Laman

Rabu, 24 November 2010

Kalau Sudah Cinta

“Poooosss…!!” suara cempreng Pak Pos yang baru datang melengking hingga ke tetangga sebelah. Seorang gadis remaja berlari ke luar dengan lincah, membuka pagar dan melihat kiriman yang datang. Ia melompat gembira begitu mengetahui apa yang diantar Pak Pos meski belum membuka bungkusannya. Maka setelah menandatangani bukti serah terima, gadis itu langsung melesat kembali ke dalam rumah, menuju kamarnya di loteng lantai dua.
Gadis itu masuk ke dalam sebuah kamar yang sejuk dengan lantai kayu berpelitur mengilat dan menguncinya rapat-rapat. Tadi ia juga sempat celingak celinguk kiri kanan, mencoba mencari bahaya dengan radar insting yang tidak terlalu bisa diandalkan.
“Ha!” cengirannya makin lebar. Ini dia yang sudah ditunggunya dari seminggu yang lalu. Sebuah botol mungil berbentuk hati dan penutupnya berwarna pink cerah. Isinya berupa cairan kental dan berkerlap-kerlip berwarna serupa penutupnya, pink cerah. Pada labelnya tertulis besar-besar dengan huruf serupa kaligrafi indah: Ramuan Cinta Cupid. “Haaa!!”
Ia pun membuka tutup botol itu pelan-pelan, kidmat. Seperti membuka penutup lampu ajaibnya Aladdin. Seperti hendak memberikan sesajian pada dewa-dewi.
Blup-blup! Wuuussh! Sebuah asap pink menyembur dari dalam botol, diikuti dengan aroma manis dan segar. Membikin melayang siapapun yang menghirupnya. Tidak terkecuali gadis itu. Ia segera menutup botol itu kembali.
“Nah,” katanya puas. “Dengan ini aku bisa mendapatkannya!”
Semua bermula dari seminggu yang lalu, ketika gadis itu membuka katalog barang-barang sihir yang selalu diantar seekor burung hantu putih sewarna salju setiap dua minggu sekali melalui jendela kamarnya. Ia menemukan sebuah barang bagus di dalamnya. Begini penjelasannya lengkap dengan gambar barang tersebut.
Ramuan Cinta Cupid.
Ramuan ini dapat membuat orang yang Anda sukai menjadi menyukai Anda. Efeknya sangat dahsyat dan tetap akan berlaku meskipun tadinya orang tersebut membenci Anda. Cukup berikan dua sendok makan, maka ia akan langsung berlutut di bawah kaki Anda. Hanya dengan dua keping emas, maka Anda akan mendapatkan siapapun yang Anda inginkan. Note: efek ramuan hanya berlaku satu minggu. Lewat dari itu ia akan kembali pada sikap semula. Tidak dapat diberikan pada orang yang sama untuk selanjutnya.
Tentu saja Sherity, nama gadis periang itu, langsung tertarik. Inilah yang ia cari selama ini. Benar, Sherity menyukai temannya di sekolah. Tapi ironisnya, sampai detik ini hubungan mereka sangat buruk. Setiap tatap muka, bisa dipastikan mereka akan adu mulut atau paling banter pasang tampang sangar. Sherity cukup tersiksa dengan keadaan ini, tapi sungguh, sesuka apapun Sherity pada cowok itu, kalau mereka sudah bertemu pasti ujung-ujungnya ia akan jadi kesal.
Maka, dengan ditemukannya barang baru ini, bisa dipastikan semuanya akan berakhir. Ia akan mendapatkan Carl, cowok blasteran Belanda-Indonesia itu. Cowok bermata sewarna langit dengan rambut coklat kayu. Yang tatapannya tajam bagai elang, yang hanya manusia biasa seperti teman sekolahnya yang lain.
