Dear sahabatku,
ingatkah dulu ketika pertama berjumpa?
Ada masa penuh tawa yang terajut dalam hangatnya kebersamaan.
Ada celoteh bahagia yang tertoreh dalam bingkai indah kenangan.
Ada tangis rindu menyertai setiap detik yang berlalu.
Namun,
yang kulihat kini hanya pertikaian dan perselisihan.
Hanya ada tangis dan duka.
Hanya ada kesedihan, amarah, kekecewaan
Benarkah telah hilang masa yang lalu?
Benarkah tak dapat terajut lagi kenangan baru?
Benarkah semua telah berakhir?
Padahal dulu ada janji yang selalu terucap seperti rapalan mantra,
"kita akan tetap bersama selamanya sampai mati"
Jika ini yang terjadi, sahabat
Yang mampu kulakukan hanya menatap kepergianmu
Taukah kau, aku tak lagi mampu mempertahankan langkahmu yang menjauh
Tak lagi kubisa memintamu untuk tetap tinggal
Meski selalu kugemakan kata "jangan pergi", kau tetap bergerak.
Menghadapkan punggungmu padaku dan menjauh
Hingga sahabat,
Tak lagi dapat tangan ini meraihmu
Tak mampu lagi jemari ini menggenggammu
Duhai sahabat,
Taukah kau apa yang telah kulakukan demi memintamu untuk tetap tinggal disini?
Demi memelihara janji dan kebersamaan kita
Sampai ku pertaruhkan jiwaku
Keselamatan dan harga diri
Tapi, apa kau melihat itu?
TIDAK!!
Karena bagimu, aku hanya masa lalu.
Karena untukmu, tak lagi pantas persahabatan kita ada
Salahkah aku, sahabatku?
Ketika yang kuminta hanyalah derai tawa.
Ketika yang kumau hanya kepedulianmu lagi
Hanya kau, sebagai sahabatku
Salahkah aku, sahabatku?
Jika kini hatiku merintih dalam luka baru.
Bukan hanya karena kehilangan cinta, tapi juga kehilangan sahabat
Sahabatku,
Jika kepergian akan membawamu bahagia,
Maka aku akan tetap disini meski sendiri
Jika keberadaanku mengganggumu,
Maka aku akan menghilang dari pandanganmu
Jika aku tak lagi cukup berarti untukmu,
Maka aku pun akan pergi
Kupastikan kau tak kan lagi menjumpaiku
Disini, dalam kesendirian yang menyakiti
Aku hanya bisa mendoakanmu
Demi dirimu dan kebahagiaanmu
Karena tawamu, tetap adalah tawaku selamanya.
Karena dukamu, tetap air mataku sampai kapan pun..
ingatkah dulu ketika pertama berjumpa?
Ada masa penuh tawa yang terajut dalam hangatnya kebersamaan.
Ada celoteh bahagia yang tertoreh dalam bingkai indah kenangan.
Ada tangis rindu menyertai setiap detik yang berlalu.
Namun,
yang kulihat kini hanya pertikaian dan perselisihan.
Hanya ada tangis dan duka.
Hanya ada kesedihan, amarah, kekecewaan
Benarkah telah hilang masa yang lalu?
Benarkah tak dapat terajut lagi kenangan baru?
Benarkah semua telah berakhir?
Padahal dulu ada janji yang selalu terucap seperti rapalan mantra,
"kita akan tetap bersama selamanya sampai mati"
Jika ini yang terjadi, sahabat
Yang mampu kulakukan hanya menatap kepergianmu
Taukah kau, aku tak lagi mampu mempertahankan langkahmu yang menjauh
Tak lagi kubisa memintamu untuk tetap tinggal
Meski selalu kugemakan kata "jangan pergi", kau tetap bergerak.
Menghadapkan punggungmu padaku dan menjauh
Hingga sahabat,
Tak lagi dapat tangan ini meraihmu
Tak mampu lagi jemari ini menggenggammu
Duhai sahabat,
Taukah kau apa yang telah kulakukan demi memintamu untuk tetap tinggal disini?
Demi memelihara janji dan kebersamaan kita
Sampai ku pertaruhkan jiwaku
Keselamatan dan harga diri
Tapi, apa kau melihat itu?
TIDAK!!
Karena bagimu, aku hanya masa lalu.
Karena untukmu, tak lagi pantas persahabatan kita ada
Salahkah aku, sahabatku?
Ketika yang kuminta hanyalah derai tawa.
Ketika yang kumau hanya kepedulianmu lagi
Hanya kau, sebagai sahabatku
Salahkah aku, sahabatku?
Jika kini hatiku merintih dalam luka baru.
Bukan hanya karena kehilangan cinta, tapi juga kehilangan sahabat
Sahabatku,
Jika kepergian akan membawamu bahagia,
Maka aku akan tetap disini meski sendiri
Jika keberadaanku mengganggumu,
Maka aku akan menghilang dari pandanganmu
Jika aku tak lagi cukup berarti untukmu,
Maka aku pun akan pergi
Kupastikan kau tak kan lagi menjumpaiku
Disini, dalam kesendirian yang menyakiti
Aku hanya bisa mendoakanmu
Demi dirimu dan kebahagiaanmu
Karena tawamu, tetap adalah tawaku selamanya.
Karena dukamu, tetap air mataku sampai kapan pun..







0 komentar:
Posting Komentar