan lilac, dan banyak bunga-bungan lain yang semerbak wanginya bahkan tercium hingga ratusan meter jauhnya. Jalan baru yang akhirnya kupilih, meninggalkan satu persatu impianku, meninggalkan alasan eksistensiku di dunia, karena kupikir, aku telah menemukan alasan sesungguhnya keberadaanku di sini. Apalagi kalau bukan mereguk kebahagiaan sebanyak mungkin!
Kami sudah cukup dekat meski baru satu bulan berkenalan. Ia baik sekali, mengantar-jemputku ke kampus. Rafa bilang ia cuti kuliah karena harus mengurus perusahaan kayu milik Ayahnya. Aku percaya saja.
Aku pun mulai keluar malam dengan berbagai alasan. Bikin tugas di tempat teman menjadi alasan favoritku untuk bisa sekedar mencuri waktu luang bersama Rafa. Beberapa kali Ibu memergokiku pulang larut malam, dan sudah beberapa kali pula aku ditegur dan dicurigai. Tapi predikatku sebagai gadis baik dan jujur membuat Ibu percaya bahwa aku memang pulang malam karena tugas kelompoknya banyak banget. Sempat ada perasaan bersalah karena harus berbohong begitu pada Ibu, nuraniku tahu bahwa yang kulakukan salah. Tapi tetap saja, semua itu tertutup oleh ego.
Dua bulan kami semakin dekat, dan selama dua bulan itu pula nilai pelajaranku mulai turun. Dosen-dosen sempat heran melihatku yang kuliah dengan keadaan mengantuk di belakang, padahal biasanya aku selalu duduk di depan dengan mata berkilat penuh semangat menghadapi apapun mata kuliahnya. Tapi aku tidak peduli karena aku tahu saat itu, inilah kehidupan yang sebenarnya! Penuh dengan hal-hal yang mengejutkan, menegangkan, tapi menyenangkan. Seperti naik roller coaster! Aku suka sekali. Aku sedang merebut kembali masa remaja yang telah kusia-siakan. Yah, meskipun umurku sudah hampir kepala dua alias sudah sembilan belas, tapi toh ini sama sekali belum telat. Lihat saja tuh di luar sana. Banyak banget bertebaran pria-pria atau wanita-wanita dewasa yang baru merasakan puber lagi alias puber kedua! Mereka enjoy-enjoy aja tuh, nggak malu sama sekali. Lha aku, masih muda gini apa salahnya mereguk kebagiaan sebanyak mungkin. Mumpung masih muda! Persetanlah dengan segala macam kewajiban yang kutekankan selama ini. Aku tahu, sebenarnya selama ini aku sudah mulai jenuh dan kebahagiaan duniawi yang ditawarkan Rafa terasa sangat menggoda, bagai ditawarkan es jeruk dingin di tengah padang pasir tandus dengan suhu mencapai 45 derajat celcius!
Dan malam itulah puncaknya, puncak kebahagiaanku. Ketika Rafa dengan lembut mengatakan, “I love you, will you be my special girlfriend?”
Aku merasakan pipiku menghangat, merasakan getaran yang begitu indah di dadaku ketika mata sayunya menatapku lekat. Dan aku mengangguk, meski malu-malu. “Yes I’ll,”
Rafa tersenyum lebar, memelukku erat, dan… menciumku. Oh God, it’s my 1st kiss! Dan rasanya begitu indah, begitu mendebarkan ketika bibir kami bersentuhan, melebur dalam simfoni cinta yang mengalun merdu.
Lalu, bisa dipastikan sejak menjadi pacar Rafa, aku makin sering keluar rumah, makin sering bohong untuk bisa diizinkan keluar malam, bahkan kabur lewat jendela kamar ketika Ibu menghukumku saat mendapat kabar bahwa prestasi akademikku menurun. Maklum saja, aku kuliah memang dari hasil beasiswa. Jadi kegiatan belajarku selalu dipantau pihak fakultas. Tapi aku tetap tidak peduli, aku terus berjalan di jalan yang telah kupilih. Jalan yang memberiku lebih banyak kebahagiaan, yang menawarkan lebih banyak keharuman bunga impian.
Aku berubah, dari gadis biasa yang terkesan cupu, jadi seseorang yang keren, cantik, dan gaul. Hanya dalam waktu beberapa bulan mengenal Rafa. Aku diperkenalkan pada dunia lain yang lebih berwarna, kehidupan malam yang notabene selalu kuhindari sebelumnya.
Kakak yang pernah melihatku jalan dengan Rafa suatu kali menegurku sepulang kuliah. “Siapa dia? Pacarmu?”
Aku mengangguk. “Ya,”
Bibir Kakak mencebik. “Aku tahu aku tidak pantar bicara ini karena kamu sudah dewasa, tapi sebagai seorang Kakak yang sangat peduli padamu,” Kakak mengawali titahnya dengan prolog yang menurutku sama sekali tidak penting. Oh Cissy, kemana rasa hormatmu dulu pada wanita yang telah ikut berperan dalam membiayai hidupmu ini?! “Lebih baik kamu putuskan saja dia,”
Hah?! “Kakak ngelindur? Bercanda ya?” aku jelas keki berat. “Aku mencintainya, dia pun begitu. Kami saling mencintai dan nggak ada yang bisa menghalangi itu. Tidak juga Kakak,” seruku angkuh dengan suara tinggi. Padahal selama ini aku sama sekali jarang, bahkan bisa dibilang tidak pernah membentak Kakak.
Mata Kakak melotot. “Kamu ini bicara apa?! Udah berani ngelawan ya sekarang?” Kakak jelas naik pitam. “Cissy, aku Kakakmu, aku lebih tua dan aku lebih tahu dunia dari pada dirimu. Tidakkah kamu tahu laki-laki itu sama sekali tidak baik untukmu? Tidakkah kamu tahu, kalau dia hanya membawa pengaruh buruk bagimu?!”
Aku mendengus, malas berdebat dengan Kakak. Toh aku juga ngantuk. Nanti malam aku ada kencan dengan Rafa. Jadi tanpa mempedulikan panggilan atau omelannya, aku ngeloyor ke kamar, mengunci pintunya.
Malamnya aku benar-benar pergi bersama Rafa. Kali ini tidak harus berbohong apapun karena Ibu sedang ada pengajian di rumah Pak RT, sedangkan Kakak bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Jadi aku meneruskan rencanaku, rencana kami malam ini. Nge-trek!
Trek-trekan dengan motor liar bukan lagi hal baru bagiku. Dan malamku selalu dipenuhi oleh tawa. Dan… hey! Guess what, aku sudah mulai mencoba minuman keras! Sesuatu yang dulunya kuanggap menjijjikan dan sama sekali tidak berguna. Tapi ketika Rafa mengatakan, “Coba saja, meminumnya akan mengurangi beban pikiranmu,”
Jadi aku menegukku, terbujuk oleh rayuan kekasihku sendiri. Toh sat itu aku memang sedang banyak masalah. Ya di kampus, dan di rumah. Hm… pahit banget. Tapi pada tegukan selanjutnya aku mulai merasa kepalaku ringan, dan heeey… Rafa benar! Aku bisa melupakan masalahku dalam sekejab, larut dalam pesta malam yang diadakan di lapangan sepi bekas perumahan ini.
Ibu memarahiku habis-habisan ketika diantar pulang oleh Rafa dalam keadaan mabuk. Rafa? Jangan tanya lagi, ia malah mendapatkan hadiah tamparan keras dari Ibu plus cacian yang sanggup membuatmu harus periksa ke THT esok harinya. Kakak menyeretku ke kamar, dan yaah… sejujurnya saat itu aku sama sekali tidak merasa takut atau khawatir atau apapun itu, karena yang kurasakan hanya kebahagiaan, malah menganggap makian Ibu sebagai ocehan lucu dan tamparan keras Ibu sebagai belaian penuh cinta. Dunia benar-benar gila!
“Kamu benar-benar sudah berubah, Cissy! Kamu bukan Cissy yang Ibu kenal dulu, kamu… kamu…,” Ibu tidak sanggup melanjutkan ucapannya malam itu, sepertinya beliau sudah kehabisan kata-kata karena seluruh perbendaharaan kalimatnya habis dipakai untuk mendamprat Rafa.
“Mulai sekarang kamu jangan pernah berhubungan lagi dengan lelaki itu! Dia membawa pengaruh buruk bagimu, Cissy! Lihat kamu sekarang, MABUK! Sejak kapan kamu berani mabuk-mabukan, sejak kapaaaan??!” Ibu mengguncang-guncang bahuku, padahal kesadaranku sudah hampir habis saking pusing dan ngantuknya. Aku bahkan tidak sadar, tidak peduli ketika kalimat Ibu selanjutnya diiringi air mata. “Kemana kamu buang semua impianmu, Nak?”
Dan aku pun jatuh tertidur, dibelai oleh mimpiku semasa kanak-kanak. Ah Tuhan, harapku dalam lelap, aku ingin kembali ke masa itu lagi.
^^^
“Ibu melarangku untuk berhubungan denganmu,” kataku suatu kali, memberitahu Rafa tentang larangan Ibu.
Rafa hanya diam. Menolak menatap mataku. Aku mendesah, merangkul lengannya dan bersandar di bahunya. Rasanya hariku begitu lelah. “Aku tidak mau melakukannya, aku masih terlalu mencintaimu…,”
Rafa bereaksi, ia merangkul pundakku. “Kalau begitu, kita akan melakukannya. Kita… tidak akan pernah terpisahkan lagi,”
Aku meliriknya heran. “Maksudmu?”
Rafa tersenyum lembut, mengecup dahiku. “Apa kamu benar-benar mencintaiku?”
Aku mengangguk yakin. “Pasti!”
Senyumnya makin lebar.
Dan… oh oh… aku terbangun dengan pikiran linglung, di sebuah tempat asing yang sama sekali tak kukenal. Yang pasti ini bukan kamarku, karena ranjangku jelas tidak seempuk ini.
Hatiku mengantarku untuk melirik ke bawah. Ya Tuhan, ke mana pakaian yang melekat di tubuhku? Aku menatap ke samping dengan panik dan menemukan Rafa tengah tertidur lelap. Aku benar-benar syok, dan aku pun mulai menangis.
Rafa terbangun oleh isak tangisku, ia menatapku heran, tapi kemudian memelukku, sangat erat. Perasaanku menghangat, dan aku mulai tenang.
“Tenanglah, sayang. Aku mencintaimu dan dengan begini kita akan selalu bersama selamanya,” ia semakin mengeratkan rangkulannya. “Jangan menangis lagi,”
Itu adalah pengalaman pertamaku, dan jujur aku sangat takut dan menyesal. Tapi kata-kata Rafa menenangkanku, bahkan mengubah cara berpikirku. Bahwa ini harus tetap dilakukan karena hal inilah yang akan semakin mengeratkan cinta kami.
Benar-benar cara pandang romantis, pikirku. Tapi mengerikan.
Yaah… bisa ditebak, mulai saat itu aku benar-benar berubah total. Gaya hidupku, sifatku, cara pandangku, semuanya! Ibu dan Kakak sudah letih memarahiku, bahkan bisa dibilang sudah bosan. Aku mulai mengikuti pergaulan bebas yang ditawarkan Rafa.
Dan, aku sama sekali tidak menolak ketika suatu kali diajak ke sebuah acara oleh Rafa, pesta entah apa yang diadakan di sebuah rumah besar milik seorang temannya. Mulanya aku bingung karena jangankan terlihat seperti ada pesta, tempat ini malah sepi seperti kuburan. Tapi begitu aku masuk ke dalam, ternyata banyak orang yang sedang teler di sana. Musik disko yang menghentak menjadi backsound tempat itu.
Aku mulanya bingung, tapi kemudian sadar. Oh Tuhan, mereka ternyata benar-benar sedang pesta. Bukan pesta sembarang pesta, tapi pesta narkoba! Aku langsung merinding, nurani dan logikaku mendorong untuk lari, tapi hatiku yang tertutup ‘cinta’ Rafa menahanku untuk tetap di sini.
Jadi aku mengikutinya. Aku di ajak ke lantai atas, ke sebuah kamar yang dihuni oleh seorang pria gondrong, ceking, dan mengerikan. Di sampingnya ada seorang gadis setengah telanjang. Rafa terkesiap, tapi melihat lelaki itu yang menganggukan kepala, ia segera masuk sambil menyeretku.
“Kamu mau coba ini,” tanya Rafa lembut sambil melambaikan serbuk kecil yang diberikan pria itu. Aku terkesiap, merinding dan agak takut. Rafa tersenyum lagi, mengecupku lembut dan berbisik di telingaku. “Jangan dengar omongan orang. Kamu harus mencobanya dan kamu akan rasakan semuanya menjadi indah. Bukankah kamu perlu tempat untuk masalahmu? Nah, disinilah kamu akan menemukannya. Pakai ini dan percayalah kamu akan mendapatkan apa yang selama ini kamu inginkan,”
Dan aku terbius oleh rayuannya. Aku pun mencobanya. Dan… benar saja! Rasanya… lebih nikmat dari pada malam-malamku bersama Rafa, membawaku terbang lebih tinggi saking ringannya daripada efek alkohol.
Sebentar saja aku sudah mulai ketagihan, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan barang haram itu. Aku sudah tidak peduli lagi pada Ibu atau Kakak. Tidak juga ketika Ibu memarahi atau menangis karena kelakuanku. Kuliahku keteteran, dan rumah hanya menjadi hotel tempat transit sementara bagiku. Aku lebih sering berada di apertemen Rafa, menjalani kehidupanku yang kurasa ‘sesungguhnya’. Free sex, narkotika, minuman keras. Dalam waktu beberapa bulan saja kehidupanku benar-benar sudah jungkir balik seratus delapan puluh derajat.
Dan… puncaknya dua bulan yang lalu. Ketika aku ditemukan OD di apartemen Rafa. Kami habis pesta berdua, pesta narkoba, minuman keras, dan bercinta. Hebatnya, atau mungkin inilah keadaan paling memalukan seumur hidupku ketika orang-orang menemukan kami nyaris seperti sepasang binatang, atau aku yang seperti seekor anjing betina. Kami hanya ditutup sehelai selimut, dengan busa membuncah dari mulutku dan tubuh menggigil hebat. Aku merasa, itulah akhir hidupku, akhir duniaku, akhir umurku yang singkat. Dan aku merasa sangat-sangat-sangat takut. Dan menyesal.
^^^
Nasi sudah menjadi bubur. Keadaan sudah tidak sama lagi seperti dulu. Benar-benar sudah tidak sama dan aku tahu aku tak akan pernah kembali kekehidupan lamaku, kehidupanku yang tanpa riak dan tanpa warna itu.