Ya benar, ini rahasia besar sebelum semuanya dijabarkan lebih rinci. Ia, Sherity Makoto, gadis berkulit coklat sehat blasteran India-Jepang-Indonesia itu, seorang penyihir. Tidak ada yang tahu, tidak juga teman-temannya di sekolah karena memang ia sekolah di sekolah manusia normal. Ia berkelakuan seperti layaknya gadis biasa, juga keluarganya. Keluarga Makoto memang keluarga penyihir, tapi mereka menyembunyikan jati diri dengan berbaur bersama masyarakat biasa. Ayahnya pemilik sebuah restoran keluarga yang cukup maju. Ibu memiliki butik di pusat kota. Sherity sendiri siswa kelas dua SMA di Bandung. Tapi di balik itu semua, ada rahasia yang tidak boleh diungkap. Bahwa sebenarnya Ayah Sherity merupakan kepala Dinas Perhubungan Sihir dan Non-Sihir yang bertugas langsung memantau kehidupan dan perkembangan komunitas Non-Penyihir agar tetap berlangsung baik tanpa terganggu kegiatan penyihir. Ayah juga bertugas mengawasi setiap penyihir–bersama bawahannya–agar tidak melanggar peraturan dengan memperihatkan diri kepada manusia biasa terlebih mengganggu mereka. Sementara Ibu merupakan salah satu guru di sebuah college sihir terkenal tempat Sherity menuntut ilmu. Begitulah, meski capek, Sherity akan sekolah di SMA non-sihir pada pagi hari, dan menuntut ilmu sihir pada malam hari.
Dan… tidak ada yang tahu akhirnya Sherity menyukai seorang non-penyihir. Nggak ada larangannya sih seorang penyihir menikah atau menjalin hubungan dengan non-penyihir. Hanya saja kalau mereka sudah terikat komitmen, hubungan yang dibentuk penyihir dan non-penyihir akan lebih sulit diputuskan karena mereka terikat secara sihir agar manusia non-penyihir tidak membocorkan rahasia adanya komunitas penyihir.
Yep, Carl, ia menyukainya. Cowok itu, yang tampan tapi nyelekit, yang pinter tapi sengak, yang suka adu jotos tapi saat bersamanya Sherity selalu merasa terlindungi.
Kesimpulannya, Sherity Makoto, menyukai Carl Hagen. Titik. Dan Ramuan Cinta Cupid ini akan membantunya mendapatkan Carl. Ha, lihat saja nanti!
Sherity menggenggam ramuan itu erat sebelum akhirnya memasukannya ke dalam tas sekolahnya. Tanpa sadar, ia meninggalkan petunjuk lainnya yang tertera dalam huruf kecil bercetak miring di label botol itu.
^^^
“Selamat pagi, Sherity,” sapa Jannie riang seperti biasa. Ia salah satu teman dekat Sherity di sekolah. Tidak terlalu dekat juga sih untuk memberitahunya bahwa Sherity seorang penyihir. “Kau terlihat ‘positif’ pagi ini,”
Oh iya, sekedar bocoran nih. Jannie ini tipe gadis yang tergila-gila pada ramalan tarot. Kantong kemejanya tidak pernah kosong dengan bundelan kartu tarot yang selalu menyembul keluar. Ia suka meramal orang lain.
Sherity nyengir kuda. “Aku kan memang selalu positif,”
“Ha!?” Jannie mengamatinya lekat-lekat. “Ada yang kau sembunyikan dariku, eh?”
“Tidak,” balas Sherity gugup. “Tapi, aku mau Tanya sesuatu,”
Jannie mengangkat alis. “Mau tanya apa?”
“Kau lihat Carl pagi ini?”
Jannie mengangkat alis. Tidak ada yang tahu Sherity menyukai Carl. Tidak juga Jannie. Tapi jangan heran kalau Jannie mencium perasaan Sherity. Dalam beberapa hal, indera perasa Jannie memang tajam. “Dia belum datang. Kau kan lihat kursinya kosong. Kosong dari orangnya, begitupun dengan tasnya. Kesimpulannya, kosong,”
“Oh, oke,” Sherity meringis. “Baiklah, bagus kalau begitu,”
“Memangnya kenapa?” Jannie heran.
“Aku sedang tidak mau melihat wajahnya,” elak Sherity.
“Huh?” jelas Jannie tidak percaya. “Kebalikannya, kali!”
