Laman

Rabu, 24 November 2010

Aku Masih Memiliki Mimpi

“Aku tidak mau hidup lagi… aku tidak pantas ada di sini, aku tidak punya harapan apapun lagi…,” isaknya. “…aku harus mati,”
^^^
Seharusnya aku tidak melanggar perintah Ibu, seharusnya aku mendengarkan larangan Kakak. Seharusnya aku tahu, karena seharusnya ini bukan duniaku!
Aku mengenalnya hampir setahun yang lalu, di pesta tahun baru pertama yang kuikuti dengan Uwi temanku. Ia pria tampan, gentle, baik, dan seribu kesempurnaan lain yang dulunya tidak berani kubayangkan untuk kumiliki meski hanya dalam mimpi. Namanya Rafa.
Rafa yang tinggi, putih, cenderung pucat jika kuperhatikan. Malam itu kulihat ada lingkar hitam di bawah matanya, dan ia kurus.
Tapi diluar itu semua, ia terlihat begitu tampan dan memesona. Aku tergoda, aku terlena oleh untaian manis yang selalu ia bingkai setiap kali kami bicara. Dan aku merasa, duniaku mulai berubah. Aku, Narcyssa, Cissy kutu buku yang kehidupannya datar tanpa riak, hitam putih tak berwarna, fokus pada satu tujuan yaitu keberhasilan hidup agar bisa membahagiakan Ibu, mulai menemukan jalan baru. Jalan baru yang kupikir indah, penuh taman bunga mawar dan matahari, lili dan lilac, dan banyak bunga-bungan lain yang semerbak wanginya bahkan tercium hingga ratusan meter jauhnya. Jalan baru yang akhirnya kupilih, meninggalkan satu persatu impianku, meninggalkan alasan eksistensiku di dunia, karena kupikir, aku telah menemukan alasan sesungguhnya keberadaanku di sini. Apalagi kalau bukan mereguk kebahagiaan sebanyak mungkin!
Kami sudah cukup dekat meski baru satu bulan berkenalan. Ia baik sekali, mengantar-jemputku ke kampus. Rafa bilang ia cuti kuliah karena harus mengurus perusahaan kayu milik Ayahnya. Aku percaya saja.
Aku pun mulai keluar malam dengan berbagai alasan. Bikin tugas di tempat teman menjadi alasan favoritku untuk bisa sekedar mencuri waktu luang bersama Rafa. Beberapa kali Ibu memergokiku pulang larut malam, dan sudah beberapa kali pula aku ditegur dan dicurigai. Tapi predikatku sebagai gadis baik dan jujur membuat Ibu percaya bahwa aku memang pulang malam karena tugas kelompoknya banyak banget. Sempat ada perasaan bersalah karena harus berbohong begitu pada Ibu, nuraniku tahu bahwa yang kulakukan salah. Tapi tetap saja, semua itu tertutup oleh ego.
Dua bulan kami semakin dekat, dan selama dua bulan itu pula nilai pelajaranku mulai turun. Dosen-dosen sempat heran melihatku yang kuliah dengan keadaan mengantuk di belakang, padahal biasanya aku selalu duduk di depan dengan mata berkilat penuh semangat menghadapi apapun mata kuliahnya. Tapi aku tidak peduli karena aku tahu saat itu, inilah kehidupan yang sebenarnya! Penuh dengan hal-hal yang mengejutkan, menegangkan, tapi menyenangkan. Seperti naik roller coaster! Aku suka sekali. Aku sedang merebut kembali masa remaja yang telah kusia-siakan. Yah, meskipun umurku sudah hampir kepala dua alias sudah sembilan belas, tapi toh ini sama sekali belum telat. Lihat saja tuh di luar sana. Banyak banget bertebaran pria-pria atau wanita-wanita dewasa yang baru merasakan puber lagi alias puber kedua! Mereka enjoy-enjoy aja tuh, nggak malu sama sekali. Lha aku, masih muda gini apa salahnya mereguk kebagiaan sebanyak mungkin. Mumpung masih muda! Persetanlah dengan segala macam kewajiban yang kutekankan selama ini. Aku tahu, sebenarnya selama ini aku sudah mulai jenuh dan kebahagiaan duniawi yang ditawarkan Rafa terasa sangat menggoda, bagai ditawarkan es jeruk dingin di tengah padang pasir tandus dengan suhu mencapai 45 derajat celcius!