Aku beruntung masih selamat, aku beruntung masih diberikan kehidupan sejak peristiwa naas itu. Setidaknya aku lebih beruntung daripada Rafa yang harus ikhlas menghabiskan waktu tidurnya terpendam di bawah tanah. Ia meninggal, meninggalkanku untuk selamanya!
Dan… musibah tidak hanya sampai di sana. Tidak hanya sampai kematian Rafa, dicabutnya beasiswaku, dipecatnya aku sebagai mahasiswa dan dikeluarkan dari universitas secara tidak hormat, memberikan kesedihan tiada henti pada Ibu dan Kakak, tapi… benar-benar pada suatu hal yang membuatku jijik pada diri sendiri, membuatku ingin mencabik-cabik diriku, menggores tubuhku tidak hanya ketika aku sakaw, tapi saat aku sadar sesadar-sadarnya. Aku benci diriku, diriku yang begitu menjijikan ini!
Aku positif terinfeksi virus HIV, aku positif mengidap AIDS.
Mungkin tertular oleh Rafa, mungkin juga dari jarum-jarum suntik yang selalu kami gunakan. Aku tidak tahu, dan aku tidak peduli. Aku… bahkan sudah merasa mati saat ini meskipun jantungku masih berdetak.
Jadi, kematian yang sesungguhnya tentu tidak akan mengubah apapun. Kematian sesungguhnya hanya akan mengantarku pada kehidupan lain yang mungkin lebih indah, atau lebih buruk dari dunia.
“…maafin Cissy, Bu. Maafin Cissy Kak Nadya… maafin Cissy…,” isakku, dan perlahan aku merasa duniaku mulai berputar, hitam dan gelap ketika perlahan tapi pasti luka lebar di pergelangan tanganku menguncurkan darah merah pekat, seperti di tempat penjagal sapi.
Oh… jadi begini ya rasanya mati. Aku masih sempat tersenyum samar. Sampai jumpa semuanya, sayonara…
^^^
“Cissy!!” suara itulah yang mulanya kudengar ketika kesadaranku mulai kembali. Oh di manakah ini? Apakah aku sudah berada di neraka? Tapi… pelukan ini begitu erat, seakan tidak takut dengan keadaanku. Pelukan ini terasa hangat dan begitu nyata.
Jadi aku berusaha membuka mata, mencari cahaya agar lepas dari kegelapan yang mengukungku. Dan aku menemukan mereka, dua orang yang… yang seharusnya jadi panutanku. Orang-orang yang seharusnya kucintai melebihi siapapun di dunia ini, bahkan Rafa. Orang-orang yang seharusnya kulindungi, orang-orang yang seharusnya kubahagiakan.
Ibu dan Kak Nadya.
Tanpa dikomando air mataku mengalir deras. Tersedu-sedu. Hatiku terasa sakit begitu kesadaran akan kenyataan kembali menghantamku seperti palu godam. Aku… kenapa? Kenapa aku masih hidup?
“Kenapa kalian tidak membiarkan aku mati?” isakku. Tubuhku terasa sakit semua. Lebih dari itu, hatiku jauh lebih sakit. “Aku… sudah tidak memiliki apapun untuk hidup. Aku manusia paling menjijikan dan aku sama sekali tidak punya tujuan lagi. Hidupku sudah hancur…,”
“Karena kamu masih memiliki mimpi yang harus diperjuangkan, menunggu untuk kamu wujudkan,” suara Kakak terdengar lirih, tapi bergema dan sampai hingga ke relung terdalam hatiku.
“Mimpi?”
Kakak mengangguk, menatapku dalam linangan air matanya. “Bukankah dulu kamu selalu berkata ‘aku akan membahagiakan Ibu, apapun yang terjadi, apapun rintangannya’,” kata Kakak bergetar. “Ini salah satu rintangan yang harus kamu hadapi, Cissy. Jadi kenapa kamu harus putus asa? Kamu… masih memiliki banyak sekali mimpi, memiliki segudang tujuan hidup yang harus kamu penuhi…,”
Aku tersentak. Kata-kata Kakak begitu telak menghantamku. Ah ya… dulu aku selalu berkata begitu, ketika aku masih menjadi Cissy yang kuper, kutu buku, tapi memiliki segunung mimpi dan sesamudra harapan. Tapi… begitu melihat wajah Ibu yang letih menatapku, wajahnya yang mulai keriput dimakan usia, yang berlinang air mata menatapku begini, entah mengapa pikiranku menjadi jernih. Duhai fulan, tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa tatapan Ibu sesejuk angin di musim semi. Begitu menyegarkan dan menggetarkan, sekaligus selalu dirindukan.
Kakak benar. Aku… masih memiliki mimpi. Meski mungkin hanya satu, yaitu membahagiakan Ibu. Dengan keadaan yang kualami sekarang, jelas hal itu tidak mungkin. Aku masih belum berhasil membahagiakan beliau, malah sebaliknya. Aku menyakitinya, membuatnya sedih, kecewa, dan entah berapa banyak lagi perasaan yang membuatnya terpuruk. Aku… aku tidak akan mati sebelum berhasil mengembalikan senyumnya. Aku tidak akan mengalah pada penyakit menjijikan ini, aku akan berjuang untuk hidup, aku akan berjuang membuat Ibu bahagia meski tubuhku hanya tinggal tulang terbalut kulit seperti semua penderita AIDS yang sering kulihat di TV atau majalah. Tuhan… aku bersumpah di hadapan-Mu akan membuat wajah yang sesungguhnya selalu kurindukan dalam setiap langkah dan selalu kubawa dalam setiap untaian doa ini bahagia, tersenyum, tertawa. Tak akan ada lagi air mata selain karena bahagia, karena janjiku adalah kebahagiaan untuknya.
Aku mengusap air mataku. Kali ini aku berusaha tersenyum. Demi Ibu, dan Kakak juga. Demi keluargaku. Aku akan berjuang, meski penyakit ini tak akan pernah berhenti membunuhku pelan-pelan. Aku tak akan pernah menyerah, meski untuk selanjutnya akan lebih banyak rintangan yang menghalangi.
Ibu, aku akan terus hidup. Aku akan terus bernapas selama Tuhan masih mengizinkanku untuk menatap dunia, menatap wajah teduhmu yang selalu kurindu. Aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan sisa hidupku lagi seperti yang telah kulakukan. Aku tak akan berusaha untuk memutus napasku dengan cepat lagi. Dengan semua daya yang kumiliki, aku akan terus berjuang mewujudkan impianku. Meski tidak akan sama lagi seperti dulu, meski penyesalan begitu menyesakan, tapi lebih baik terlambat tapi tetap berusaha untuk memperbaikinya dari pada tidak sama sekali.
Karena aku masih memiliki mimpi.
Mimpi untuk membahagiakanmu, Ibu.
Tuhan, dengarlah doaku kali ini, doa dari seorang gadis yang begitu menjijikan dan hina, tetapi memiliki sejagat raya ketulusan. Bantulah aku, Tuhan. Bantulah aku untuk mewujudkan satu mimpiku, sebagai satu alasanku untuk tetap hidup, bantulah aku untuk membahagiakannya, membahagiakan wanita tua yang begitu kucintai ini, membahagiakan Ibu.
“Ibu… maafkan aku,” desahku sambil berusaha mengangkat tangan untuk mengusap air mata Ibu, tersenyum lemah. “Aku… berjanji kali ini akan memenuhi janjiku, meraih mimpiku. Aku berjanji… tak akan membuatmu memangis lagi. Aku berjanji… akan membuatmu bahagia,”
Dan pelukan itu terasa begitu erat, begitu menentramkanku. Gelap yang selanjutnya datang pun kurangkul dengan sepenuh hati, asal aku tetap bisa mencium wangi suci ini, asal aku tetap bisa merasakan pelukan hangat ini.
(a story by Nalasari Tanjung)
(Dipersembahkan untuk teman-teman yang mengalami
hal serupa Cissy. Jangan pernah menyerah karena kalian
tetap berarti. Maka teruslah hidup untuk melanjutkan mimpimu)
skip to main |
skip to sidebar
Saat kau berkata mustahil
Aku bisa menjadikannya mudah untukmu
Saat kau berkata berat untuk menjalani
Aku jadikan segalanya ringan untuk kau pikul
Saat kau berkata akan banyak kerikil tajam melukai
Ku buang semua itu dari jalanmu
Dan, saat kau berkata tak mungkin mencintaiku
Aku jadikan kau percaya
Bahwa cintaku sangat besar untuk mengikatmu di hatiku
Ku jadikan kau yakin akan cinta yang kumiliki
Hingga akhirnya kau berani untuk mencintaiku
Ku harap kau akan tetap di sini sampai nanti
Sampai dentang waktu pun tak kuasa memisahkan kita
Sayang, aku mencintaimu

Jiwaku menggelepar pilu
Terkapar perih, sayang
Hatiku terparut belati
Carut marut...
Ingin ku menggapai dirimu
Mememluk dalam setiap dekap yang mampu kuberi
Mengecupmu hingga akhir nanti
Di sisimu, selalu dan tak akan pernah pergi lagi
Namun, jauh tetap tak terjangkau
Kau masih di sana, kasih
Dan sayu aku menantimu di sini
Membayangkan kehadiranmu yang tak pernah kurengkuh
Sepi...
Tersendat jiwaku
Bersama detik yang berdetak
Tanpa kepastian
Oh kasih...
Kapan penantian panjang ini akan berakhir?
Laman
Rabu, 24 November 2010
Kalau Sudah Cinta
“Poooosss…!!” suara cempreng Pak Pos yang baru datang melengking hingga ke tetangga sebelah. Seorang gadis remaja berlari ke luar dengan lincah, membuka pagar dan melihat kiriman yang datang. Ia melompat gembira begitu mengetahui apa yang diantar Pak Pos meski belum membuka bungkusannya. Maka setelah menandatangani bukti serah terima, gadis itu langsung melesat kembali ke dalam rumah, menuju kamarnya di loteng lantai dua.
Gadis itu masuk ke dalam sebuah kamar yang sejuk dengan lantai kayu berpelitur mengilat dan menguncinya rapat-rapat. Tadi ia juga sempat celingak celinguk kiri kanan, mencoba mencari bahaya dengan radar insting yang tidak terlalu bisa diandalkan.
“Ha!” cengirannya makin lebar. Ini dia yang sudah ditunggunya dari seminggu yang lalu. Sebuah botol mungil berbentuk hati dan penutupnya berwarna pink cerah. Isinya berupa cairan kental dan berkerlap-kerlip berwarna serupa penutupnya, pink cerah. Pada labelnya tertulis besar-besar dengan huruf serupa kaligrafi indah: Ramuan Cinta Cupid. “Haaa!!”
Ia pun membuka tutup botol itu pelan-pelan, kidmat. Seperti membuka penutup lampu ajaibnya Aladdin. Seperti hendak memberikan sesajian pada dewa-dewi.
Blup-blup! Wuuussh! Sebuah asap pink menyembur dari dalam botol, diikuti dengan aroma manis dan segar. Membikin melayang siapapun yang menghirupnya. Tidak terkecuali gadis itu. Ia segera menutup botol itu kembali.
“Nah,” katanya puas. “Dengan ini aku bisa mendapatkannya!”
Semua bermula dari seminggu yang lalu, ketika gadis itu membuka katalog barang-barang sihir yang selalu diantar seekor burung hantu putih sewarna salju setiap dua minggu sekali melalui jendela kamarnya. Ia menemukan sebuah barang bagus di dalamnya. Begini penjelasannya lengkap dengan gambar barang tersebut.
Ramuan Cinta Cupid.
Ramuan ini dapat membuat orang yang Anda sukai menjadi menyukai Anda. Efeknya sangat dahsyat dan tetap akan berlaku meskipun tadinya orang tersebut membenci Anda. Cukup berikan dua sendok makan, maka ia akan langsung berlutut di bawah kaki Anda. Hanya dengan dua keping emas, maka Anda akan mendapatkan siapapun yang Anda inginkan. Note: efek ramuan hanya berlaku satu minggu. Lewat dari itu ia akan kembali pada sikap semula. Tidak dapat diberikan pada orang yang sama untuk selanjutnya.
Tentu saja Sherity, nama gadis periang itu, langsung tertarik. Inilah yang ia cari selama ini. Benar, Sherity menyukai temannya di sekolah. Tapi ironisnya, sampai detik ini hubungan mereka sangat buruk. Setiap tatap muka, bisa dipastikan mereka akan adu mulut atau paling banter pasang tampang sangar. Sherity cukup tersiksa dengan keadaan ini, tapi sungguh, sesuka apapun Sherity pada cowok itu, kalau mereka sudah bertemu pasti ujung-ujungnya ia akan jadi kesal.
Maka, dengan ditemukannya barang baru ini, bisa dipastikan semuanya akan berakhir. Ia akan mendapatkan Carl, cowok blasteran Belanda-Indonesia itu. Cowok bermata sewarna langit dengan rambut coklat kayu. Yang tatapannya tajam bagai elang, yang hanya manusia biasa seperti teman sekolahnya yang lain.
Ya benar, ini rahasia besar sebelum semuanya dijabarkan lebih rinci. Ia, Sherity Makoto, gadis berkulit coklat sehat blasteran India-Jepang-Indonesia itu, seorang penyihir. Tidak ada yang tahu, tidak juga teman-temannya di sekolah karena memang ia sekolah di sekolah manusia normal. Ia berkelakuan seperti layaknya gadis biasa, juga keluarganya. Keluarga Makoto memang keluarga penyihir, tapi mereka menyembunyikan jati diri dengan berbaur bersama masyarakat biasa. Ayahnya pemilik sebuah restoran keluarga yang cukup maju. Ibu memiliki butik di pusat kota. Sherity sendiri siswa kelas dua SMA di Bandung. Tapi di balik itu semua, ada rahasia yang tidak boleh diungkap. Bahwa sebenarnya Ayah Sherity merupakan kepala Dinas Perhubungan Sihir dan Non-Sihir yang bertugas langsung memantau kehidupan dan perkembangan komunitas Non-Penyihir agar tetap berlangsung baik tanpa terganggu kegiatan penyihir. Ayah juga bertugas mengawasi setiap penyihir–bersama bawahannya–agar tidak melanggar peraturan dengan memperihatkan diri kepada manusia biasa terlebih mengganggu mereka. Sementara Ibu merupakan salah satu guru di sebuah college sihir terkenal tempat Sherity menuntut ilmu. Begitulah, meski capek, Sherity akan sekolah di SMA non-sihir pada pagi hari, dan menuntut ilmu sihir pada malam hari.