“Tidak!” seru Sherity, mukanya memerah. Saat itulah Carl melangkah tegap memasuki kelas. Sherity terdiam memperhatikannya. Ah… mata sewarna langit itu. Ingin sekali ia memlikinya sendiri. Dan… rambut coklat kayu itu. Ia selalu ingin mengusapnya. Dulu ia pernah mencoba, dan rasanya memang sangat lembut dan halus. Pesona Carl memang sangat ‘wah’! Bahkan ia tampak lebih bersinar dan bikin silau ketimbang Francord Andopolf, penyihir cowok paling keren di collegenya. Makanya jangan heran Sherity menyukai Carl meskipun suka bikin kesal. Sherity tahu, meskipun sengak Carl itu baik. Apalagi kepada teman-teman lain selain dirinya. Oh baiklah, ia harus mengakui kalau kayaknya Carl hanya membencinya. Padahal kepada yang lain ia biasa saja. Menyenangkan malah. Sherity mendengus sedih, jangan-jangan Carl memang membencinya.
“Hello! Makoto-san!” Jannie menepuk pipi Sherity pelan, memanggil nama keluarganya. “Kau bengong, ya?”
Wajah Sherity makin merah. Ah, kepergok lagi deh. Kalau gini Jannie akan makin ngeh bahwa Sherity memang menyukai Carl. Uugh… Sherity bisa merasakan mukanya memanas.
^^^
Sherity menggenggam botol di tangannya. Ramuan Cinta Cupid siap digunakan.
“Eh Mbak!” Sherity langsung mencegat Mbak-Mbak penjaga kantin begitu dia lewat di depannya. “itu buat cowok yang di sana kan? (Sherity menunjuk Carl dan teman-temannya. Mbak itu mengangguk). Biar saya yang antar,”
“Yakin, Neng?” Mbak itu mengangkat alisnya nggak yakin. Sherity mengangguk pasti. “Iya deh,” Mbak itu menyerahkan nampannya. Kemudian menyebutkan pesanan mereka satu persatu. Jus jeruk buat cowok berambut jabrik dan cepak (Nanda dan Ary), Fanta buat cewek yang dikepang (Panda), dan jus buah buat cowok berambut coklat kayu (Carl).
Setelah Mbak itu pergi, Sherity membawa pesanan itu ke tempat sepi. Setelah celingak-celnguk kiri kanan, maka ia pun menuangkan dua sendok teh ramuan ke dalam jus buah pesanan Carl. Dan… Blup blup… Bush! Setelah jus buah itu menggelegak dan menyemburkan asap pink berbauh jus buah, larutan itu akhirnya menyatu dengan minuman Carl. Hmm… Sherity meringis puas.
Maka dengan lenggokan tanpa salah, ia pun menghampiri meja Carl. Terang aja Carl langsung menatapnya kaget dan curiga. “Lho, kok cewek gado-gado ini sih yang nganter pesanan?”
Sherity cemberut. “Jangan banyak Tanya. Mbaknya lagi sibuk jadi aku yang antar!” ia kemudian tersenyum ke arah Nanda, Ary, dan Panda sambil menyerahkan minuman mereka. Minuman terakhir ia serahkan pada Carl yang menatapnya curiga dari tadi. “Nih buatmu! Minum!”
Carl mengangkat alis lagi. “Yakin nggak kau kasih racun?” wajah Sherity langsung memerah. Hm… apa ramuan cinta itu termasuk racun? Carl yang melihat wajah merah Sherity salah mengartikan. Ia pikir Sherity kesal, makanya ia langsung meneguk jus buahnya dalam tegukan besar hingga menghabiskan hampir separuh jus. “Aku bercanda,”
Sherity meringis. Aha! Mari kita lihat efeknya besok pagi. Kali ini senyum Sherity merekah selebar selat Malaka! Wellcome, love!
^^^
Gubrak! Duk!
“Heh cewek Gado-gado! Kau udah mau ganti jadi warga Negara Italia atau Meksiko ya? Serudukanmu mirip sekali dengan banteng!” sembur Carl. Sherity menatapnya tidak percaya. Lho, Carl? “Apa kau liat-liat?! Ada yang aneh? Apa wajahku bengkak habis diseruduk tanduk tak terlihatmu?”
Eh? “M-maaf,” kenapa Carl masih tetap sama? Bukankah seharusnya hari ini ramuannya sudah berasa efeknya? Tapi kok cowok ini masih saja sengak padanya sih? Apa jangan-jangan ramuannya tidak bekerja, ya?
Carl merengut. Ia pun melangkah meninggalkan Sherity yang masih bengong. Lho. Lhooo!?