Dan malam itulah puncaknya, puncak kebahagiaanku. Ketika Rafa dengan lembut mengatakan, “I love you, will you be my special girlfriend?”
Aku merasakan pipiku menghangat, merasakan getaran yang begitu indah di dadaku ketika mata sayunya menatapku lekat. Dan aku mengangguk, meski malu-malu. “Yes I’ll,”
Rafa tersenyum lebar, memelukku erat, dan… menciumku. Oh God, it’s my 1st kiss! Dan rasanya begitu indah, begitu mendebarkan ketika bibir kami bersentuhan, melebur dalam simfoni cinta yang mengalun merdu.
Lalu, bisa dipastikan sejak menjadi pacar Rafa, aku makin sering keluar rumah, makin sering bohong untuk bisa diizinkan keluar malam, bahkan kabur lewat jendela kamar ketika Ibu menghukumku saat mendapat kabar bahwa prestasi akademikku menurun. Maklum saja, aku kuliah memang dari hasil beasiswa. Jadi kegiatan belajarku selalu dipantau pihak fakultas. Tapi aku tetap tidak peduli, aku terus berjalan di jalan yang telah kupilih. Jalan yang memberiku lebih banyak kebahagiaan, yang menawarkan lebih banyak keharuman bunga impian.
Aku berubah, dari gadis biasa yang terkesan cupu, jadi seseorang yang keren, cantik, dan gaul. Hanya dalam waktu beberapa bulan mengenal Rafa. Aku diperkenalkan pada dunia lain yang lebih berwarna, kehidupan malam yang notabene selalu kuhindari sebelumnya.
Kakak yang pernah melihatku jalan dengan Rafa suatu kali menegurku sepulang kuliah. “Siapa dia? Pacarmu?”
Aku mengangguk. “Ya,”
Bibir Kakak mencebik. “Aku tahu aku tidak pantar bicara ini karena kamu sudah dewasa, tapi sebagai seorang Kakak yang sangat peduli padamu,” Kakak mengawali titahnya dengan prolog yang menurutku sama sekali tidak penting. Oh Cissy, kemana rasa hormatmu dulu pada wanita yang telah ikut berperan dalam membiayai hidupmu ini?! “Lebih baik kamu putuskan saja dia,”
Hah?! “Kakak ngelindur? Bercanda ya?” aku jelas keki berat. “Aku mencintainya, dia pun begitu. Kami saling mencintai dan nggak ada yang bisa menghalangi itu. Tidak juga Kakak,” seruku angkuh dengan suara tinggi. Padahal selama ini aku sama sekali jarang, bahkan bisa dibilang tidak pernah membentak Kakak.
Mata Kakak melotot. “Kamu ini bicara apa?! Udah berani ngelawan ya sekarang?” Kakak jelas naik pitam. “Cissy, aku Kakakmu, aku lebih tua dan aku lebih tahu dunia dari pada dirimu. Tidakkah kamu tahu laki-laki itu sama sekali tidak baik untukmu? Tidakkah kamu tahu, kalau dia hanya membawa pengaruh buruk bagimu?!”
Aku mendengus, malas berdebat dengan Kakak. Toh aku juga ngantuk. Nanti malam aku ada kencan dengan Rafa. Jadi tanpa mempedulikan panggilan atau omelannya, aku ngeloyor ke kamar, mengunci pintunya.
Malamnya aku benar-benar pergi bersama Rafa. Kali ini tidak harus berbohong apapun karena Ibu sedang ada pengajian di rumah Pak RT, sedangkan Kakak bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Jadi aku meneruskan rencanaku, rencana kami malam ini. Nge-trek!