Dan… tidak ada yang tahu akhirnya Sherity menyukai seorang non-penyihir. Nggak ada larangannya sih seorang penyihir menikah atau menjalin hubungan dengan non-penyihir. Hanya saja kalau mereka sudah terikat komitmen, hubungan yang dibentuk penyihir dan non-penyihir akan lebih sulit diputuskan karena mereka terikat secara sihir agar manusia non-penyihir tidak membocorkan rahasia adanya komunitas penyihir.
Yep, Carl, ia menyukainya. Cowok itu, yang tampan tapi nyelekit, yang pinter tapi sengak, yang suka adu jotos tapi saat bersamanya Sherity selalu merasa terlindungi.
Kesimpulannya, Sherity Makoto, menyukai Carl Hagen. Titik. Dan Ramuan Cinta Cupid ini akan membantunya mendapatkan Carl. Ha, lihat saja nanti!
Sherity menggenggam ramuan itu erat sebelum akhirnya memasukannya ke dalam tas sekolahnya. Tanpa sadar, ia meninggalkan petunjuk lainnya yang tertera dalam huruf kecil bercetak miring di label botol itu.
^^^
“Selamat pagi, Sherity,” sapa Jannie riang seperti biasa. Ia salah satu teman dekat Sherity di sekolah. Tidak terlalu dekat juga sih untuk memberitahunya bahwa Sherity seorang penyihir. “Kau terlihat ‘positif’ pagi ini,”
Oh iya, sekedar bocoran nih. Jannie ini tipe gadis yang tergila-gila pada ramalan tarot. Kantong kemejanya tidak pernah kosong dengan bundelan kartu tarot yang selalu menyembul keluar. Ia suka meramal orang lain.
Sherity nyengir kuda. “Aku kan memang selalu positif,”
“Ha!?” Jannie mengamatinya lekat-lekat. “Ada yang kau sembunyikan dariku, eh?”
“Tidak,” balas Sherity gugup. “Tapi, aku mau Tanya sesuatu,”
Jannie mengangkat alis. “Mau tanya apa?”
“Kau lihat Carl pagi ini?”
Jannie mengangkat alis. Tidak ada yang tahu Sherity menyukai Carl. Tidak juga Jannie. Tapi jangan heran kalau Jannie mencium perasaan Sherity. Dalam beberapa hal, indera perasa Jannie memang tajam. “Dia belum datang. Kau kan lihat kursinya kosong. Kosong dari orangnya, begitupun dengan tasnya. Kesimpulannya, kosong,”
“Oh, oke,” Sherity meringis. “Baiklah, bagus kalau begitu,”
“Memangnya kenapa?” Jannie heran.
“Aku sedang tidak mau melihat wajahnya,” elak Sherity.
“Huh?” jelas Jannie tidak percaya. “Kebalikannya, kali!”
“Tidak!” seru Sherity, mukanya memerah. Saat itulah Carl melangkah tegap memasuki kelas. Sherity terdiam memperhatikannya. Ah… mata sewarna langit itu. Ingin sekali ia memlikinya sendiri. Dan… rambut coklat kayu itu. Ia selalu ingin mengusapnya. Dulu ia pernah mencoba, dan rasanya memang sangat lembut dan halus. Pesona Carl memang sangat ‘wah’! Bahkan ia tampak lebih bersinar dan bikin silau ketimbang Francord Andopolf, penyihir cowok paling keren di collegenya. Makanya jangan heran Sherity menyukai Carl meskipun suka bikin kesal. Sherity tahu, meskipun sengak Carl itu baik. Apalagi kepada teman-teman lain selain dirinya. Oh baiklah, ia harus mengakui kalau kayaknya Carl hanya membencinya. Padahal kepada yang lain ia biasa saja. Menyenangkan malah. Sherity mendengus sedih, jangan-jangan Carl memang membencinya.
“Hello! Makoto-san!” Jannie menepuk pipi Sherity pelan, memanggil nama keluarganya. “Kau bengong, ya?”
Wajah Sherity makin merah. Ah, kepergok lagi deh. Kalau gini Jannie akan makin ngeh bahwa Sherity memang menyukai Carl. Uugh… Sherity bisa merasakan mukanya memanas.
^^^
Sherity menggenggam botol di tangannya. Ramuan Cinta Cupid siap digunakan.
“Eh Mbak!” Sherity langsung mencegat Mbak-Mbak penjaga kantin begitu dia lewat di depannya. “itu buat cowok yang di sana kan? (Sherity menunjuk Carl dan teman-temannya. Mbak itu mengangguk). Biar saya yang antar,”
“Yakin, Neng?” Mbak itu mengangkat alisnya nggak yakin. Sherity mengangguk pasti. “Iya deh,” Mbak itu menyerahkan nampannya. Kemudian menyebutkan pesanan mereka satu persatu. Jus jeruk buat cowok berambut jabrik dan cepak (Nanda dan Ary), Fanta buat cewek yang dikepang (Panda), dan jus buah buat cowok berambut coklat kayu (Carl).
Setelah Mbak itu pergi, Sherity membawa pesanan itu ke tempat sepi. Setelah celingak-celnguk kiri kanan, maka ia pun menuangkan dua sendok teh ramuan ke dalam jus buah pesanan Carl. Dan… Blup blup… Bush! Setelah jus buah itu menggelegak dan menyemburkan asap pink berbauh jus buah, larutan itu akhirnya menyatu dengan minuman Carl. Hmm… Sherity meringis puas.
Maka dengan lenggokan tanpa salah, ia pun menghampiri meja Carl. Terang aja Carl langsung menatapnya kaget dan curiga. “Lho, kok cewek gado-gado ini sih yang nganter pesanan?”
Sherity cemberut. “Jangan banyak Tanya. Mbaknya lagi sibuk jadi aku yang antar!” ia kemudian tersenyum ke arah Nanda, Ary, dan Panda sambil menyerahkan minuman mereka. Minuman terakhir ia serahkan pada Carl yang menatapnya curiga dari tadi. “Nih buatmu! Minum!”
Carl mengangkat alis lagi. “Yakin nggak kau kasih racun?” wajah Sherity langsung memerah. Hm… apa ramuan cinta itu termasuk racun? Carl yang melihat wajah merah Sherity salah mengartikan. Ia pikir Sherity kesal, makanya ia langsung meneguk jus buahnya dalam tegukan besar hingga menghabiskan hampir separuh jus. “Aku bercanda,”
Sherity meringis. Aha! Mari kita lihat efeknya besok pagi. Kali ini senyum Sherity merekah selebar selat Malaka! Wellcome, love!
^^^
Gubrak! Duk!
“Heh cewek Gado-gado! Kau udah mau ganti jadi warga Negara Italia atau Meksiko ya? Serudukanmu mirip sekali dengan banteng!” sembur Carl. Sherity menatapnya tidak percaya. Lho, Carl? “Apa kau liat-liat?! Ada yang aneh? Apa wajahku bengkak habis diseruduk tanduk tak terlihatmu?”
Eh? “M-maaf,” kenapa Carl masih tetap sama? Bukankah seharusnya hari ini ramuannya sudah berasa efeknya? Tapi kok cowok ini masih saja sengak padanya sih? Apa jangan-jangan ramuannya tidak bekerja, ya?
Carl merengut. Ia pun melangkah meninggalkan Sherity yang masih bengong. Lho. Lhooo!?
Kenapa sih ramuan ini? Sherity mengeluarkan botol ramuan yang sudah berkurang itu. Kok nggak ngaruh? Apa jangan-jangan ada yang salah, ya? Apa jangan-jangan dosisnya nggak sesuai? Di mana kalau untuk manusia normal memang dua sendok, tapi buat manusia model Carl yang sengaknya udah melebihi keluarga Malfoy yang terkenal itu, mungkin ia harus kasih dosis empat kai lipat lebih banyak.
“Carl!” panggil Sherity begitu memasuki kelas. Ia masih belum yakin dengan keadaan Carl. Jangan-jangan dia hanya berpura-pura untuk bikin kejutan. “Kau kenapa tiba-tiba jadi galak begitu sih?”
Carl mengangkat alisnya, heran. “Kenapa? Aku kan memang sudah seperti ini dari dulu,”
Nah lho! Tuh kan-tuh kan, ramuannya kayaknya kok nggak ngefek, ya? Dengan wajah merah Sherity langsung berbalik meninggallkan tempat duduk Carl yang masih bingung. Kenapa sih tuh cewek, pikirnya heran.
Ah! Kenapa bisa jadi begini sih? Sherity merengut sedih, menatap botol ramuannya. Ini tidak berhasil. Ia malah jadi malu karena ramuan ini. Sudah begitu menghabiskan uangnya pula. Dua keping emas kan banyak banget tuh. Tapi hasilnya malah berantakan gini. Hiks!
Sherity membuka tutup botol itu. Kemudian dengan kesal melempar isinya. Saat itu ia sedang berada di kantin yang lumayan sepi karena saat itu sedang jam pelajaran. Sherity sendiri sedang dalam pelajaran olahraga tapi gurunya nggak masuk. Makanya ia bisa mangkal di kantin dengan cover sedih pada halaman depan wajahnya.
Sherity nggak sadar tepat saat itu dua orang cowok tambun dan ceking berdandanan klimis plus kacamata kodok lewat. Maka tanpa ia sadari pula, banyak dari cipratan ramuan itu masuk ke dalam minuman mereka. Beberapa mengenai seragam mereka dan menghasilkan aroma manis yang khas. Mereka sih anehnya nggak sadar. Malah saat duduk di belakang Sherity, mereka meminumnya dengan kalap.
Well, singkat cerita, lima jam kemudian saat bel pulang baru saja berbunyi, kelas Sherity sudah heboh dengan kehadiran dua cowok ajaib dari kelas sebelah. Udin si tambun yang doyan makan dan Abra si cupu yang doyan ngutak-atik bahan-bahan di labor. Duo aneh itu lari di tempat, nggak sabaran di depan kelas. Begitu Pak Fajar ke luar, mereka langsung berlari gesit ke dalam ruangan, mengagetkan seisi kelas.
Mereka menghampiri Sherity. Dengan bungan mawar di tangan Udin, dan bunga kamboja di tangan Abra. Siapapun yakin mereka nyolong bunga itu dari taman sekolah.
“Sherity, aku cinta kamu! Maukah kau jadi pacarku?” pernyataan itu begitu kompak, begitu gamblang, begitu terbuka. Mengagetkan seisi kelas, terutama Sherity si objek cerita.
“Wah,” Jannie nyeletuk untuk pertama kalinya. “Aku nggak tahu kau punya fans angka sepuluh gini, Sher,”
Geeerr…
Seisi kelas langsung heboh. Mayoritasnya sih ngakak berat, geli. Tapi ada juga yang menatap mereka tajam, antara geram dan kasihan.
“K-kalian… k-kenapa?” Sherity kaget banget dengan perkembangan tiba-tiba itu. Tidak diharapkan! Dia kan maunya Carl yang bilang begitu dan bukannya duo bodoh ini! Ah, tangannya sudah gatal pengin ngambil tongkat sihir si dalam tasnya. Biar bisa memantrai dua orang ini, melemparnya jauh-jauh kemudian ia sendiri akan menghilang dari sana. Tapi tentu saja itu tidak ia lakukan. Karena bisa-bisa ia langsung dideportasi ke sekolah asrama yang kata Meilan, sepupu Sherity yang sekarang jadi penghuni tetap asrama gara-gara pernah nyari duit dengan mempertontonkan sihirnya di depan umum, sangat ketat dan lebih berasa di penjara ketimbang sekolahan.
“Aku menyukaimu!” kali ini Udin yang ngomong, dan langsung dipelototi Abra. “Jadilah pacarku, plis. Aku janji akan melimpahkanmu dengan segudang makanan tiap hari,”
Abra mendorong Udin–dengan kesia-siaan belaka mengingat porsi tubuh mereka berdua benar-benar kontras–kemudian merangsek maju mendekati Sherity yang sudah mengerut, terjepit antara dinding–ia memang duduk di sudut dekat dinding–dan kursi.
“Tidak, kau akan menjadi pacarku,” mata Abra berkilat menakutkan. “Ayolah, darling,”
Geeerr…
Seisi kelas kembali tertawa sementara Sherity mengkeret tidak berdaya. “Tolong, kalian kenapa sih? Kenapa jadi aneh begini? Menjauhlah dariku,” Sherity benar-benar ingin menangis dapat kejutan seperti ini. Samar-samar ia mencium bau yang sudah tidak asing lagi untuknya. Bau manis dan menyegarkan ini… ah! Jangan-jangan…
“Sayang, ayolah mendekat,” Udin menggapai, mencoba meraih Sherity dengan tangannya yang gempal. Sherity makin terjepit di tempatnya. Dengan mata membelalak lebar. Ini pasti gara-gara ramuan itu! Pikirnya yakin begitu melihat bercak pink di kemeja mereka berdua. Tidaaak!! Benar-benar kiamat untukku.
“Nggak maaauuu!” sambil menjerit begitu, ia langsung naik ke atas kursi setelah meraih tasnya, naik ke meja dan melompat sigap kembali ke bawah. Ia terlepas dari jepitan kedua makhluk sinting ini. Maka ia pun langsung kabur. “Nggaaak!!”
Udin dan Abra tidak menyerah. Mereka langsung mengejar Sherity yang air matanya sudah keluar. Panik dan takut. Nggak nyangka ramuan itu efeknya benar-benar dahsyat. “Sherity sayaaang! Tunggu Kakaaaang!” di balik teriakan menggebu yang terasa makin dekat dengannya, di balik derai tawa geli anak-anak yang melihatnya, Sherity berpikir. Kalau efeknya sekuat itu, kenapa nggak ngaruh sama Carl ya?
Sherity terus lari, lari, dan lari. Udin kayaknya udah ngos-ngosan. Sementara Abra dengan tubuh ringannya masih mengejar. Sherity bermaksud ke atas, atap bangunan sekolah yang biasanya ia jadikan tempat menyendiri atau makan bersama Jannie. Di sana sepi, dan sebelum kedua makhluk aneh itu berhasil mengejarnya, ia sudah akan menghilang.
Hahh… hahh… sedikit lagi. Sedikit lagi, Sherity sudah melihat pintu yang menghubungkan tangga dan atap. Ia menoleh ke belakang dan melihat Abra masih beberap anak tangga di bawahnya. Mungkin masih sempat kalau aku cepat, pikirnya ngeri.
Sherity sudah sampai di atap. Ia merogoh tasnya untuk mencari tongkat sihir. Tapi sebelum itu terjadi, ternyata Abra sudah ada di depan pintu, di susul Udin yang wajahnya udah merah dan biru. Ngos-ngosan.
Bego! Aku lupa menguncinya. Sherity memaki dirinya sendiri. Kalau begini, bagaimana caranya ia lolos?!