Kenapa sih ramuan ini? Sherity mengeluarkan botol ramuan yang sudah berkurang itu. Kok nggak ngaruh? Apa jangan-jangan ada yang salah, ya? Apa jangan-jangan dosisnya nggak sesuai? Di mana kalau untuk manusia normal memang dua sendok, tapi buat manusia model Carl yang sengaknya udah melebihi keluarga Malfoy yang terkenal itu, mungkin ia harus kasih dosis empat kai lipat lebih banyak.
“Carl!” panggil Sherity begitu memasuki kelas. Ia masih belum yakin dengan keadaan Carl. Jangan-jangan dia hanya berpura-pura untuk bikin kejutan. “Kau kenapa tiba-tiba jadi galak begitu sih?”
Carl mengangkat alisnya, heran. “Kenapa? Aku kan memang sudah seperti ini dari dulu,”
Nah lho! Tuh kan-tuh kan, ramuannya kayaknya kok nggak ngefek, ya? Dengan wajah merah Sherity langsung berbalik meninggallkan tempat duduk Carl yang masih bingung. Kenapa sih tuh cewek, pikirnya heran.
Ah! Kenapa bisa jadi begini sih? Sherity merengut sedih, menatap botol ramuannya. Ini tidak berhasil. Ia malah jadi malu karena ramuan ini. Sudah begitu menghabiskan uangnya pula. Dua keping emas kan banyak banget tuh. Tapi hasilnya malah berantakan gini. Hiks!
Sherity membuka tutup botol itu. Kemudian dengan kesal melempar isinya. Saat itu ia sedang berada di kantin yang lumayan sepi karena saat itu sedang jam pelajaran. Sherity sendiri sedang dalam pelajaran olahraga tapi gurunya nggak masuk. Makanya ia bisa mangkal di kantin dengan cover sedih pada halaman depan wajahnya.
Sherity nggak sadar tepat saat itu dua orang cowok tambun dan ceking berdandanan klimis plus kacamata kodok lewat. Maka tanpa ia sadari pula, banyak dari cipratan ramuan itu masuk ke dalam minuman mereka. Beberapa mengenai seragam mereka dan menghasilkan aroma manis yang khas. Mereka sih anehnya nggak sadar. Malah saat duduk di belakang Sherity, mereka meminumnya dengan kalap.
Well, singkat cerita, lima jam kemudian saat bel pulang baru saja berbunyi, kelas Sherity sudah heboh dengan kehadiran dua cowok ajaib dari kelas sebelah. Udin si tambun yang doyan makan dan Abra si cupu yang doyan ngutak-atik bahan-bahan di labor. Duo aneh itu lari di tempat, nggak sabaran di depan kelas. Begitu Pak Fajar ke luar, mereka langsung berlari gesit ke dalam ruangan, mengagetkan seisi kelas.
Mereka menghampiri Sherity. Dengan bungan mawar di tangan Udin, dan bunga kamboja di tangan Abra. Siapapun yakin mereka nyolong bunga itu dari taman sekolah.
“Sherity, aku cinta kamu! Maukah kau jadi pacarku?” pernyataan itu begitu kompak, begitu gamblang, begitu terbuka. Mengagetkan seisi kelas, terutama Sherity si objek cerita.
“Wah,” Jannie nyeletuk untuk pertama kalinya. “Aku nggak tahu kau punya fans angka sepuluh gini, Sher,”
Geeerr…
Seisi kelas langsung heboh. Mayoritasnya sih ngakak berat, geli. Tapi ada juga yang menatap mereka tajam, antara geram dan kasihan.
“K-kalian… k-kenapa?” Sherity kaget banget dengan perkembangan tiba-tiba itu. Tidak diharapkan! Dia kan maunya Carl yang bilang begitu dan bukannya duo bodoh ini! Ah, tangannya sudah gatal pengin ngambil tongkat sihir si dalam tasnya. Biar bisa memantrai dua orang ini, melemparnya jauh-jauh kemudian ia sendiri akan menghilang dari sana. Tapi tentu saja itu tidak ia lakukan. Karena bisa-bisa ia langsung dideportasi ke sekolah asrama yang kata Meilan, sepupu Sherity yang sekarang jadi penghuni tetap asrama gara-gara pernah nyari duit dengan mempertontonkan sihirnya di depan umum, sangat ketat dan lebih berasa di penjara ketimbang sekolahan.