Trek-trekan dengan motor liar bukan lagi hal baru bagiku. Dan malamku selalu dipenuhi oleh tawa. Dan… hey! Guess what, aku sudah mulai mencoba minuman keras! Sesuatu yang dulunya kuanggap menjijjikan dan sama sekali tidak berguna. Tapi ketika Rafa mengatakan, “Coba saja, meminumnya akan mengurangi beban pikiranmu,”
Jadi aku menegukku, terbujuk oleh rayuan kekasihku sendiri. Toh sat itu aku memang sedang banyak masalah. Ya di kampus, dan di rumah. Hm… pahit banget. Tapi pada tegukan selanjutnya aku mulai merasa kepalaku ringan, dan heeey… Rafa benar! Aku bisa melupakan masalahku dalam sekejab, larut dalam pesta malam yang diadakan di lapangan sepi bekas perumahan ini.
Ibu memarahiku habis-habisan ketika diantar pulang oleh Rafa dalam keadaan mabuk. Rafa? Jangan tanya lagi, ia malah mendapatkan hadiah tamparan keras dari Ibu plus cacian yang sanggup membuatmu harus periksa ke THT esok harinya. Kakak menyeretku ke kamar, dan yaah… sejujurnya saat itu aku sama sekali tidak merasa takut atau khawatir atau apapun itu, karena yang kurasakan hanya kebahagiaan, malah menganggap makian Ibu sebagai ocehan lucu dan tamparan keras Ibu sebagai belaian penuh cinta. Dunia benar-benar gila!
“Kamu benar-benar sudah berubah, Cissy! Kamu bukan Cissy yang Ibu kenal dulu, kamu… kamu…,” Ibu tidak sanggup melanjutkan ucapannya malam itu, sepertinya beliau sudah kehabisan kata-kata karena seluruh perbendaharaan kalimatnya habis dipakai untuk mendamprat Rafa.
“Mulai sekarang kamu jangan pernah berhubungan lagi dengan lelaki itu! Dia membawa pengaruh buruk bagimu, Cissy! Lihat kamu sekarang, MABUK! Sejak kapan kamu berani mabuk-mabukan, sejak kapaaaan??!” Ibu mengguncang-guncang bahuku, padahal kesadaranku sudah hampir habis saking pusing dan ngantuknya. Aku bahkan tidak sadar, tidak peduli ketika kalimat Ibu selanjutnya diiringi air mata. “Kemana kamu buang semua impianmu, Nak?”
Dan aku pun jatuh tertidur, dibelai oleh mimpiku semasa kanak-kanak. Ah Tuhan, harapku dalam lelap, aku ingin kembali ke masa itu lagi.
^^^
“Ibu melarangku untuk berhubungan denganmu,” kataku suatu kali, memberitahu Rafa tentang larangan Ibu.
Rafa hanya diam. Menolak menatap mataku. Aku mendesah, merangkul lengannya dan bersandar di bahunya. Rasanya hariku begitu lelah. “Aku tidak mau melakukannya, aku masih terlalu mencintaimu…,”
Rafa bereaksi, ia merangkul pundakku. “Kalau begitu, kita akan melakukannya. Kita… tidak akan pernah terpisahkan lagi,”
Aku meliriknya heran. “Maksudmu?”
Rafa tersenyum lembut, mengecup dahiku. “Apa kamu benar-benar mencintaiku?”
Aku mengangguk yakin. “Pasti!”
Senyumnya makin lebar.

Dan… oh oh… aku terbangun dengan pikiran linglung, di sebuah tempat asing yang sama sekali tak kukenal. Yang pasti ini bukan kamarku, karena ranjangku jelas tidak seempuk ini.
Hatiku mengantarku untuk melirik ke bawah. Ya Tuhan, ke mana pakaian yang melekat di tubuhku? Aku menatap ke samping dengan panik dan menemukan Rafa tengah tertidur lelap. Aku benar-benar syok, dan aku pun mulai menangis.
Rafa terbangun oleh isak tangisku, ia menatapku heran, tapi kemudian memelukku, sangat erat. Perasaanku menghangat, dan aku mulai tenang.
“Tenanglah, sayang. Aku mencintaimu dan dengan begini kita akan selalu bersama selamanya,” ia semakin mengeratkan rangkulannya. “Jangan menangis lagi,”
Itu adalah pengalaman pertamaku, dan jujur aku sangat takut dan menyesal. Tapi kata-kata Rafa menenangkanku, bahkan mengubah cara berpikirku. Bahwa ini harus tetap dilakukan karena hal inilah yang akan semakin mengeratkan cinta kami.