Sherity menatap pias kedua cowok itu. Aduuh… mereka makin dekat. Dan makin terlihat menyeramkan.
“Sherity sayang,” Abra sudah hampir dekat, benar-benar menjebak dirinya di antara dinding pembatas dan dia sendiri. “Kenapa kau lari sih? Aku hanya ingin kau menerima cintaku. Aku hanya ingin kau menjadi kekasihku,”
“Aku nggak mau!” seru Sherity. Ia benar-benar takut. “Pergilah, aku mau pulang!”
Abra merengut. Ia melempar bunga kambojanya. Di belakangnya Udin menyeringai seperti serigala kelaparan. Hal terburuk yang akan terjadi, terjadilah. Sherity memajamkan mata ketika wajah Abra makin mendekat ke wajahnya sementara tangannya mencengkram bahu Sherity sangat kuat. Hebat sekali efek ramuan itu. Cowok ceking penakut dan lemah ini berubah jadi kuat dan mengerikan! Tangan Sherity sudah menggenggam tongkat sihirnya di dalam tas, siap merapalkan mantra kalau mereka berbuat macam-macam.
Tapi… sedetik… dua detik… tiga detik… tidak terjadi apa-apa. Yang ia dengar hanya suara bak-buk-dug! Maka dengan takut-takut ia membuka mata, melihat keadaan.
Dan olala…! Kini ia melihat Carl berdiri di sana, menghajar Udin yang paling kuat sementara Abra udah tersungkur tak berdaya. Carl… air mata Sherity merebak lagi. Kali ini dengan napas lega.
“Jangan mendekati dia lagi!” seru Carl lantang, mengancam. Ia mendekati Sherity yang gemetaran.
“Kenapa?!” balas Abra sengit. “Kau bukan siapa-siapanya. Kau kan selalu bertengkar dengan Sheri-ku!”
Carl mengangkat alis, sengak. Kini ia malah merangkul Sherity erat, menenangkannya. “Oh ya? Wah… kau tidak tahu ya?” senyum itu terukir jelas. “Dia milikku, dia Sheri-ku, bukan Sheri-mu!”
Dan cuph! Carl menciumnya, hanya sebentar, tapi itu sanggup membuat Abra dan Udin terpaku, sanggup membuat mereka terkulai lemas dan… wuussh!! Mengeluarkan asap coklat dari pori-pori mereka dan akhirnya… pingsan!
“Carl?” hanya itu yang sanggup ia ucapkan. “Kau…,”
Carl meringis. Wajahnya memerah. Nggak sadar kalau Udin dan Abra sudah terkapar tak jauh dari mereka. “Well, Sherity, begini…,” ia menarik napas. Kemudian mengangkat dagu Sherity, mengusap air matanya, dan menatapnya dalam. “Aku menyukaimu. Aku… menyayangimu, dari dulu,”
“Hah?” ini beneran? Sherity membelalak tidak percaya. Apa jangan-jangan obatnya lelet bereaksi ya? Tapi nggak kok, buktinya tadi Abra dan Udin langsung ngefek kok, dan itu hanya dalam waktu lima jam. Lah kalau Carl kan sudah diberinya sejak kemarin, masa sih baru ngefek sekarang? Nggak mungkin banget. “Lalu kenapa kau selalu membuatku sebal kalau memang menyukaiku?”
Carl berdeham. “Karena aku tidak tahu cara mengungkapkan perasaan ini. Aku selalu malu bila berdekatan denganmu, makanya tanpa sadar aku jadi dingin kalau di dekatmu. Aku tahu aku menyebalkan, dan aku benci itu. Maafkan aku, Sherity,”
Kali ini Sherity benar-benar tidak yakin. Ini… mendengar suara Carl membuatnya yakin kalau ini nyata dan bukan hasil rekayasa sihir atau ramuan.
“Sherity Makoto, aku, Carl Hagen, menyukaimu. Maukah kau menjadi pasanganku?”
Dug dug dug. Ih, ini mimpi bukan? Tapi begitu melihat mata Carl yang memancarkan kesungguhan, tidak seperti mata kedua cowok gila tadi yang terpengaruh ramuan sehingga menyebabkan pandangan mereka tidak fokus dan hampa, mata Carl bercahaya dan hidup. Berbinar seperti langit di atasnya yang sangat cerah.
Senyum Sherity merekah. Ah… siapapun pasti akan langsung tahu dia akan jawab apa. “Ya, aku… aku mau,”
Merasakan pelukan erat Carl, membuatnya merasa bodoh. Bodoh karena percaya pada ramuan. Karena, kalau sudah cinta kan tanpa ramuan pun semuanya akan tetap mengalir normal. Cinta akan tetap terungkapkan, dengan atau tanpa bantuan sihir dan obat.
Penting: Obat ini tidak akan bereaksi pada seseorang yang mencintai Anda dengan tulus. Malah akan semakin meyakinkan dia bahwa cintanya memang benar terhadap Anda. Nah, selamat mencoba!
^^^
Gadis itu masuk ke dalam sebuah kamar yang sejuk dengan lantai kayu berpelitur mengilat dan menguncinya rapat-rapat. Tadi ia juga sempat celingak celinguk kiri kanan, mencoba mencari bahaya dengan radar insting yang tidak terlalu bisa diandalkan.
“Ha!” cengirannya makin lebar. Ini dia yang sudah ditunggunya dari seminggu yang lalu. Sebuah botol mungil berbentuk hati dan penutupnya berwarna pink cerah. Isinya berupa cairan kental dan berkerlap-kerlip berwarna serupa penutupnya, pink cerah. Pada labelnya tertulis besar-besar dengan huruf serupa kaligrafi indah: Ramuan Cinta Cupid. “Haaa!!”
Ia pun membuka tutup botol itu pelan-pelan, kidmat. Seperti membuka penutup lampu ajaibnya Aladdin. Seperti hendak memberikan sesajian pada dewa-dewi.
Blup-blup! Wuuussh! Sebuah asap pink menyembur dari dalam botol, diikuti dengan aroma manis dan segar. Membikin melayang siapapun yang menghirupnya. Tidak terkecuali gadis itu. Ia segera menutup botol itu kembali.
“Nah,” katanya puas. “Dengan ini aku bisa mendapatkannya!”
Semua bermula dari seminggu yang lalu, ketika gadis itu membuka katalog barang-barang sihir yang selalu diantar seekor burung hantu putih sewarna salju setiap dua minggu sekali melalui jendela kamarnya. Ia menemukan sebuah barang bagus di dalamnya. Begini penjelasannya lengkap dengan gambar barang tersebut.
Ramuan Cinta Cupid.
Ramuan ini dapat membuat orang yang Anda sukai menjadi menyukai Anda. Efeknya sangat dahsyat dan tetap akan berlaku meskipun tadinya orang tersebut membenci Anda. Cukup berikan dua sendok makan, maka ia akan langsung berlutut di bawah kaki Anda. Hanya dengan dua keping emas, maka Anda akan mendapatkan siapapun yang Anda inginkan. Note: efek ramuan hanya berlaku satu minggu. Lewat dari itu ia akan kembali pada sikap semula. Tidak dapat diberikan pada orang yang sama untuk selanjutnya.
Tentu saja Sherity, nama gadis periang itu, langsung tertarik. Inilah yang ia cari selama ini. Benar, Sherity menyukai temannya di sekolah. Tapi ironisnya, sampai detik ini hubungan mereka sangat buruk. Setiap tatap muka, bisa dipastikan mereka akan adu mulut atau paling banter pasang tampang sangar. Sherity cukup tersiksa dengan keadaan ini, tapi sungguh, sesuka apapun Sherity pada cowok itu, kalau mereka sudah bertemu pasti ujung-ujungnya ia akan jadi kesal.
Maka, dengan ditemukannya barang baru ini, bisa dipastikan semuanya akan berakhir. Ia akan mendapatkan Carl, cowok blasteran Belanda-Indonesia itu. Cowok bermata sewarna langit dengan rambut coklat kayu. Yang tatapannya tajam bagai elang, yang hanya manusia biasa seperti teman sekolahnya yang lain.
Ya benar, ini rahasia besar sebelum semuanya dijabarkan lebih rinci. Ia, Sherity Makoto, gadis berkulit coklat sehat blasteran India-Jepang-Indonesia itu, seorang penyihir. Tidak ada yang tahu, tidak juga teman-temannya di sekolah karena memang ia sekolah di sekolah manusia normal. Ia berkelakuan seperti layaknya gadis biasa, juga keluarganya. Keluarga Makoto memang keluarga penyihir, tapi mereka menyembunyikan jati diri dengan berbaur bersama masyarakat biasa. Ayahnya pemilik sebuah restoran keluarga yang cukup maju. Ibu memiliki butik di pusat kota. Sherity sendiri siswa kelas dua SMA di Bandung. Tapi di balik itu semua, ada rahasia yang tidak boleh diungkap. Bahwa sebenarnya Ayah Sherity merupakan kepala Dinas Perhubungan Sihir dan Non-Sihir yang bertugas langsung memantau kehidupan dan perkembangan komunitas Non-Penyihir agar tetap berlangsung baik tanpa terganggu kegiatan penyihir. Ayah juga bertugas mengawasi setiap penyihir–bersama bawahannya–agar tidak melanggar peraturan dengan memperihatkan diri kepada manusia biasa terlebih mengganggu mereka. Sementara Ibu merupakan salah satu guru di sebuah college sihir terkenal tempat Sherity menuntut ilmu. Begitulah, meski capek, Sherity akan sekolah di SMA non-sihir pada pagi hari, dan menuntut ilmu sihir pada malam hari.
Dan… tidak ada yang tahu akhirnya Sherity menyukai seorang non-penyihir. Nggak ada larangannya sih seorang penyihir menikah atau menjalin hubungan dengan non-penyihir. Hanya saja kalau mereka sudah terikat komitmen, hubungan yang dibentuk penyihir dan non-penyihir akan lebih sulit diputuskan karena mereka terikat secara sihir agar manusia non-penyihir tidak membocorkan rahasia adanya komunitas penyihir.
Yep, Carl, ia menyukainya. Cowok itu, yang tampan tapi nyelekit, yang pinter tapi sengak, yang suka adu jotos tapi saat bersamanya Sherity selalu merasa terlindungi.
Kesimpulannya, Sherity Makoto, menyukai Carl Hagen. Titik. Dan Ramuan Cinta Cupid ini akan membantunya mendapatkan Carl. Ha, lihat saja nanti!
Sherity menggenggam ramuan itu erat sebelum akhirnya memasukannya ke dalam tas sekolahnya. Tanpa sadar, ia meninggalkan petunjuk lainnya yang tertera dalam huruf kecil bercetak miring di label botol itu.
^^^
“Selamat pagi, Sherity,” sapa Jannie riang seperti biasa. Ia salah satu teman dekat Sherity di sekolah. Tidak terlalu dekat juga sih untuk memberitahunya bahwa Sherity seorang penyihir. “Kau terlihat ‘positif’ pagi ini,”
Oh iya, sekedar bocoran nih. Jannie ini tipe gadis yang tergila-gila pada ramalan tarot. Kantong kemejanya tidak pernah kosong dengan bundelan kartu tarot yang selalu menyembul keluar. Ia suka meramal orang lain.
Sherity nyengir kuda. “Aku kan memang selalu positif,”
“Ha!?” Jannie mengamatinya lekat-lekat. “Ada yang kau sembunyikan dariku, eh?”
“Tidak,” balas Sherity gugup. “Tapi, aku mau Tanya sesuatu,”
Jannie mengangkat alis. “Mau tanya apa?”
“Kau lihat Carl pagi ini?”
Jannie mengangkat alis. Tidak ada yang tahu Sherity menyukai Carl. Tidak juga Jannie. Tapi jangan heran kalau Jannie mencium perasaan Sherity. Dalam beberapa hal, indera perasa Jannie memang tajam. “Dia belum datang. Kau kan lihat kursinya kosong. Kosong dari orangnya, begitupun dengan tasnya. Kesimpulannya, kosong,”
“Oh, oke,” Sherity meringis. “Baiklah, bagus kalau begitu,”
“Memangnya kenapa?” Jannie heran.
“Aku sedang tidak mau melihat wajahnya,” elak Sherity.
“Huh?” jelas Jannie tidak percaya. “Kebalikannya, kali!”
“Tidak!” seru Sherity, mukanya memerah. Saat itulah Carl melangkah tegap memasuki kelas. Sherity terdiam memperhatikannya. Ah… mata sewarna langit itu. Ingin sekali ia memlikinya sendiri. Dan… rambut coklat kayu itu. Ia selalu ingin mengusapnya. Dulu ia pernah mencoba, dan rasanya memang sangat lembut dan halus. Pesona Carl memang sangat ‘wah’! Bahkan ia tampak lebih bersinar dan bikin silau ketimbang Francord Andopolf, penyihir cowok paling keren di collegenya. Makanya jangan heran Sherity menyukai Carl meskipun suka bikin kesal. Sherity tahu, meskipun sengak Carl itu baik. Apalagi kepada teman-teman lain selain dirinya. Oh baiklah, ia harus mengakui kalau kayaknya Carl hanya membencinya. Padahal kepada yang lain ia biasa saja. Menyenangkan malah. Sherity mendengus sedih, jangan-jangan Carl memang membencinya.
“Hello! Makoto-san!” Jannie menepuk pipi Sherity pelan, memanggil nama keluarganya. “Kau bengong, ya?”
Wajah Sherity makin merah. Ah, kepergok lagi deh. Kalau gini Jannie akan makin ngeh bahwa Sherity memang menyukai Carl. Uugh… Sherity bisa merasakan mukanya memanas.
^^^
Sherity menggenggam botol di tangannya. Ramuan Cinta Cupid siap digunakan.
“Eh Mbak!” Sherity langsung mencegat Mbak-Mbak penjaga kantin begitu dia lewat di depannya. “itu buat cowok yang di sana kan? (Sherity menunjuk Carl dan teman-temannya. Mbak itu mengangguk). Biar saya yang antar,”
“Yakin, Neng?” Mbak itu mengangkat alisnya nggak yakin. Sherity mengangguk pasti. “Iya deh,” Mbak itu menyerahkan nampannya. Kemudian menyebutkan pesanan mereka satu persatu. Jus jeruk buat cowok berambut jabrik dan cepak (Nanda dan Ary), Fanta buat cewek yang dikepang (Panda), dan jus buah buat cowok berambut coklat kayu (Carl).