“Aku menyukaimu!” kali ini Udin yang ngomong, dan langsung dipelototi Abra. “Jadilah pacarku, plis. Aku janji akan melimpahkanmu dengan segudang makanan tiap hari,”
Abra mendorong Udin–dengan kesia-siaan belaka mengingat porsi tubuh mereka berdua benar-benar kontras–kemudian merangsek maju mendekati Sherity yang sudah mengerut, terjepit antara dinding–ia memang duduk di sudut dekat dinding–dan kursi.
“Tidak, kau akan menjadi pacarku,” mata Abra berkilat menakutkan. “Ayolah, darling,”
Geeerr…
Seisi kelas kembali tertawa sementara Sherity mengkeret tidak berdaya. “Tolong, kalian kenapa sih? Kenapa jadi aneh begini? Menjauhlah dariku,” Sherity benar-benar ingin menangis dapat kejutan seperti ini. Samar-samar ia mencium bau yang sudah tidak asing lagi untuknya. Bau manis dan menyegarkan ini… ah! Jangan-jangan…
“Sayang, ayolah mendekat,” Udin menggapai, mencoba meraih Sherity dengan tangannya yang gempal. Sherity makin terjepit di tempatnya. Dengan mata membelalak lebar. Ini pasti gara-gara ramuan itu! Pikirnya yakin begitu melihat bercak pink di kemeja mereka berdua. Tidaaak!! Benar-benar kiamat untukku.
“Nggak maaauuu!” sambil menjerit begitu, ia langsung naik ke atas kursi setelah meraih tasnya, naik ke meja dan melompat sigap kembali ke bawah. Ia terlepas dari jepitan kedua makhluk sinting ini. Maka ia pun langsung kabur. “Nggaaak!!”
Udin dan Abra tidak menyerah. Mereka langsung mengejar Sherity yang air matanya sudah keluar. Panik dan takut. Nggak nyangka ramuan itu efeknya benar-benar dahsyat. “Sherity sayaaang! Tunggu Kakaaaang!” di balik teriakan menggebu yang terasa makin dekat dengannya, di balik derai tawa geli anak-anak yang melihatnya, Sherity berpikir. Kalau efeknya sekuat itu, kenapa nggak ngaruh sama Carl ya?
Sherity terus lari, lari, dan lari. Udin kayaknya udah ngos-ngosan. Sementara Abra dengan tubuh ringannya masih mengejar. Sherity bermaksud ke atas, atap bangunan sekolah yang biasanya ia jadikan tempat menyendiri atau makan bersama Jannie. Di sana sepi, dan sebelum kedua makhluk aneh itu berhasil mengejarnya, ia sudah akan menghilang.
Hahh… hahh… sedikit lagi. Sedikit lagi, Sherity sudah melihat pintu yang menghubungkan tangga dan atap. Ia menoleh ke belakang dan melihat Abra masih beberap anak tangga di bawahnya. Mungkin masih sempat kalau aku cepat, pikirnya ngeri.
Sherity sudah sampai di atap. Ia merogoh tasnya untuk mencari tongkat sihir. Tapi sebelum itu terjadi, ternyata Abra sudah ada di depan pintu, di susul Udin yang wajahnya udah merah dan biru. Ngos-ngosan.
Bego! Aku lupa menguncinya. Sherity memaki dirinya sendiri. Kalau begini, bagaimana caranya ia lolos?!
Sherity menatap pias kedua cowok itu. Aduuh… mereka makin dekat. Dan makin terlihat menyeramkan.
“Sherity sayang,” Abra sudah hampir dekat, benar-benar menjebak dirinya di antara dinding pembatas dan dia sendiri. “Kenapa kau lari sih? Aku hanya ingin kau menerima cintaku. Aku hanya ingin kau menjadi kekasihku,”
“Aku nggak mau!” seru Sherity. Ia benar-benar takut. “Pergilah, aku mau pulang!”