Benar-benar cara pandang romantis, pikirku. Tapi mengerikan.
Yaah… bisa ditebak, mulai saat itu aku benar-benar berubah total. Gaya hidupku, sifatku, cara pandangku, semuanya! Ibu dan Kakak sudah letih memarahiku, bahkan bisa dibilang sudah bosan. Aku mulai mengikuti pergaulan bebas yang ditawarkan Rafa.
Dan, aku sama sekali tidak menolak ketika suatu kali diajak ke sebuah acara oleh Rafa, pesta entah apa yang diadakan di sebuah rumah besar milik seorang temannya. Mulanya aku bingung karena jangankan terlihat seperti ada pesta, tempat ini malah sepi seperti kuburan. Tapi begitu aku masuk ke dalam, ternyata banyak orang yang sedang teler di sana. Musik disko yang menghentak menjadi backsound tempat itu.
Aku mulanya bingung, tapi kemudian sadar. Oh Tuhan, mereka ternyata benar-benar sedang pesta. Bukan pesta sembarang pesta, tapi pesta narkoba! Aku langsung merinding, nurani dan logikaku mendorong untuk lari, tapi hatiku yang tertutup ‘cinta’ Rafa menahanku untuk tetap di sini.
Jadi aku mengikutinya. Aku di ajak ke lantai atas, ke sebuah kamar yang dihuni oleh seorang pria gondrong, ceking, dan mengerikan. Di sampingnya ada seorang gadis setengah telanjang. Rafa terkesiap, tapi melihat lelaki itu yang menganggukan kepala, ia segera masuk sambil menyeretku.
“Kamu mau coba ini,” tanya Rafa lembut sambil melambaikan serbuk kecil yang diberikan pria itu. Aku terkesiap, merinding dan agak takut. Rafa tersenyum lagi, mengecupku lembut dan berbisik di telingaku. “Jangan dengar omongan orang. Kamu harus mencobanya dan kamu akan rasakan semuanya menjadi indah. Bukankah kamu perlu tempat untuk masalahmu? Nah, disinilah kamu akan menemukannya. Pakai ini dan percayalah kamu akan mendapatkan apa yang selama ini kamu inginkan,”
Dan aku terbius oleh rayuannya. Aku pun mencobanya. Dan… benar saja! Rasanya… lebih nikmat dari pada malam-malamku bersama Rafa, membawaku terbang lebih tinggi saking ringannya daripada efek alkohol.
Sebentar saja aku sudah mulai ketagihan, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan barang haram itu. Aku sudah tidak peduli lagi pada Ibu atau Kakak. Tidak juga ketika Ibu memarahi atau menangis karena kelakuanku. Kuliahku keteteran, dan rumah hanya menjadi hotel tempat transit sementara bagiku. Aku lebih sering berada di apertemen Rafa, menjalani kehidupanku yang kurasa ‘sesungguhnya’. Free sex, narkotika, minuman keras. Dalam waktu beberapa bulan saja kehidupanku benar-benar sudah jungkir balik seratus delapan puluh derajat.
Dan… puncaknya dua bulan yang lalu. Ketika aku ditemukan OD di apartemen Rafa. Kami habis pesta berdua, pesta narkoba, minuman keras, dan bercinta. Hebatnya, atau mungkin inilah keadaan paling memalukan seumur hidupku ketika orang-orang menemukan kami nyaris seperti sepasang binatang, atau aku yang seperti seekor anjing betina. Kami hanya ditutup sehelai selimut, dengan busa membuncah dari mulutku dan tubuh menggigil hebat. Aku merasa, itulah akhir hidupku, akhir duniaku, akhir umurku yang singkat. Dan aku merasa sangat-sangat-sangat takut. Dan menyesal.
^^^
Nasi sudah menjadi bubur. Keadaan sudah tidak sama lagi seperti dulu. Benar-benar sudah tidak sama dan aku tahu aku tak akan pernah kembali kekehidupan lamaku, kehidupanku yang tanpa riak dan tanpa warna itu.