Setelah Mbak itu pergi, Sherity membawa pesanan itu ke tempat sepi. Setelah celingak-celnguk kiri kanan, maka ia pun menuangkan dua sendok teh ramuan ke dalam jus buah pesanan Carl. Dan… Blup blup… Bush! Setelah jus buah itu menggelegak dan menyemburkan asap pink berbauh jus buah, larutan itu akhirnya menyatu dengan minuman Carl. Hmm… Sherity meringis puas.
Maka dengan lenggokan tanpa salah, ia pun menghampiri meja Carl. Terang aja Carl langsung menatapnya kaget dan curiga. “Lho, kok cewek gado-gado ini sih yang nganter pesanan?”
Sherity cemberut. “Jangan banyak Tanya. Mbaknya lagi sibuk jadi aku yang antar!” ia kemudian tersenyum ke arah Nanda, Ary, dan Panda sambil menyerahkan minuman mereka. Minuman terakhir ia serahkan pada Carl yang menatapnya curiga dari tadi. “Nih buatmu! Minum!”
Carl mengangkat alis lagi. “Yakin nggak kau kasih racun?” wajah Sherity langsung memerah. Hm… apa ramuan cinta itu termasuk racun? Carl yang melihat wajah merah Sherity salah mengartikan. Ia pikir Sherity kesal, makanya ia langsung meneguk jus buahnya dalam tegukan besar hingga menghabiskan hampir separuh jus. “Aku bercanda,”
Sherity meringis. Aha! Mari kita lihat efeknya besok pagi. Kali ini senyum Sherity merekah selebar selat Malaka! Wellcome, love!
^^^
Gubrak! Duk!
“Heh cewek Gado-gado! Kau udah mau ganti jadi warga Negara Italia atau Meksiko ya? Serudukanmu mirip sekali dengan banteng!” sembur Carl. Sherity menatapnya tidak percaya. Lho, Carl? “Apa kau liat-liat?! Ada yang aneh? Apa wajahku bengkak habis diseruduk tanduk tak terlihatmu?”
Eh? “M-maaf,” kenapa Carl masih tetap sama? Bukankah seharusnya hari ini ramuannya sudah berasa efeknya? Tapi kok cowok ini masih saja sengak padanya sih? Apa jangan-jangan ramuannya tidak bekerja, ya?
Carl merengut. Ia pun melangkah meninggalkan Sherity yang masih bengong. Lho. Lhooo!?
Kenapa sih ramuan ini? Sherity mengeluarkan botol ramuan yang sudah berkurang itu. Kok nggak ngaruh? Apa jangan-jangan ada yang salah, ya? Apa jangan-jangan dosisnya nggak sesuai? Di mana kalau untuk manusia normal memang dua sendok, tapi buat manusia model Carl yang sengaknya udah melebihi keluarga Malfoy yang terkenal itu, mungkin ia harus kasih dosis empat kai lipat lebih banyak.
“Carl!” panggil Sherity begitu memasuki kelas. Ia masih belum yakin dengan keadaan Carl. Jangan-jangan dia hanya berpura-pura untuk bikin kejutan. “Kau kenapa tiba-tiba jadi galak begitu sih?”
Carl mengangkat alisnya, heran. “Kenapa? Aku kan memang sudah seperti ini dari dulu,”
Nah lho! Tuh kan-tuh kan, ramuannya kayaknya kok nggak ngefek, ya? Dengan wajah merah Sherity langsung berbalik meninggallkan tempat duduk Carl yang masih bingung. Kenapa sih tuh cewek, pikirnya heran.
Ah! Kenapa bisa jadi begini sih? Sherity merengut sedih, menatap botol ramuannya. Ini tidak berhasil. Ia malah jadi malu karena ramuan ini. Sudah begitu menghabiskan uangnya pula. Dua keping emas kan banyak banget tuh. Tapi hasilnya malah berantakan gini. Hiks!
Sherity membuka tutup botol itu. Kemudian dengan kesal melempar isinya. Saat itu ia sedang berada di kantin yang lumayan sepi karena saat itu sedang jam pelajaran. Sherity sendiri sedang dalam pelajaran olahraga tapi gurunya nggak masuk. Makanya ia bisa mangkal di kantin dengan cover sedih pada halaman depan wajahnya.
Sherity nggak sadar tepat saat itu dua orang cowok tambun dan ceking berdandanan klimis plus kacamata kodok lewat. Maka tanpa ia sadari pula, banyak dari cipratan ramuan itu masuk ke dalam minuman mereka. Beberapa mengenai seragam mereka dan menghasilkan aroma manis yang khas. Mereka sih anehnya nggak sadar. Malah saat duduk di belakang Sherity, mereka meminumnya dengan kalap.
Well, singkat cerita, lima jam kemudian saat bel pulang baru saja berbunyi, kelas Sherity sudah heboh dengan kehadiran dua cowok ajaib dari kelas sebelah. Udin si tambun yang doyan makan dan Abra si cupu yang doyan ngutak-atik bahan-bahan di labor. Duo aneh itu lari di tempat, nggak sabaran di depan kelas. Begitu Pak Fajar ke luar, mereka langsung berlari gesit ke dalam ruangan, mengagetkan seisi kelas.
Mereka menghampiri Sherity. Dengan bungan mawar di tangan Udin, dan bunga kamboja di tangan Abra. Siapapun yakin mereka nyolong bunga itu dari taman sekolah.
“Sherity, aku cinta kamu! Maukah kau jadi pacarku?” pernyataan itu begitu kompak, begitu gamblang, begitu terbuka. Mengagetkan seisi kelas, terutama Sherity si objek cerita.
“Wah,” Jannie nyeletuk untuk pertama kalinya. “Aku nggak tahu kau punya fans angka sepuluh gini, Sher,”
Geeerr…
Seisi kelas langsung heboh. Mayoritasnya sih ngakak berat, geli. Tapi ada juga yang menatap mereka tajam, antara geram dan kasihan.
“K-kalian… k-kenapa?” Sherity kaget banget dengan perkembangan tiba-tiba itu. Tidak diharapkan! Dia kan maunya Carl yang bilang begitu dan bukannya duo bodoh ini! Ah, tangannya sudah gatal pengin ngambil tongkat sihir si dalam tasnya. Biar bisa memantrai dua orang ini, melemparnya jauh-jauh kemudian ia sendiri akan menghilang dari sana. Tapi tentu saja itu tidak ia lakukan. Karena bisa-bisa ia langsung dideportasi ke sekolah asrama yang kata Meilan, sepupu Sherity yang sekarang jadi penghuni tetap asrama gara-gara pernah nyari duit dengan mempertontonkan sihirnya di depan umum, sangat ketat dan lebih berasa di penjara ketimbang sekolahan.
“Aku menyukaimu!” kali ini Udin yang ngomong, dan langsung dipelototi Abra. “Jadilah pacarku, plis. Aku janji akan melimpahkanmu dengan segudang makanan tiap hari,”
Abra mendorong Udin–dengan kesia-siaan belaka mengingat porsi tubuh mereka berdua benar-benar kontras–kemudian merangsek maju mendekati Sherity yang sudah mengerut, terjepit antara dinding–ia memang duduk di sudut dekat dinding–dan kursi.
“Tidak, kau akan menjadi pacarku,” mata Abra berkilat menakutkan. “Ayolah, darling,”
Geeerr…
Seisi kelas kembali tertawa sementara Sherity mengkeret tidak berdaya. “Tolong, kalian kenapa sih? Kenapa jadi aneh begini? Menjauhlah dariku,” Sherity benar-benar ingin menangis dapat kejutan seperti ini. Samar-samar ia mencium bau yang sudah tidak asing lagi untuknya. Bau manis dan menyegarkan ini… ah! Jangan-jangan…
“Sayang, ayolah mendekat,” Udin menggapai, mencoba meraih Sherity dengan tangannya yang gempal. Sherity makin terjepit di tempatnya. Dengan mata membelalak lebar. Ini pasti gara-gara ramuan itu! Pikirnya yakin begitu melihat bercak pink di kemeja mereka berdua. Tidaaak!! Benar-benar kiamat untukku.
“Nggak maaauuu!” sambil menjerit begitu, ia langsung naik ke atas kursi setelah meraih tasnya, naik ke meja dan melompat sigap kembali ke bawah. Ia terlepas dari jepitan kedua makhluk sinting ini. Maka ia pun langsung kabur. “Nggaaak!!”
Udin dan Abra tidak menyerah. Mereka langsung mengejar Sherity yang air matanya sudah keluar. Panik dan takut. Nggak nyangka ramuan itu efeknya benar-benar dahsyat. “Sherity sayaaang! Tunggu Kakaaaang!” di balik teriakan menggebu yang terasa makin dekat dengannya, di balik derai tawa geli anak-anak yang melihatnya, Sherity berpikir. Kalau efeknya sekuat itu, kenapa nggak ngaruh sama Carl ya?
Sherity terus lari, lari, dan lari. Udin kayaknya udah ngos-ngosan. Sementara Abra dengan tubuh ringannya masih mengejar. Sherity bermaksud ke atas, atap bangunan sekolah yang biasanya ia jadikan tempat menyendiri atau makan bersama Jannie. Di sana sepi, dan sebelum kedua makhluk aneh itu berhasil mengejarnya, ia sudah akan menghilang.
Hahh… hahh… sedikit lagi. Sedikit lagi, Sherity sudah melihat pintu yang menghubungkan tangga dan atap. Ia menoleh ke belakang dan melihat Abra masih beberap anak tangga di bawahnya. Mungkin masih sempat kalau aku cepat, pikirnya ngeri.
Sherity sudah sampai di atap. Ia merogoh tasnya untuk mencari tongkat sihir. Tapi sebelum itu terjadi, ternyata Abra sudah ada di depan pintu, di susul Udin yang wajahnya udah merah dan biru. Ngos-ngosan.
Bego! Aku lupa menguncinya. Sherity memaki dirinya sendiri. Kalau begini, bagaimana caranya ia lolos?!
Sherity menatap pias kedua cowok itu. Aduuh… mereka makin dekat. Dan makin terlihat menyeramkan.
“Sherity sayang,” Abra sudah hampir dekat, benar-benar menjebak dirinya di antara dinding pembatas dan dia sendiri. “Kenapa kau lari sih? Aku hanya ingin kau menerima cintaku. Aku hanya ingin kau menjadi kekasihku,”
“Aku nggak mau!” seru Sherity. Ia benar-benar takut. “Pergilah, aku mau pulang!”
Abra merengut. Ia melempar bunga kambojanya. Di belakangnya Udin menyeringai seperti serigala kelaparan. Hal terburuk yang akan terjadi, terjadilah. Sherity memajamkan mata ketika wajah Abra makin mendekat ke wajahnya sementara tangannya mencengkram bahu Sherity sangat kuat. Hebat sekali efek ramuan itu. Cowok ceking penakut dan lemah ini berubah jadi kuat dan mengerikan! Tangan Sherity sudah menggenggam tongkat sihirnya di dalam tas, siap merapalkan mantra kalau mereka berbuat macam-macam.
Tapi… sedetik… dua detik… tiga detik… tidak terjadi apa-apa. Yang ia dengar hanya suara bak-buk-dug! Maka dengan takut-takut ia membuka mata, melihat keadaan.
Dan olala…! Kini ia melihat Carl berdiri di sana, menghajar Udin yang paling kuat sementara Abra udah tersungkur tak berdaya. Carl… air mata Sherity merebak lagi. Kali ini dengan napas lega.
“Jangan mendekati dia lagi!” seru Carl lantang, mengancam. Ia mendekati Sherity yang gemetaran.
“Kenapa?!” balas Abra sengit. “Kau bukan siapa-siapanya. Kau kan selalu bertengkar dengan Sheri-ku!”
Carl mengangkat alis, sengak. Kini ia malah merangkul Sherity erat, menenangkannya. “Oh ya? Wah… kau tidak tahu ya?” senyum itu terukir jelas. “Dia milikku, dia Sheri-ku, bukan Sheri-mu!”
Dan cuph! Carl menciumnya, hanya sebentar, tapi itu sanggup membuat Abra dan Udin terpaku, sanggup membuat mereka terkulai lemas dan… wuussh!! Mengeluarkan asap coklat dari pori-pori mereka dan akhirnya… pingsan!
“Carl?” hanya itu yang sanggup ia ucapkan. “Kau…,”
Carl meringis. Wajahnya memerah. Nggak sadar kalau Udin dan Abra sudah terkapar tak jauh dari mereka. “Well, Sherity, begini…,” ia menarik napas. Kemudian mengangkat dagu Sherity, mengusap air matanya, dan menatapnya dalam. “Aku menyukaimu. Aku… menyayangimu, dari dulu,”
“Hah?” ini beneran? Sherity membelalak tidak percaya. Apa jangan-jangan obatnya lelet bereaksi ya? Tapi nggak kok, buktinya tadi Abra dan Udin langsung ngefek kok, dan itu hanya dalam waktu lima jam. Lah kalau Carl kan sudah diberinya sejak kemarin, masa sih baru ngefek sekarang? Nggak mungkin banget. “Lalu kenapa kau selalu membuatku sebal kalau memang menyukaiku?”
Carl berdeham. “Karena aku tidak tahu cara mengungkapkan perasaan ini. Aku selalu malu bila berdekatan denganmu, makanya tanpa sadar aku jadi dingin kalau di dekatmu. Aku tahu aku menyebalkan, dan aku benci itu. Maafkan aku, Sherity,”
Kali ini Sherity benar-benar tidak yakin. Ini… mendengar suara Carl membuatnya yakin kalau ini nyata dan bukan hasil rekayasa sihir atau ramuan.
“Sherity Makoto, aku, Carl Hagen, menyukaimu. Maukah kau menjadi pasanganku?”
Dug dug dug. Ih, ini mimpi bukan? Tapi begitu melihat mata Carl yang memancarkan kesungguhan, tidak seperti mata kedua cowok gila tadi yang terpengaruh ramuan sehingga menyebabkan pandangan mereka tidak fokus dan hampa, mata Carl bercahaya dan hidup. Berbinar seperti langit di atasnya yang sangat cerah.
Senyum Sherity merekah. Ah… siapapun pasti akan langsung tahu dia akan jawab apa. “Ya, aku… aku mau,”
Merasakan pelukan erat Carl, membuatnya merasa bodoh. Bodoh karena percaya pada ramuan. Karena, kalau sudah cinta kan tanpa ramuan pun semuanya akan tetap mengalir normal. Cinta akan tetap terungkapkan, dengan atau tanpa bantuan sihir dan obat.
Penting: Obat ini tidak akan bereaksi pada seseorang yang mencintai Anda dengan tulus. Malah akan semakin meyakinkan dia bahwa cintanya memang benar terhadap Anda. Nah, selamat mencoba!
^^^
Kamis, 23 September 2010
Surat Untuk Sahabat yang Telah Pergi
Dear sahabatku,
ingatkah dulu ketika pertama berjumpa?
