Laman

Kamis, 22 Juli 2010

Menunggu Penantian

Tahukah, menunggu adalah sesuatu yang sangat melelahkan. Sangat, sangat melelahkan. Tapi selama menunggu untuk orang yang kita percaya, selama menunggu untuk orang yang kita cintai, sangat kita cintai, selamanya bukanlah waktu yang panjang. Selamanya, akan terasa singkat jika ia memang akan datang. Selamanya, hanya sesuatu yang singkat untuknya.

Menunggu bukan perkejaan yang gampang. Menunggu saat pengharapan telah ditebar semanis madu, saat mimpi benar-benar terasa hampir dapat digenggam. Saat orang yang paling kita percaya pun telah meyakinkan kita kalau semuanya akan baik-baik saja, kalau bersabar adalah satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sekarang.

Tapi tahukah juga, bagaimana sakitnya ketika penantian panjang itu ternyata sia-sia. Hanya mimpi bertabur harapan manis tentang janji dan impian masa depan. Hanya sesuatu yang manis pada awalnya, hanya janji busuk belaka.
SAKIT!

Saat kesabaran telah dipupuk sedemikian rupa, saat cinta telah bertumbuh subur, saat harapan dan penantian menjadi satu dalam hati, saat itu juga semuanya berakhir begitu saja.

Merasa terkhianati. Merasa dibohongi oleh janji-janji palsu yang selalu ia umbar. Merasa tersakiti padahal selama ini kita telah begitu percaya, bahwa penantian ini tak akan sia-sia. Bahwa cinta ini tak kan pernah berakhir selama penantian itu belum berakhir pula, oleh pertemuan yang menghasilkan tawa.

Sepayah apapun erjuangan yang kita lakukan, sesulit apapun itu, seberapa banyak pun hal yang kita korbankan untuk itu, tak akan ada artinya jika semua itu memperoleh hasil yang setimpal. Jika kesabaran bisa berbuah keberhasilan, jika penantian bisa berakhir dengan kelegaan dan senyum bahagia, tentu tak kan pernah ada penyesalan dan sakit.

Tapi ketika semua sia-sia belaka. Ketika semua pengorbanan tidak berarti lagi dimatanya, ketika semua yang telah dilakukan dengan gampang dilupakan, siapapun akan merasa terkhianati, dibohongi, merasa tersakiti, tersakiti sangat-sangat dalam. Kekecewaan, sakit hati, sedih, marah, dan entah rasa apa lagi yang tidak bisa dituliskan bahkan oleh ucap sang pujangga.

Penantian bukan hal yang mudah, penantian bukan hal main-main. Hanya mereka yang berhati besar mampu melakukannya dengan kesabaran penuh, dengan harapan setinggi langit tanpa prasangka. Hanya mereka berhati tulus saat mencintai mampu menunggu dengan tenang, percaya bahwa semua memang harus dilakukan, demi satu kata, cinta.

Tapi saat semua disudahi begitu saja, saat semua usai tanpa ada perjuangan apapun lagi, siapapun akan merasa sangat, sangat kecewa. Penantian butuh perjuangan, penantian butuh pengorbanan. Ia butuh kepercayaan.

Tapi saat penantian telah dikhianati, saat penantian telah dibohongi, saat penantian telah disakiti dan ditinggalkan tanpa hasil apapun, ditelantarkan ditengah jalan, semua akan berkata;
Laknat untuknya yang mengkhianati insan yang mampu menanti dengan ketulusan seorang malaikat.

Kamis, 15 Juli 2010

Curhat Diary

Dear Diary,

Dulu aku selalu berpikir bahwa aku hanya seorang pecundang yang tidak mampu berjuang untuk cinta, untuk orang yang aku sayangi. Dulu kupikir aku tidak begitu memerlukannya.

Well, ternyata tidak begitu adanya. Aku... memang pejuang cinta, setelah kupikir-pikir, dan betapa mengagetkannya hal itu. Wew, jangankan orang-orang yang mengenalku, aku sendiri heran darimana asalnya aku yang seperti ini. Benar-benar mengejutkan betapa sebenarnya aku memiliki kekuatan untuk berjuang, dan itu karena satu kata saja, cinta.

Tapi, bukankah dalam setiap perjuangan harus ada kalah dan menang? Sayangnya, aku harus merasakan kemenangan semu di awal, dan harus mereguk kekalahan paling menyakitkan pada akhirnya. Sangat... menghancurkan. :(
Inikah cinta yang dulunya kuharap dan kudamba? Kurasa tidak.

Aku berjuang guys, berjuang sampai rasanya aku kehilangan seluruh kekuatanku untuk melakukan hal lain. Betapa bodohnya aku, atau betapa naifnya aku saat itu. Entahlah...
Kelam bukan lagi hal baru untukku, dan setelah dipikir-pikir, ternyata cinta seperti lentera untukku. Sungguh, saat itu duniaku gelap, sangat gelap seolah aku benar-benar kehilangan cahaya, kehilangan arah. Mungkin bahkan hingga saat ini aku menuliskannya.

Satu hal yang sangat kusesali adalah, bahwa ternyata "dia" hanya pecundang yang langsung kalah di medan pertama. Dia hanya pengecut, yang bahkan tak mau membantu, tak mau melihat dan hanya besembunyi. Dan ketika perangnya telah usai, dia datang kepadaku yang terluka, tanpa berniat mengobati, hanya untuk bertanya masihkah ada tempat lain untuknya meski hanya sebagai prajurit biasa.

Bodoh! Pengecut! Pecundang yang sekali tidak mengerti tentang apapun. Omong kosong semua yang telah ia katakan, omong kosong.

Dia pergi tanpa penjelasan tentang apapun, dan saat aku bertanya, dia memilih menghindar dan melupakannya. Pengecut, yang hanya bisa menyalahkan lalu menganggap dirinya sok malaikat, bertingkah sok baik, sok meminta persahabatan. Cih, bulshit!

Tidakkah dia tahu, bahwa dia tak lebih hanya sekedar pecundang. Pecundang yang sudah kalah sebelum bertempur. Pembohong, pengkhianat!

Dan ya, hanya satu hal yang benar dari semmua yang ia katakan, bahwa DIA TAK PANTAS DICINTAI OLEHKU! ya, karena dia memng tidak pantas untukku. Hatiku terlalu putih, terlalu tulus, cintaku terlalu murni, terlalu indah untuk diberikan pada penngecut seperti dia. Yang mengaku memiliki cinta seluas langit, setinggi angkasa, tapi dapat hilang dalam sekejab mata. BULSHIT!

Jadi, aku bukannya tidak berjuang. Hanya saja, aku mendapatkan partner yang sama sekali lemah dan pengecut.
Aku berjuang guys, karena cinta memang harus diperjuangkan, harus. Tapi cintaku terlalu suci dan murni untuk diberikan padanya yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menghargai, hanya menghargai apa yang telah kuberikan tanpa aku balas meminta yang lain. Pecundang, dan salahku aku percaya begitu saja padanya. Karena kekalahan ini, begitu menyakitkan. Begitu menyedihkan.

Tapi, seperti apapun itu, aku harus bangkit. Aku harus kembali berjuang setidaknya untuk hidupku sendiri. Menengok ke belakang, hanya untuk memastikan bahwa dia telah berulang kali menggoreskan luka untukku, hanya untuk memastikan bahwa ia kejam sekaligus pengecut. Hanya untuk memastikan dia lebih pantas dibenci daripada dicintai.

By: "aku"