Aku beruntung masih selamat, aku beruntung masih diberikan kehidupan sejak peristiwa naas itu. Setidaknya aku lebih beruntung daripada Rafa yang harus ikhlas menghabiskan waktu tidurnya terpendam di bawah tanah. Ia meninggal, meninggalkanku untuk selamanya!
Dan… musibah tidak hanya sampai di sana. Tidak hanya sampai kematian Rafa, dicabutnya beasiswaku, dipecatnya aku sebagai mahasiswa dan dikeluarkan dari universitas secara tidak hormat, memberikan kesedihan tiada henti pada Ibu dan Kakak, tapi… benar-benar pada suatu hal yang membuatku jijik pada diri sendiri, membuatku ingin mencabik-cabik diriku, menggores tubuhku tidak hanya ketika aku sakaw, tapi saat aku sadar sesadar-sadarnya. Aku benci diriku, diriku yang begitu menjijikan ini!
Aku positif terinfeksi virus HIV, aku positif mengidap AIDS.
Mungkin tertular oleh Rafa, mungkin juga dari jarum-jarum suntik yang selalu kami gunakan. Aku tidak tahu, dan aku tidak peduli. Aku… bahkan sudah merasa mati saat ini meskipun jantungku masih berdetak.
Jadi, kematian yang sesungguhnya tentu tidak akan mengubah apapun. Kematian sesungguhnya hanya akan mengantarku pada kehidupan lain yang mungkin lebih indah, atau lebih buruk dari dunia.
“…maafin Cissy, Bu. Maafin Cissy Kak Nadya… maafin Cissy…,” isakku, dan perlahan aku merasa duniaku mulai berputar, hitam dan gelap ketika perlahan tapi pasti luka lebar di pergelangan tanganku menguncurkan darah merah pekat, seperti di tempat penjagal sapi.
Oh… jadi begini ya rasanya mati. Aku masih sempat tersenyum samar. Sampai jumpa semuanya, sayonara…
^^^
“Cissy!!” suara itulah yang mulanya kudengar ketika kesadaranku mulai kembali. Oh di manakah ini? Apakah aku sudah berada di neraka? Tapi… pelukan ini begitu erat, seakan tidak takut dengan keadaanku. Pelukan ini terasa hangat dan begitu nyata.
Jadi aku berusaha membuka mata, mencari cahaya agar lepas dari kegelapan yang mengukungku. Dan aku menemukan mereka, dua orang yang… yang seharusnya jadi panutanku. Orang-orang yang seharusnya kucintai melebihi siapapun di dunia ini, bahkan Rafa. Orang-orang yang seharusnya kulindungi, orang-orang yang seharusnya kubahagiakan.
Ibu dan Kak Nadya.
Tanpa dikomando air mataku mengalir deras. Tersedu-sedu. Hatiku terasa sakit begitu kesadaran akan kenyataan kembali menghantamku seperti palu godam. Aku… kenapa? Kenapa aku masih hidup?
“Kenapa kalian tidak membiarkan aku mati?” isakku. Tubuhku terasa sakit semua. Lebih dari itu, hatiku jauh lebih sakit. “Aku… sudah tidak memiliki apapun untuk hidup. Aku manusia paling menjijikan dan aku sama sekali tidak punya tujuan lagi. Hidupku sudah hancur…,”
“Karena kamu masih memiliki mimpi yang harus diperjuangkan, menunggu untuk kamu wujudkan,” suara Kakak terdengar lirih, tapi bergema dan sampai hingga ke relung terdalam hatiku.
“Mimpi?”