Ada masa penuh tawa yang terajut dalam hangatnya kebersamaan.
Ada celoteh bahagia yang tertoreh dalam bingkai indah kenangan.
Ada tangis rindu menyertai setiap detik yang berlalu.
Namun,
yang kulihat kini hanya pertikaian dan perselisihan.
Hanya ada tangis dan duka.
Hanya ada kesedihan, amarah, kekecewaan
Benarkah telah hilang masa yang lalu?
Benarkah tak dapat terajut lagi kenangan baru?
Benarkah semua telah berakhir?
Padahal dulu ada janji yang selalu terucap seperti rapalan mantra,
"kita akan tetap bersama selamanya sampai mati"
Jika ini yang terjadi, sahabat
Yang mampu kulakukan hanya menatap kepergianmu
Taukah kau, aku tak lagi mampu mempertahankan langkahmu yang menjauh
Tak lagi kubisa memintamu untuk tetap tinggal
Meski selalu kugemakan kata "jangan pergi", kau tetap bergerak.
Menghadapkan punggungmu padaku dan menjauh
Hingga sahabat,
Tak lagi dapat tangan ini meraihmu
Tak mampu lagi jemari ini menggenggammu
Duhai sahabat,
Taukah kau apa yang telah kulakukan demi memintamu untuk tetap tinggal disini?
Demi memelihara janji dan kebersamaan kita
Sampai ku pertaruhkan jiwaku
Keselamatan dan harga diri
Tapi, apa kau melihat itu?
TIDAK!!
Karena bagimu, aku hanya masa lalu.
Karena untukmu, tak lagi pantas persahabatan kita ada
Salahkah aku, sahabatku?
Ketika yang kuminta hanyalah derai tawa.
Ketika yang kumau hanya kepedulianmu lagi
Hanya kau, sebagai sahabatku
Salahkah aku, sahabatku?
Jika kini hatiku merintih dalam luka baru.
Bukan hanya karena kehilangan cinta, tapi juga kehilangan sahabat
Sahabatku,
Jika kepergian akan membawamu bahagia,
Maka aku akan tetap disini meski sendiri
Jika keberadaanku mengganggumu,
Maka aku akan menghilang dari pandanganmu
Jika aku tak lagi cukup berarti untukmu,
Maka aku pun akan pergi
Kupastikan kau tak kan lagi menjumpaiku
Disini, dalam kesendirian yang menyakiti
Aku hanya bisa mendoakanmu
Demi dirimu dan kebahagiaanmu
Karena tawamu, tetap adalah tawaku selamanya.
Karena dukamu, tetap air mataku sampai kapan pun..
ingatkah dulu ketika pertama berjumpa?
Ada masa penuh tawa yang terajut dalam hangatnya kebersamaan.
Ada celoteh bahagia yang tertoreh dalam bingkai indah kenangan.
Ada tangis rindu menyertai setiap detik yang berlalu.
Namun,
yang kulihat kini hanya pertikaian dan perselisihan.
Hanya ada tangis dan duka.
Hanya ada kesedihan, amarah, kekecewaan
Benarkah telah hilang masa yang lalu?
Benarkah tak dapat terajut lagi kenangan baru?
Benarkah semua telah berakhir?
Padahal dulu ada janji yang selalu terucap seperti rapalan mantra,
"kita akan tetap bersama selamanya sampai mati"
Jika ini yang terjadi, sahabat
Yang mampu kulakukan hanya menatap kepergianmu
Taukah kau, aku tak lagi mampu mempertahankan langkahmu yang menjauh
Tak lagi kubisa memintamu untuk tetap tinggal
Meski selalu kugemakan kata "jangan pergi", kau tetap bergerak.
Menghadapkan punggungmu padaku dan menjauh
Hingga sahabat,
Tak lagi dapat tangan ini meraihmu
Tak mampu lagi jemari ini menggenggammu
Duhai sahabat,
Taukah kau apa yang telah kulakukan demi memintamu untuk tetap tinggal disini?
Demi memelihara janji dan kebersamaan kita
Sampai ku pertaruhkan jiwaku
Keselamatan dan harga diri
Tapi, apa kau melihat itu?
TIDAK!!
Karena bagimu, aku hanya masa lalu.
Karena untukmu, tak lagi pantas persahabatan kita ada
Salahkah aku, sahabatku?
Ketika yang kuminta hanyalah derai tawa.
Ketika yang kumau hanya kepedulianmu lagi
Hanya kau, sebagai sahabatku
Salahkah aku, sahabatku?
Jika kini hatiku merintih dalam luka baru.
Bukan hanya karena kehilangan cinta, tapi juga kehilangan sahabat
Sahabatku,
Jika kepergian akan membawamu bahagia,
Maka aku akan tetap disini meski sendiri
Jika keberadaanku mengganggumu,
Maka aku akan menghilang dari pandanganmu
Jika aku tak lagi cukup berarti untukmu,
Maka aku pun akan pergi
Kupastikan kau tak kan lagi menjumpaiku
Disini, dalam kesendirian yang menyakiti
Aku hanya bisa mendoakanmu
Demi dirimu dan kebahagiaanmu
Karena tawamu, tetap adalah tawaku selamanya.
Karena dukamu, tetap air mataku sampai kapan pun..
Senin, 20 September 2010
Sahabat = Zero
Sahabat? Apa itu sahabat? Orang-orang bilang, sahabat adalah teman setia yang selalu menemanimu sampai kapanpun, kapanpun yang kamu mau. Saat senang dan susah, sedih dan bahagia. Yang selalu berusaha sekuat tenaga melindungi dan menjagamu.
Tapi benarkah begitu? Aku tidak lagi percaya.
Dulu, aku pernah punya sahabat. Satu-satunya sahabat yang akhirnya kupunya setelah tujuh belas tahun kehidupanku saat itu. Benar, akhirnya aku punya sahabat setelah aku berumur tujuh belas, hanya selang beberapa hari setelah ulang tahunku. Aku sangat, sangat, sangat bahagia. Bagiku, dia adalah kado terindah yang pernah kumiliki. Darinya aku mengenal persahabatan, yang tadinya hanya kuimpikan dalam setiap angan berujung mimpi, yang hanya mampu kugoreskan dalam setiap kata yang teruntai dalam baris doa.
Memang, dia jauh. Tak mampu kujangkau atau kuraih. Jauh dari pelupuk mata ini, akan tetapi setap waktu yang kulalui, rasanya ia seperti berada di sisi, dalam setiap langkah yang kuatur.
Ada janji setia, sumpah yang berarti selamanya. Bahwa akan tetap selamanya seperti ini, bersahabat sampai kakek nenek, bahkan sampai mati. Yang saling berjanji akan melindungi satu sama lain, berucap sayang dengan ketulusan yang mampu membuatku meneteskan air mata haru. Ya, aku punya sahabat.
Akan tetapi, karena suatu hal yang berlanjut pada hubungan yang sangat kuselali akhirnya, membawaku menyadari, bahwa apa yang kumiliki selama ini ternyata hanya mimpi. Membuatku mengetahui bahwa ternyata sesungguhnya aku memang hanya sendiri.
Tidak pernah ada sahabat sejati, atau kekasih sejati. Sahabat, kata yang sangat diagungkannya, katanya, yang bisa dibelanya mati-matian, yang katanya ingin ia lindungi bahkan meski ia harus mengorbankan nyawa, bagiku akhirnya hanya sekedar isapan jempol belaka. Hanya sekadar omong kosong yang membawaku bermimpi terlalu tinggi, lalu jatuh dengan hempasan paling keras dan paling menghancurkan.
Sahabatkah itu namanya, ketika akhirnya yang ia berikan hanya kesakitan dan perih. Sahabatkah itu namanya, ketika aku hendak pergi karena tidak tahan, dia tak pernah mneyuruhku berhenti dan tetap tinggal. Sahabatkah itu namanya, ketika hanya sekali dua kali menjelaskan dan masih tidak mampu membuatku mengerti tentang arti sesuatu ia langsung menyerah dan menghujatku. Sahabatkah itu namanya, ketika janji yang ia rangkai dan menerbangkan nyatanya hanya sekedar ucapan pemanis kata. Sahabatkah itu namanya, ketika ia berulang kali membohongi dan berkhianat. Sahabatkah itu namanya, yang selalu membuat sakit, sangat sakit.
Akhirnya, aku menyadari bahwa tidak pernah ada sahabat sejati di dunia ini. Bahwa sesungguhnya, sahabat hanya suatu pemanis dalam tiap hubungan bernama pertemanan. Aku sadar, akhirnya, setelah tertidur panjang dalam buaian mimpi semu, terbangun dan tersentak, bahwa sesungguhnya, aku selamanya memang sendiri.
Seharusnya aku sudah tahu dari dulu, bahwa dalam tiap tangis dan duka, yang bisa kuandalkan hanya dirku sendiri dan Tuhan. Seharusnya aku menyadari, aku tidak bisa minta bantuan siapapun meski itu hanya untuk sekadar menghibur. Seharusnya aku sadar dari dulu, bahwa yang mampu menguatkanku hanya Tuhan, hanya diriku sendiri. Seharusnya aku mengetahui, manusia tidak sepantasnya dipercaya.
Aku mempercayainya. Sangat percaya bahwa yang mampu menenangkan gundahku hanya dia, sang sahabat. Bahwa yang mampu menghiburku, tempatku lari ketika sedih, tempatku pertama kali menyerukan kebahagiaan adalah dia. Dia, sahabatku tidak hanya dalam suka, tapi juga duka. Yang kupercaya, dalam keadaan apapun mampu membantuku, meski itu hanya sekadar kata-kata hiburan dan kekuatan. Yang akan selalu ada dalam keadaan apapun.
Tapi ternyata, dia berbohong dan mengkhianatiku. Memaksaku kembali memijak dunia, menghempasku sampai kedasar bumi. Tanpa ampun.
Aku belajar, bahwa aku memang sendiri. Tidak ada yang bisa diandalkan selain diriku sendiri. Tidak ada yang bisa dipercaya selain diriku sendiri. Dan Tuhan. Keluarga saja bisa mengkhianati dan memakanku ketika terdesak, kenapa pula aku harus mempercayai seorang sahabat yang bahkan tidak punya hubungan apapun denganku.
Tempatku mengadu, hanya Tuhan. Tempatku meminta tolong, juga hanya Tuhan. Teman dalam suka ataupun duka. Karena Tuhan, yang bisa kuambil pelajaran, tidak seperti manusia yang pengkhianat. Dia, Sang Khaliq, memberi cobaan berupa kesakitan misalnya, untuk menguji iman sang hamba, yang jika mampu dilewati pasti akan semakin dicintai olehNYA, dibalas dengan pahala dan kenikmatan berlipat ganda.
Tidak seperti manusia. Yang menyakiti benar-benar untuk kepentingan diri sendiri dan ego. Yang akan merugikan orang-orang yang disakitinya.
Jadi, lagi-lagi aku sendiri. Tidak ada sahabat, karena memang, selamanya pintu hatiku sudah tertutup untuk kata yang satu itu, sahabat.
Sekarang pun, yang bisa kulakukan hanya tetap bersikap baik kepada mereka yang telah menyakitiku. Kesakitan ini membuatku kuat, dan sedikit bertambah dewasa. Aku akan menjadi wanita kuat, meski harus sendiri. Tidak, memang aku tidak punya sahabat manusia, tapi aku punya sahabat, tempat mengadu yang lebih konkret dan pasti, yang dipercaya 1000% dan dicintai berjuta-juta kali lipat, yaitu Tuhan. Dan aku tidak pernah menyesal.
Kali ini, aku hanya ingin bersabar dan tetap bertawakal pada Nya. Aku tidak akan memutus tali silahturahim, karena itu sangat dibenci Tuhan. Aku tidak mau dibenci, karena itulah aku memutuskan untuk tetap berteman, atau mungkin ber”sahabat” dengan semuanya. Ya, aku tulus jika siapapun menganggapku sahabat. Aku sangat tulus jika mereka menginginkan bantuanku dalam hal apapun, meski hatiku harus kembali hancur dan terluka. Tapi bagiku, mereka bukan sahabatku.
Aku akan tetap tersenyum meski hatiku menangis. Aku akan tetap tertawa meski hatiku ingin menjerit sakit. Aku akan tetap membantu meski dia atau mereka atau siapapun telah menyakitiku sedemikian rupa. Aku akan tetap berdiri meski kakiku tidak sanggup lagi. Aku akan tetap berusaha maju meski aku tidak mampu lagi untuk berjalan, meski harus merangkak menggunakan tangan. Karena aku kuat, meski sendiri. Meski tanpa sahabat, karena memang, tidak pernah ada sahabat di dunia ini, tidak untukku.
Tapi benarkah begitu? Aku tidak lagi percaya.
Dulu, aku pernah punya sahabat. Satu-satunya sahabat yang akhirnya kupunya setelah tujuh belas tahun kehidupanku saat itu. Benar, akhirnya aku punya sahabat setelah aku berumur tujuh belas, hanya selang beberapa hari setelah ulang tahunku. Aku sangat, sangat, sangat bahagia. Bagiku, dia adalah kado terindah yang pernah kumiliki. Darinya aku mengenal persahabatan, yang tadinya hanya kuimpikan dalam setiap angan berujung mimpi, yang hanya mampu kugoreskan dalam setiap kata yang teruntai dalam baris doa.
Memang, dia jauh. Tak mampu kujangkau atau kuraih. Jauh dari pelupuk mata ini, akan tetapi setap waktu yang kulalui, rasanya ia seperti berada di sisi, dalam setiap langkah yang kuatur.
Ada janji setia, sumpah yang berarti selamanya. Bahwa akan tetap selamanya seperti ini, bersahabat sampai kakek nenek, bahkan sampai mati. Yang saling berjanji akan melindungi satu sama lain, berucap sayang dengan ketulusan yang mampu membuatku meneteskan air mata haru. Ya, aku punya sahabat.
Akan tetapi, karena suatu hal yang berlanjut pada hubungan yang sangat kuselali akhirnya, membawaku menyadari, bahwa apa yang kumiliki selama ini ternyata hanya mimpi. Membuatku mengetahui bahwa ternyata sesungguhnya aku memang hanya sendiri.
Tidak pernah ada sahabat sejati, atau kekasih sejati. Sahabat, kata yang sangat diagungkannya, katanya, yang bisa dibelanya mati-matian, yang katanya ingin ia lindungi bahkan meski ia harus mengorbankan nyawa, bagiku akhirnya hanya sekedar isapan jempol belaka. Hanya sekadar omong kosong yang membawaku bermimpi terlalu tinggi, lalu jatuh dengan hempasan paling keras dan paling menghancurkan.
