Laman

Kamis, 15 Juli 2010

Curhat Diary

Dear Diary,

Dulu aku selalu berpikir bahwa aku hanya seorang pecundang yang tidak mampu berjuang untuk cinta, untuk orang yang aku sayangi. Dulu kupikir aku tidak begitu memerlukannya.

Well, ternyata tidak begitu adanya. Aku... memang pejuang cinta, setelah kupikir-pikir, dan betapa mengagetkannya hal itu. Wew, jangankan orang-orang yang mengenalku, aku sendiri heran darimana asalnya aku yang seperti ini. Benar-benar mengejutkan betapa sebenarnya aku memiliki kekuatan untuk berjuang, dan itu karena satu kata saja, cinta.

Tapi, bukankah dalam setiap perjuangan harus ada kalah dan menang? Sayangnya, aku harus merasakan kemenangan semu di awal, dan harus mereguk kekalahan paling menyakitkan pada akhirnya. Sangat... menghancurkan. :(
Inikah cinta yang dulunya kuharap dan kudamba? Kurasa tidak.

Aku berjuang guys, berjuang sampai rasanya aku kehilangan seluruh kekuatanku untuk melakukan hal lain. Betapa bodohnya aku, atau betapa naifnya aku saat itu. Entahlah...
Kelam bukan lagi hal baru untukku, dan setelah dipikir-pikir, ternyata cinta seperti lentera untukku. Sungguh, saat itu duniaku gelap, sangat gelap seolah aku benar-benar kehilangan cahaya, kehilangan arah. Mungkin bahkan hingga saat ini aku menuliskannya.

Satu hal yang sangat kusesali adalah, bahwa ternyata "dia" hanya pecundang yang langsung kalah di medan pertama. Dia hanya pengecut, yang bahkan tak mau membantu, tak mau melihat dan hanya besembunyi. Dan ketika perangnya telah usai, dia datang kepadaku yang terluka, tanpa berniat mengobati, hanya untuk bertanya masihkah ada tempat lain untuknya meski hanya sebagai prajurit biasa.

Bodoh! Pengecut! Pecundang yang sekali tidak mengerti tentang apapun. Omong kosong semua yang telah ia katakan, omong kosong.

Dia pergi tanpa penjelasan tentang apapun, dan saat aku bertanya, dia memilih menghindar dan melupakannya. Pengecut, yang hanya bisa menyalahkan lalu menganggap dirinya sok malaikat, bertingkah sok baik, sok meminta persahabatan. Cih, bulshit!

Tidakkah dia tahu, bahwa dia tak lebih hanya sekedar pecundang. Pecundang yang sudah kalah sebelum bertempur. Pembohong, pengkhianat!

Dan ya, hanya satu hal yang benar dari semmua yang ia katakan, bahwa DIA TAK PANTAS DICINTAI OLEHKU! ya, karena dia memng tidak pantas untukku. Hatiku terlalu putih, terlalu tulus, cintaku terlalu murni, terlalu indah untuk diberikan pada penngecut seperti dia. Yang mengaku memiliki cinta seluas langit, setinggi angkasa, tapi dapat hilang dalam sekejab mata. BULSHIT!

Jadi, aku bukannya tidak berjuang. Hanya saja, aku mendapatkan partner yang sama sekali lemah dan pengecut.
Aku berjuang guys, karena cinta memang harus diperjuangkan, harus. Tapi cintaku terlalu suci dan murni untuk diberikan padanya yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menghargai, hanya menghargai apa yang telah kuberikan tanpa aku balas meminta yang lain. Pecundang, dan salahku aku percaya begitu saja padanya. Karena kekalahan ini, begitu menyakitkan. Begitu menyedihkan.

Tapi, seperti apapun itu, aku harus bangkit. Aku harus kembali berjuang setidaknya untuk hidupku sendiri. Menengok ke belakang, hanya untuk memastikan bahwa dia telah berulang kali menggoreskan luka untukku, hanya untuk memastikan bahwa ia kejam sekaligus pengecut. Hanya untuk memastikan dia lebih pantas dibenci daripada dicintai.

By: "aku"

0 komentar:

Posting Komentar