Kakak mengangguk, menatapku dalam linangan air matanya. “Bukankah dulu kamu selalu berkata ‘aku akan membahagiakan Ibu, apapun yang terjadi, apapun rintangannya’,” kata Kakak bergetar. “Ini salah satu rintangan yang harus kamu hadapi, Cissy. Jadi kenapa kamu harus putus asa? Kamu… masih memiliki banyak sekali mimpi, memiliki segudang tujuan hidup yang harus kamu penuhi…,”
Aku tersentak. Kata-kata Kakak begitu telak menghantamku. Ah ya… dulu aku selalu berkata begitu, ketika aku masih menjadi Cissy yang kuper, kutu buku, tapi memiliki segunung mimpi dan sesamudra harapan. Tapi… begitu melihat wajah Ibu yang letih menatapku, wajahnya yang mulai keriput dimakan usia, yang berlinang air mata menatapku begini, entah mengapa pikiranku menjadi jernih. Duhai fulan, tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa tatapan Ibu sesejuk angin di musim semi. Begitu menyegarkan dan menggetarkan, sekaligus selalu dirindukan.
Kakak benar. Aku… masih memiliki mimpi. Meski mungkin hanya satu, yaitu membahagiakan Ibu. Dengan keadaan yang kualami sekarang, jelas hal itu tidak mungkin. Aku masih belum berhasil membahagiakan beliau, malah sebaliknya. Aku menyakitinya, membuatnya sedih, kecewa, dan entah berapa banyak lagi perasaan yang membuatnya terpuruk. Aku… aku tidak akan mati sebelum berhasil mengembalikan senyumnya. Aku tidak akan mengalah pada penyakit menjijikan ini, aku akan berjuang untuk hidup, aku akan berjuang membuat Ibu bahagia meski tubuhku hanya tinggal tulang terbalut kulit seperti semua penderita AIDS yang sering kulihat di TV atau majalah. Tuhan… aku bersumpah di hadapan-Mu akan membuat wajah yang sesungguhnya selalu kurindukan dalam setiap langkah dan selalu kubawa dalam setiap untaian doa ini bahagia, tersenyum, tertawa. Tak akan ada lagi air mata selain karena bahagia, karena janjiku adalah kebahagiaan untuknya.
Aku mengusap air mataku. Kali ini aku berusaha tersenyum. Demi Ibu, dan Kakak juga. Demi keluargaku. Aku akan berjuang, meski penyakit ini tak akan pernah berhenti membunuhku pelan-pelan. Aku tak akan pernah menyerah, meski untuk selanjutnya akan lebih banyak rintangan yang menghalangi.
Ibu, aku akan terus hidup. Aku akan terus bernapas selama Tuhan masih mengizinkanku untuk menatap dunia, menatap wajah teduhmu yang selalu kurindu. Aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan sisa hidupku lagi seperti yang telah kulakukan. Aku tak akan berusaha untuk memutus napasku dengan cepat lagi. Dengan semua daya yang kumiliki, aku akan terus berjuang mewujudkan impianku. Meski tidak akan sama lagi seperti dulu, meski penyesalan begitu menyesakan, tapi lebih baik terlambat tapi tetap berusaha untuk memperbaikinya dari pada tidak sama sekali.
Karena aku masih memiliki mimpi.
Mimpi untuk membahagiakanmu, Ibu.
Tuhan, dengarlah doaku kali ini, doa dari seorang gadis yang begitu menjijikan dan hina, tetapi memiliki sejagat raya ketulusan. Bantulah aku, Tuhan. Bantulah aku untuk mewujudkan satu mimpiku, sebagai satu alasanku untuk tetap hidup, bantulah aku untuk membahagiakannya, membahagiakan wanita tua yang begitu kucintai ini, membahagiakan Ibu.
“Ibu… maafkan aku,” desahku sambil berusaha mengangkat tangan untuk mengusap air mata Ibu, tersenyum lemah. “Aku… berjanji kali ini akan memenuhi janjiku, meraih mimpiku. Aku berjanji… tak akan membuatmu memangis lagi. Aku berjanji… akan membuatmu bahagia,”
Dan pelukan itu terasa begitu erat, begitu menentramkanku. Gelap yang selanjutnya datang pun kurangkul dengan sepenuh hati, asal aku tetap bisa mencium wangi suci ini, asal aku tetap bisa merasakan pelukan hangat ini.

(a story by Nalasari Tanjung)
(Dipersembahkan untuk teman-teman yang mengalami
hal serupa Cissy. Jangan pernah menyerah karena kalian
tetap berarti. Maka teruslah hidup untuk melanjutkan mimpimu)

0 komentar:

Posting Komentar