Sahabatkah itu namanya, ketika akhirnya yang ia berikan hanya kesakitan dan perih. Sahabatkah itu namanya, ketika aku hendak pergi karena tidak tahan, dia tak pernah mneyuruhku berhenti dan tetap tinggal. Sahabatkah itu namanya, ketika hanya sekali dua kali menjelaskan dan masih tidak mampu membuatku mengerti tentang arti sesuatu ia langsung menyerah dan menghujatku. Sahabatkah itu namanya, ketika janji yang ia rangkai dan menerbangkan nyatanya hanya sekedar ucapan pemanis kata. Sahabatkah itu namanya, ketika ia berulang kali membohongi dan berkhianat. Sahabatkah itu namanya, yang selalu membuat sakit, sangat sakit.
Akhirnya, aku menyadari bahwa tidak pernah ada sahabat sejati di dunia ini. Bahwa sesungguhnya, sahabat hanya suatu pemanis dalam tiap hubungan bernama pertemanan. Aku sadar, akhirnya, setelah tertidur panjang dalam buaian mimpi semu, terbangun dan tersentak, bahwa sesungguhnya, aku selamanya memang sendiri.
Seharusnya aku sudah tahu dari dulu, bahwa dalam tiap tangis dan duka, yang bisa kuandalkan hanya dirku sendiri dan Tuhan. Seharusnya aku menyadari, aku tidak bisa minta bantuan siapapun meski itu hanya untuk sekadar menghibur. Seharusnya aku sadar dari dulu, bahwa yang mampu menguatkanku hanya Tuhan, hanya diriku sendiri. Seharusnya aku mengetahui, manusia tidak sepantasnya dipercaya.
Aku mempercayainya. Sangat percaya bahwa yang mampu menenangkan gundahku hanya dia, sang sahabat. Bahwa yang mampu menghiburku, tempatku lari ketika sedih, tempatku pertama kali menyerukan kebahagiaan adalah dia. Dia, sahabatku tidak hanya dalam suka, tapi juga duka. Yang kupercaya, dalam keadaan apapun mampu membantuku, meski itu hanya sekadar kata-kata hiburan dan kekuatan. Yang akan selalu ada dalam keadaan apapun.
Tapi ternyata, dia berbohong dan mengkhianatiku. Memaksaku kembali memijak dunia, menghempasku sampai kedasar bumi. Tanpa ampun.
Aku belajar, bahwa aku memang sendiri. Tidak ada yang bisa diandalkan selain diriku sendiri. Tidak ada yang bisa dipercaya selain diriku sendiri. Dan Tuhan. Keluarga saja bisa mengkhianati dan memakanku ketika terdesak, kenapa pula aku harus mempercayai seorang sahabat yang bahkan tidak punya hubungan apapun denganku.
Tempatku mengadu, hanya Tuhan. Tempatku meminta tolong, juga hanya Tuhan. Teman dalam suka ataupun duka. Karena Tuhan, yang bisa kuambil pelajaran, tidak seperti manusia yang pengkhianat. Dia, Sang Khaliq, memberi cobaan berupa kesakitan misalnya, untuk menguji iman sang hamba, yang jika mampu dilewati pasti akan semakin dicintai olehNYA, dibalas dengan pahala dan kenikmatan berlipat ganda.
Tidak seperti manusia. Yang menyakiti benar-benar untuk kepentingan diri sendiri dan ego. Yang akan merugikan orang-orang yang disakitinya.
Jadi, lagi-lagi aku sendiri. Tidak ada sahabat, karena memang, selamanya pintu hatiku sudah tertutup untuk kata yang satu itu, sahabat.
Sekarang pun, yang bisa kulakukan hanya tetap bersikap baik kepada mereka yang telah menyakitiku. Kesakitan ini membuatku kuat, dan sedikit bertambah dewasa. Aku akan menjadi wanita kuat, meski harus sendiri. Tidak, memang aku tidak punya sahabat manusia, tapi aku punya sahabat, tempat mengadu yang lebih konkret dan pasti, yang dipercaya 1000% dan dicintai berjuta-juta kali lipat, yaitu Tuhan. Dan aku tidak pernah menyesal.
Kali ini, aku hanya ingin bersabar dan tetap bertawakal pada Nya. Aku tidak akan memutus tali silahturahim, karena itu sangat dibenci Tuhan. Aku tidak mau dibenci, karena itulah aku memutuskan untuk tetap berteman, atau mungkin ber”sahabat” dengan semuanya. Ya, aku tulus jika siapapun menganggapku sahabat. Aku sangat tulus jika mereka menginginkan bantuanku dalam hal apapun, meski hatiku harus kembali hancur dan terluka. Tapi bagiku, mereka bukan sahabatku.
Aku akan tetap tersenyum meski hatiku menangis. Aku akan tetap tertawa meski hatiku ingin menjerit sakit. Aku akan tetap membantu meski dia atau mereka atau siapapun telah menyakitiku sedemikian rupa. Aku akan tetap berdiri meski kakiku tidak sanggup lagi. Aku akan tetap berusaha maju meski aku tidak mampu lagi untuk berjalan, meski harus merangkak menggunakan tangan. Karena aku kuat, meski sendiri. Meski tanpa sahabat, karena memang, tidak pernah ada sahabat di dunia ini, tidak untukku.
Kamis, 22 Juli 2010
Menunggu Penantian
Tahukah, menunggu adalah sesuatu yang sangat melelahkan. Sangat, sangat melelahkan. Tapi selama menunggu untuk orang yang kita percaya, selama menunggu untuk orang yang kita cintai, sangat kita cintai, selamanya bukanlah waktu yang panjang. Selamanya, akan terasa singkat jika ia memang akan datang. Selamanya, hanya sesuatu yang singkat untuknya.
Menunggu bukan perkejaan yang gampang. Menunggu saat pengharapan telah ditebar semanis madu, saat mimpi benar-benar terasa hampir dapat digenggam. Saat orang yang paling kita percaya pun telah meyakinkan kita kalau semuanya akan baik-baik saja, kalau bersabar adalah satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sekarang.
Tapi tahukah juga, bagaimana sakitnya ketika penantian panjang itu ternyata sia-sia. Hanya mimpi bertabur harapan manis tentang janji dan impian masa depan. Hanya sesuatu yang manis pada awalnya, hanya janji busuk belaka.
SAKIT!
Saat kesabaran telah dipupuk sedemikian rupa, saat cinta telah bertumbuh subur, saat harapan dan penantian menjadi satu dalam hati, saat itu juga semuanya berakhir begitu saja.
Merasa terkhianati. Merasa dibohongi oleh janji-janji palsu yang selalu ia umbar. Merasa tersakiti padahal selama ini kita telah begitu percaya, bahwa penantian ini tak akan sia-sia. Bahwa cinta ini tak kan pernah berakhir selama penantian itu belum berakhir pula, oleh pertemuan yang menghasilkan tawa.
Sepayah apapun erjuangan yang kita lakukan, sesulit apapun itu, seberapa banyak pun hal yang kita korbankan untuk itu, tak akan ada artinya jika semua itu memperoleh hasil yang setimpal. Jika kesabaran bisa berbuah keberhasilan, jika penantian bisa berakhir dengan kelegaan dan senyum bahagia, tentu tak kan pernah ada penyesalan dan sakit.
Tapi ketika semua sia-sia belaka. Ketika semua pengorbanan tidak berarti lagi dimatanya, ketika semua yang telah dilakukan dengan gampang dilupakan, siapapun akan merasa terkhianati, dibohongi, merasa tersakiti, tersakiti sangat-sangat dalam. Kekecewaan, sakit hati, sedih, marah, dan entah rasa apa lagi yang tidak bisa dituliskan bahkan oleh ucap sang pujangga.
Penantian bukan hal yang mudah, penantian bukan hal main-main. Hanya mereka yang berhati besar mampu melakukannya dengan kesabaran penuh, dengan harapan setinggi langit tanpa prasangka. Hanya mereka berhati tulus saat mencintai mampu menunggu dengan tenang, percaya bahwa semua memang harus dilakukan, demi satu kata, cinta.
Tapi saat semua disudahi begitu saja, saat semua usai tanpa ada perjuangan apapun lagi, siapapun akan merasa sangat, sangat kecewa. Penantian butuh perjuangan, penantian butuh pengorbanan. Ia butuh kepercayaan.
Tapi saat penantian telah dikhianati, saat penantian telah dibohongi, saat penantian telah disakiti dan ditinggalkan tanpa hasil apapun, ditelantarkan ditengah jalan, semua akan berkata;
Laknat untuknya yang mengkhianati insan yang mampu menanti dengan ketulusan seorang malaikat.
Menunggu bukan perkejaan yang gampang. Menunggu saat pengharapan telah ditebar semanis madu, saat mimpi benar-benar terasa hampir dapat digenggam. Saat orang yang paling kita percaya pun telah meyakinkan kita kalau semuanya akan baik-baik saja, kalau bersabar adalah satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sekarang.
Tapi tahukah juga, bagaimana sakitnya ketika penantian panjang itu ternyata sia-sia. Hanya mimpi bertabur harapan manis tentang janji dan impian masa depan. Hanya sesuatu yang manis pada awalnya, hanya janji busuk belaka.
SAKIT!
Saat kesabaran telah dipupuk sedemikian rupa, saat cinta telah bertumbuh subur, saat harapan dan penantian menjadi satu dalam hati, saat itu juga semuanya berakhir begitu saja.
Merasa terkhianati. Merasa dibohongi oleh janji-janji palsu yang selalu ia umbar. Merasa tersakiti padahal selama ini kita telah begitu percaya, bahwa penantian ini tak akan sia-sia. Bahwa cinta ini tak kan pernah berakhir selama penantian itu belum berakhir pula, oleh pertemuan yang menghasilkan tawa.
Sepayah apapun erjuangan yang kita lakukan, sesulit apapun itu, seberapa banyak pun hal yang kita korbankan untuk itu, tak akan ada artinya jika semua itu memperoleh hasil yang setimpal. Jika kesabaran bisa berbuah keberhasilan, jika penantian bisa berakhir dengan kelegaan dan senyum bahagia, tentu tak kan pernah ada penyesalan dan sakit.
Tapi ketika semua sia-sia belaka. Ketika semua pengorbanan tidak berarti lagi dimatanya, ketika semua yang telah dilakukan dengan gampang dilupakan, siapapun akan merasa terkhianati, dibohongi, merasa tersakiti, tersakiti sangat-sangat dalam. Kekecewaan, sakit hati, sedih, marah, dan entah rasa apa lagi yang tidak bisa dituliskan bahkan oleh ucap sang pujangga.
Penantian bukan hal yang mudah, penantian bukan hal main-main. Hanya mereka yang berhati besar mampu melakukannya dengan kesabaran penuh, dengan harapan setinggi langit tanpa prasangka. Hanya mereka berhati tulus saat mencintai mampu menunggu dengan tenang, percaya bahwa semua memang harus dilakukan, demi satu kata, cinta.
Tapi saat semua disudahi begitu saja, saat semua usai tanpa ada perjuangan apapun lagi, siapapun akan merasa sangat, sangat kecewa. Penantian butuh perjuangan, penantian butuh pengorbanan. Ia butuh kepercayaan.
Tapi saat penantian telah dikhianati, saat penantian telah dibohongi, saat penantian telah disakiti dan ditinggalkan tanpa hasil apapun, ditelantarkan ditengah jalan, semua akan berkata;
Laknat untuknya yang mengkhianati insan yang mampu menanti dengan ketulusan seorang malaikat.
Kamis, 15 Juli 2010
Curhat Diary
Dear Diary,
Dulu aku selalu berpikir bahwa aku hanya seorang pecundang yang tidak mampu berjuang untuk cinta, untuk orang yang aku sayangi. Dulu kupikir aku tidak begitu memerlukannya.
Well, ternyata tidak begitu adanya. Aku... memang pejuang cinta, setelah kupikir-pikir, dan betapa mengagetkannya hal itu. Wew, jangankan orang-orang yang mengenalku, aku sendiri heran darimana asalnya aku yang seperti ini. Benar-benar mengejutkan betapa sebenarnya aku memiliki kekuatan untuk berjuang, dan itu karena satu kata saja, cinta.
Tapi, bukankah dalam setiap perjuangan harus ada kalah dan menang? Sayangnya, aku harus merasakan kemenangan semu di awal, dan harus mereguk kekalahan paling menyakitkan pada akhirnya. Sangat... menghancurkan. :(
Inikah cinta yang dulunya kuharap dan kudamba? Kurasa tidak.
Aku berjuang guys, berjuang sampai rasanya aku kehilangan seluruh kekuatanku untuk melakukan hal lain. Betapa bodohnya aku, atau betapa naifnya aku saat itu. Entahlah...
Kelam bukan lagi hal baru untukku, dan setelah dipikir-pikir, ternyata cinta seperti lentera untukku. Sungguh, saat itu duniaku gelap, sangat gelap seolah aku benar-benar kehilangan cahaya, kehilangan arah. Mungkin bahkan hingga saat ini aku menuliskannya.
Satu hal yang sangat kusesali adalah, bahwa ternyata "dia" hanya pecundang yang langsung kalah di medan pertama. Dia hanya pengecut, yang bahkan tak mau membantu, tak mau melihat dan hanya besembunyi. Dan ketika perangnya telah usai, dia datang kepadaku yang terluka, tanpa berniat mengobati, hanya untuk bertanya masihkah ada tempat lain untuknya meski hanya sebagai prajurit biasa.
Bodoh! Pengecut! Pecundang yang sekali tidak mengerti tentang apapun. Omong kosong semua yang telah ia katakan, omong kosong.
Dia pergi tanpa penjelasan tentang apapun, dan saat aku bertanya, dia memilih menghindar dan melupakannya. Pengecut, yang hanya bisa menyalahkan lalu menganggap dirinya sok malaikat, bertingkah sok baik, sok meminta persahabatan. Cih, bulshit!
Tidakkah dia tahu, bahwa dia tak lebih hanya sekedar pecundang. Pecundang yang sudah kalah sebelum bertempur. Pembohong, pengkhianat!
Dan ya, hanya satu hal yang benar dari semmua yang ia katakan, bahwa DIA TAK PANTAS DICINTAI OLEHKU! ya, karena dia memng tidak pantas untukku. Hatiku terlalu putih, terlalu tulus, cintaku terlalu murni, terlalu indah untuk diberikan pada penngecut seperti dia. Yang mengaku memiliki cinta seluas langit, setinggi angkasa, tapi dapat hilang dalam sekejab mata. BULSHIT!
Jadi, aku bukannya tidak berjuang. Hanya saja, aku mendapatkan partner yang sama sekali lemah dan pengecut.
