Tahukah, menunggu adalah sesuatu yang sangat melelahkan. Sangat, sangat melelahkan. Tapi selama menunggu untuk orang yang kita percaya, selama menunggu untuk orang yang kita cintai, sangat kita cintai, selamanya bukanlah waktu yang panjang. Selamanya, akan terasa singkat jika ia memang akan datang. Selamanya, hanya sesuatu yang singkat untuknya.
Menunggu bukan perkejaan yang gampang. Menunggu saat pengharapan telah ditebar semanis madu, saat mimpi benar-benar terasa hampir dapat digenggam. Saat orang yang paling kita percaya pun telah meyakinkan kita kalau semuanya akan baik-baik saja, kalau bersabar adalah satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sekarang.
Tapi tahukah juga, bagaimana sakitnya ketika penantian panjang itu ternyata sia-sia. Hanya mimpi bertabur harapan manis tentang janji dan impian masa depan. Hanya sesuatu yang manis pada awalnya, hanya janji busuk belaka.
SAKIT!
Saat kesabaran telah dipupuk sedemikian rupa, saat cinta telah bertumbuh subur, saat harapan dan penantian menjadi satu dalam hati, saat itu juga semuanya berakhir begitu saja.
Merasa terkhianati. Merasa dibohongi oleh janji-janji palsu yang selalu ia umbar. Merasa tersakiti padahal selama ini kita telah begitu percaya, bahwa penantian ini tak akan sia-sia. Bahwa cinta ini tak kan pernah berakhir selama penantian itu belum berakhir pula, oleh pertemuan yang menghasilkan tawa.
Sepayah apapun erjuangan yang kita lakukan, sesulit apapun itu, seberapa banyak pun hal yang kita korbankan untuk itu, tak akan ada artinya jika semua itu memperoleh hasil yang setimpal. Jika kesabaran bisa berbuah keberhasilan, jika penantian bisa berakhir dengan kelegaan dan senyum bahagia, tentu tak kan pernah ada penyesalan dan sakit.
Tapi ketika semua sia-sia belaka. Ketika semua pengorbanan tidak berarti lagi dimatanya, ketika semua yang telah dilakukan dengan gampang dilupakan, siapapun akan merasa terkhianati, dibohongi, merasa tersakiti, tersakiti sangat-sangat dalam. Kekecewaan, sakit hati, sedih, marah, dan entah rasa apa lagi yang tidak bisa dituliskan bahkan oleh ucap sang pujangga.
Penantian bukan hal yang mudah, penantian bukan hal main-main. Hanya mereka yang berhati besar mampu melakukannya dengan kesabaran penuh, dengan harapan setinggi langit tanpa prasangka. Hanya mereka berhati tulus saat mencintai mampu menunggu dengan tenang, percaya bahwa semua memang harus dilakukan, demi satu kata, cinta.
Tapi saat semua disudahi begitu saja, saat semua usai tanpa ada perjuangan apapun lagi, siapapun akan merasa sangat, sangat kecewa. Penantian butuh perjuangan, penantian butuh pengorbanan. Ia butuh kepercayaan.
Tapi saat penantian telah dikhianati, saat penantian telah dibohongi, saat penantian telah disakiti dan ditinggalkan tanpa hasil apapun, ditelantarkan ditengah jalan, semua akan berkata;
Laknat untuknya yang mengkhianati insan yang mampu menanti dengan ketulusan seorang malaikat.
Menunggu bukan perkejaan yang gampang. Menunggu saat pengharapan telah ditebar semanis madu, saat mimpi benar-benar terasa hampir dapat digenggam. Saat orang yang paling kita percaya pun telah meyakinkan kita kalau semuanya akan baik-baik saja, kalau bersabar adalah satu-satunya hal yang bisa kita lakukan sekarang.
Tapi tahukah juga, bagaimana sakitnya ketika penantian panjang itu ternyata sia-sia. Hanya mimpi bertabur harapan manis tentang janji dan impian masa depan. Hanya sesuatu yang manis pada awalnya, hanya janji busuk belaka.
SAKIT!
Saat kesabaran telah dipupuk sedemikian rupa, saat cinta telah bertumbuh subur, saat harapan dan penantian menjadi satu dalam hati, saat itu juga semuanya berakhir begitu saja.
Merasa terkhianati. Merasa dibohongi oleh janji-janji palsu yang selalu ia umbar. Merasa tersakiti padahal selama ini kita telah begitu percaya, bahwa penantian ini tak akan sia-sia. Bahwa cinta ini tak kan pernah berakhir selama penantian itu belum berakhir pula, oleh pertemuan yang menghasilkan tawa.
Sepayah apapun erjuangan yang kita lakukan, sesulit apapun itu, seberapa banyak pun hal yang kita korbankan untuk itu, tak akan ada artinya jika semua itu memperoleh hasil yang setimpal. Jika kesabaran bisa berbuah keberhasilan, jika penantian bisa berakhir dengan kelegaan dan senyum bahagia, tentu tak kan pernah ada penyesalan dan sakit.
Tapi ketika semua sia-sia belaka. Ketika semua pengorbanan tidak berarti lagi dimatanya, ketika semua yang telah dilakukan dengan gampang dilupakan, siapapun akan merasa terkhianati, dibohongi, merasa tersakiti, tersakiti sangat-sangat dalam. Kekecewaan, sakit hati, sedih, marah, dan entah rasa apa lagi yang tidak bisa dituliskan bahkan oleh ucap sang pujangga.
Penantian bukan hal yang mudah, penantian bukan hal main-main. Hanya mereka yang berhati besar mampu melakukannya dengan kesabaran penuh, dengan harapan setinggi langit tanpa prasangka. Hanya mereka berhati tulus saat mencintai mampu menunggu dengan tenang, percaya bahwa semua memang harus dilakukan, demi satu kata, cinta.
Tapi saat semua disudahi begitu saja, saat semua usai tanpa ada perjuangan apapun lagi, siapapun akan merasa sangat, sangat kecewa. Penantian butuh perjuangan, penantian butuh pengorbanan. Ia butuh kepercayaan.
Tapi saat penantian telah dikhianati, saat penantian telah dibohongi, saat penantian telah disakiti dan ditinggalkan tanpa hasil apapun, ditelantarkan ditengah jalan, semua akan berkata;
Laknat untuknya yang mengkhianati insan yang mampu menanti dengan ketulusan seorang malaikat.