Abra merengut. Ia melempar bunga kambojanya. Di belakangnya Udin menyeringai seperti serigala kelaparan. Hal terburuk yang akan terjadi, terjadilah. Sherity memajamkan mata ketika wajah Abra makin mendekat ke wajahnya sementara tangannya mencengkram bahu Sherity sangat kuat. Hebat sekali efek ramuan itu. Cowok ceking penakut dan lemah ini berubah jadi kuat dan mengerikan! Tangan Sherity sudah menggenggam tongkat sihirnya di dalam tas, siap merapalkan mantra kalau mereka berbuat macam-macam.
Tapi… sedetik… dua detik… tiga detik… tidak terjadi apa-apa. Yang ia dengar hanya suara bak-buk-dug! Maka dengan takut-takut ia membuka mata, melihat keadaan.
Dan olala…! Kini ia melihat Carl berdiri di sana, menghajar Udin yang paling kuat sementara Abra udah tersungkur tak berdaya. Carl… air mata Sherity merebak lagi. Kali ini dengan napas lega.
“Jangan mendekati dia lagi!” seru Carl lantang, mengancam. Ia mendekati Sherity yang gemetaran.
“Kenapa?!” balas Abra sengit. “Kau bukan siapa-siapanya. Kau kan selalu bertengkar dengan Sheri-ku!”
Carl mengangkat alis, sengak. Kini ia malah merangkul Sherity erat, menenangkannya. “Oh ya? Wah… kau tidak tahu ya?” senyum itu terukir jelas. “Dia milikku, dia Sheri-ku, bukan Sheri-mu!”
Dan cuph! Carl menciumnya, hanya sebentar, tapi itu sanggup membuat Abra dan Udin terpaku, sanggup membuat mereka terkulai lemas dan… wuussh!! Mengeluarkan asap coklat dari pori-pori mereka dan akhirnya… pingsan!
“Carl?” hanya itu yang sanggup ia ucapkan. “Kau…,”
Carl meringis. Wajahnya memerah. Nggak sadar kalau Udin dan Abra sudah terkapar tak jauh dari mereka. “Well, Sherity, begini…,” ia menarik napas. Kemudian mengangkat dagu Sherity, mengusap air matanya, dan menatapnya dalam. “Aku menyukaimu. Aku… menyayangimu, dari dulu,”
“Hah?” ini beneran? Sherity membelalak tidak percaya. Apa jangan-jangan obatnya lelet bereaksi ya? Tapi nggak kok, buktinya tadi Abra dan Udin langsung ngefek kok, dan itu hanya dalam waktu lima jam. Lah kalau Carl kan sudah diberinya sejak kemarin, masa sih baru ngefek sekarang? Nggak mungkin banget. “Lalu kenapa kau selalu membuatku sebal kalau memang menyukaiku?”
Carl berdeham. “Karena aku tidak tahu cara mengungkapkan perasaan ini. Aku selalu malu bila berdekatan denganmu, makanya tanpa sadar aku jadi dingin kalau di dekatmu. Aku tahu aku menyebalkan, dan aku benci itu. Maafkan aku, Sherity,”
Kali ini Sherity benar-benar tidak yakin. Ini… mendengar suara Carl membuatnya yakin kalau ini nyata dan bukan hasil rekayasa sihir atau ramuan.
“Sherity Makoto, aku, Carl Hagen, menyukaimu. Maukah kau menjadi pasanganku?”
Dug dug dug. Ih, ini mimpi bukan? Tapi begitu melihat mata Carl yang memancarkan kesungguhan, tidak seperti mata kedua cowok gila tadi yang terpengaruh ramuan sehingga menyebabkan pandangan mereka tidak fokus dan hampa, mata Carl bercahaya dan hidup. Berbinar seperti langit di atasnya yang sangat cerah.
Senyum Sherity merekah. Ah… siapapun pasti akan langsung tahu dia akan jawab apa. “Ya, aku… aku mau,”
Merasakan pelukan erat Carl, membuatnya merasa bodoh. Bodoh karena percaya pada ramuan. Karena, kalau sudah cinta kan tanpa ramuan pun semuanya akan tetap mengalir normal. Cinta akan tetap terungkapkan, dengan atau tanpa bantuan sihir dan obat.

Penting: Obat ini tidak akan bereaksi pada seseorang yang mencintai Anda dengan tulus. Malah akan semakin meyakinkan dia bahwa cintanya memang benar terhadap Anda. Nah, selamat mencoba!
^^^

0 komentar:

Posting Komentar