Aku berjuang guys, karena cinta memang harus diperjuangkan, harus. Tapi cintaku terlalu suci dan murni untuk diberikan padanya yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menghargai, hanya menghargai apa yang telah kuberikan tanpa aku balas meminta yang lain. Pecundang, dan salahku aku percaya begitu saja padanya. Karena kekalahan ini, begitu menyakitkan. Begitu menyedihkan.
Tapi, seperti apapun itu, aku harus bangkit. Aku harus kembali berjuang setidaknya untuk hidupku sendiri. Menengok ke belakang, hanya untuk memastikan bahwa dia telah berulang kali menggoreskan luka untukku, hanya untuk memastikan bahwa ia kejam sekaligus pengecut. Hanya untuk memastikan dia lebih pantas dibenci daripada dicintai.
By: "aku"
Dulu aku selalu berpikir bahwa aku hanya seorang pecundang yang tidak mampu berjuang untuk cinta, untuk orang yang aku sayangi. Dulu kupikir aku tidak begitu memerlukannya.
Well, ternyata tidak begitu adanya. Aku... memang pejuang cinta, setelah kupikir-pikir, dan betapa mengagetkannya hal itu. Wew, jangankan orang-orang yang mengenalku, aku sendiri heran darimana asalnya aku yang seperti ini. Benar-benar mengejutkan betapa sebenarnya aku memiliki kekuatan untuk berjuang, dan itu karena satu kata saja, cinta.
Tapi, bukankah dalam setiap perjuangan harus ada kalah dan menang? Sayangnya, aku harus merasakan kemenangan semu di awal, dan harus mereguk kekalahan paling menyakitkan pada akhirnya. Sangat... menghancurkan. :(
Inikah cinta yang dulunya kuharap dan kudamba? Kurasa tidak.
Aku berjuang guys, berjuang sampai rasanya aku kehilangan seluruh kekuatanku untuk melakukan hal lain. Betapa bodohnya aku, atau betapa naifnya aku saat itu. Entahlah...
Kelam bukan lagi hal baru untukku, dan setelah dipikir-pikir, ternyata cinta seperti lentera untukku. Sungguh, saat itu duniaku gelap, sangat gelap seolah aku benar-benar kehilangan cahaya, kehilangan arah. Mungkin bahkan hingga saat ini aku menuliskannya.
Satu hal yang sangat kusesali adalah, bahwa ternyata "dia" hanya pecundang yang langsung kalah di medan pertama. Dia hanya pengecut, yang bahkan tak mau membantu, tak mau melihat dan hanya besembunyi. Dan ketika perangnya telah usai, dia datang kepadaku yang terluka, tanpa berniat mengobati, hanya untuk bertanya masihkah ada tempat lain untuknya meski hanya sebagai prajurit biasa.
Bodoh! Pengecut! Pecundang yang sekali tidak mengerti tentang apapun. Omong kosong semua yang telah ia katakan, omong kosong.
Dia pergi tanpa penjelasan tentang apapun, dan saat aku bertanya, dia memilih menghindar dan melupakannya. Pengecut, yang hanya bisa menyalahkan lalu menganggap dirinya sok malaikat, bertingkah sok baik, sok meminta persahabatan. Cih, bulshit!
Tidakkah dia tahu, bahwa dia tak lebih hanya sekedar pecundang. Pecundang yang sudah kalah sebelum bertempur. Pembohong, pengkhianat!
Dan ya, hanya satu hal yang benar dari semmua yang ia katakan, bahwa DIA TAK PANTAS DICINTAI OLEHKU! ya, karena dia memng tidak pantas untukku. Hatiku terlalu putih, terlalu tulus, cintaku terlalu murni, terlalu indah untuk diberikan pada penngecut seperti dia. Yang mengaku memiliki cinta seluas langit, setinggi angkasa, tapi dapat hilang dalam sekejab mata. BULSHIT!
Jadi, aku bukannya tidak berjuang. Hanya saja, aku mendapatkan partner yang sama sekali lemah dan pengecut.
Aku berjuang guys, karena cinta memang harus diperjuangkan, harus. Tapi cintaku terlalu suci dan murni untuk diberikan padanya yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menghargai, hanya menghargai apa yang telah kuberikan tanpa aku balas meminta yang lain. Pecundang, dan salahku aku percaya begitu saja padanya. Karena kekalahan ini, begitu menyakitkan. Begitu menyedihkan.
Tapi, seperti apapun itu, aku harus bangkit. Aku harus kembali berjuang setidaknya untuk hidupku sendiri. Menengok ke belakang, hanya untuk memastikan bahwa dia telah berulang kali menggoreskan luka untukku, hanya untuk memastikan bahwa ia kejam sekaligus pengecut. Hanya untuk memastikan dia lebih pantas dibenci daripada dicintai.
By: "aku"
Jumat, 30 April 2010
Surat Cinta
Dearest My Prince...
Hello Prince, mungkin kamu nggak tahu aku siapa. Maka sebelum aku menyampaikan maksudku, izinkanlah diriku memperkenalkan diri terlebih dahulu kepadamu. Sebut saja aku Queen... (well, bocoran ya, aku menginginkan menjadi "queen" di kerajaan hatimu ;-P)
Aku adalah seseorang yang selalu ada di sampingmu. Yang selalu melihat langkahmu, yang selalu memantau setiap gerikmu. Seseorang yang menginginkan segala yang terbaik untukmu, meski kau lebih sering menganggapku angin lalu ketimbang suatu keberadaan yang nyata.
Tapi tak apa, menjadi penopangmu pun sudah cukup berarti untukku. Ketika kau berlari padaku saat terluka, ketika hanya padaku kau menampakan air mata, itu sudah sangat cukup bagiku. Karena pada akhirnya, meski hanya untuk menceritakan duka, keberadaanku memiliki cukup arti untukmu.
Jadi sekarang, maaf Prince. Kalau aku berharap lebih padamu. Bukan mauku untuk memiliki rasa ini, bukan inginku menyimpan pohon cinta ini. Ia datang sendiri, seperti mimpi kelewat indah, yang bahkan aku pun tak sanggup untuk menggapainya.
Tapi kini Prince, aku mencoba untuk meraihnya.
Maka dengarlah pengakuanku, pengakuan yang benar-benar tulus kurasakan jauh dari dalam lubuk hatiku. Sebuah perasaan suci yang bahkan tak seorang pun punya di dunia ini, sebuah perasaan yang aku sanggup melakukan apapun untukmu.
CINTA.
Benar, Prince.
Maaf aku mencintaimu. Tapi mohon jangan pernah menghujatku atas cinta yang kurasa. Karena ini benar-benar suatu ketulusan yang aku pun tak mengerti kenapa. Kenapa ini hadir, mengapa ini timbul. Namun, satu hal yang ku tahu pasti, aku TIDAK PERNAH menyesali kemunculannya. Karena cinta sesuatu yang iondah, cinta adalah suatu yang patut kuperjuangkan. Cinta adalah hak ku dan semua orang untuk memiliki dan merasakannya.
Maka izinkanlah aku tetap mencintaimu, karena benar-benar hanya kamu yang menyadarkanku arti kebahagiaan ketika mataku telah lelah menata dunia. Memberiku arti keberadaan ketika eksistensiku telah pudar di muka bumi.
Karena itu Prince, jangan suruh aku berhenti untuk memiliki rasa ini.
Karena sesungguhnya, Prince... rasa ini adalah yang pertama... dan terakhir untukku.
Sampai akhir napasku, aku bersumpah, kau adalah cinta pertama dan terakhirku...
Dalam goresan terakhirku, Prince...
aku tetap selalu dan aku selalu berkata...
Aku Mencintaimu....
With Love:
"Queen"
Hello Prince, mungkin kamu nggak tahu aku siapa. Maka sebelum aku menyampaikan maksudku, izinkanlah diriku memperkenalkan diri terlebih dahulu kepadamu. Sebut saja aku Queen... (well, bocoran ya, aku menginginkan menjadi "queen" di kerajaan hatimu ;-P)
Aku adalah seseorang yang selalu ada di sampingmu. Yang selalu melihat langkahmu, yang selalu memantau setiap gerikmu. Seseorang yang menginginkan segala yang terbaik untukmu, meski kau lebih sering menganggapku angin lalu ketimbang suatu keberadaan yang nyata.
Tapi tak apa, menjadi penopangmu pun sudah cukup berarti untukku. Ketika kau berlari padaku saat terluka, ketika hanya padaku kau menampakan air mata, itu sudah sangat cukup bagiku. Karena pada akhirnya, meski hanya untuk menceritakan duka, keberadaanku memiliki cukup arti untukmu.
Jadi sekarang, maaf Prince. Kalau aku berharap lebih padamu. Bukan mauku untuk memiliki rasa ini, bukan inginku menyimpan pohon cinta ini. Ia datang sendiri, seperti mimpi kelewat indah, yang bahkan aku pun tak sanggup untuk menggapainya.
Tapi kini Prince, aku mencoba untuk meraihnya.
Maka dengarlah pengakuanku, pengakuan yang benar-benar tulus kurasakan jauh dari dalam lubuk hatiku. Sebuah perasaan suci yang bahkan tak seorang pun punya di dunia ini, sebuah perasaan yang aku sanggup melakukan apapun untukmu.
CINTA.
Benar, Prince.
Maaf aku mencintaimu. Tapi mohon jangan pernah menghujatku atas cinta yang kurasa. Karena ini benar-benar suatu ketulusan yang aku pun tak mengerti kenapa. Kenapa ini hadir, mengapa ini timbul. Namun, satu hal yang ku tahu pasti, aku TIDAK PERNAH menyesali kemunculannya. Karena cinta sesuatu yang iondah, cinta adalah suatu yang patut kuperjuangkan. Cinta adalah hak ku dan semua orang untuk memiliki dan merasakannya.
Maka izinkanlah aku tetap mencintaimu, karena benar-benar hanya kamu yang menyadarkanku arti kebahagiaan ketika mataku telah lelah menata dunia. Memberiku arti keberadaan ketika eksistensiku telah pudar di muka bumi.
Karena itu Prince, jangan suruh aku berhenti untuk memiliki rasa ini.
Karena sesungguhnya, Prince... rasa ini adalah yang pertama... dan terakhir untukku.
Sampai akhir napasku, aku bersumpah, kau adalah cinta pertama dan terakhirku...
Dalam goresan terakhirku, Prince...
aku tetap selalu dan aku selalu berkata...
Aku Mencintaimu....
With Love:
"Queen"
Senin, 15 Februari 2010
I LOVE U
Saat kau berkata mustahil
Aku bisa menjadikannya mudah untukmu
Saat kau berkata berat untuk menjalani
Aku jadikan segalanya ringan untuk kau pikul
Saat kau berkata akan banyak kerikil tajam melukai
Ku buang semua itu dari jalanmu
Dan, saat kau berkata tak mungkin mencintaiku
Aku jadikan kau percaya
Bahwa cintaku sangat besar untuk mengikatmu di hatiku
Ku jadikan kau yakin akan cinta yang kumiliki
Hingga akhirnya kau berani untuk mencintaiku
Ku harap kau akan tetap di sini sampai nanti
Sampai dentang waktu pun tak kuasa memisahkan kita
Sayang, aku mencintaimu
Sekata Cinta
Sekata cinta dari yang terkasih. Memberi dalam senyuman kehangatan. Menelusuri dalam bait rindu. Jauh dirimu di sana, ingin aku memeluk di sini. Oh kasih, terlalu lama aku menunggumu. Terlalu jauh jarak yang harus kutempuh untuk menggapaimu. Terlalu anyak waktu yang kuuntai untuk menghampirimu. Dan terlalu banyak air mata dalam setiap kerinduan yang kususut demi cintaku
Bersama sajak yang tertulis tak tentu, aku ingin engkau tahu. Bahwa jauh dirimu di sana, ada rindu yang menantimu di sini. Ada aku yang selalu memelukmu dalam setiap bunga mimpi. Selalu menantimu dalam kerinduan puncak yang tak terlihat, tapi terasa menggeletar. Kapankah semua akan berakhir
Terlalu dalam kepedihan yang terasa dalam setiap bait kerinduan yang kau lantunkan. Terlalu sakit hati ini ketika cinta yang kau tambatkan tidak menyentuh dermaga hati. Aku ingin engkau di sini kasih, selalu memelukku dalam kenyataan. Bukan mimpi yang menghilang bersama pagi
Kasih, ini kutulis sekata cinta dari negeri jauh. Sekata cinta yang kulepaskan demi rinduku yang memuncak. Memanggil kehadiranmu dalam setiap bayangan yang merintih pelan. Kasih, ini sekata cinta dari diriku. Yang tanpa lelah menanti kehadiran dirimu
Bersama sajak yang tertulis tak tentu, aku ingin engkau tahu. Bahwa jauh dirimu di sana, ada rindu yang menantimu di sini. Ada aku yang selalu memelukmu dalam setiap bunga mimpi. Selalu menantimu dalam kerinduan puncak yang tak terlihat, tapi terasa menggeletar. Kapankah semua akan berakhir
Terlalu dalam kepedihan yang terasa dalam setiap bait kerinduan yang kau lantunkan. Terlalu sakit hati ini ketika cinta yang kau tambatkan tidak menyentuh dermaga hati. Aku ingin engkau di sini kasih, selalu memelukku dalam kenyataan. Bukan mimpi yang menghilang bersama pagi
Kasih, ini kutulis sekata cinta dari negeri jauh. Sekata cinta yang kulepaskan demi rinduku yang memuncak. Memanggil kehadiranmu dalam setiap bayangan yang merintih pelan. Kasih, ini sekata cinta dari diriku. Yang tanpa lelah menanti kehadiran dirimu
Penantian

Jiwaku menggelepar pilu
Terkapar perih, sayang
Hatiku terparut belati
Carut marut...
Ingin ku menggapai dirimu
Mememluk dalam setiap dekap yang mampu kuberi
Mengecupmu hingga akhir nanti
Di sisimu, selalu dan tak akan pernah pergi lagi
Namun, jauh tetap tak terjangkau
Kau masih di sana, kasih
Dan sayu aku menantimu di sini
Membayangkan kehadiranmu yang tak pernah kurengkuh
Sepi...
Tersendat jiwaku
Bersama detik yang berdetak
Tanpa kepastian
Oh kasih...
Kapan penantian panjang ini akan berakhir?
Facebook Badge
Blog-list
samurai X
i love you much
Welcome
hello guys! welcome to Stonary!!
A blog with a theme of love. Enjoy this story!!
A blog with a theme of love. Enjoy this story!!
married
Mengenai Saya
- nalatanjung
- I'm just an ordinary girl who want's to be something in the whole world






