Laman

Kamis, 23 September 2010

Surat Untuk Sahabat yang Telah Pergi

Dear sahabatku,
ingatkah dulu ketika pertama berjumpa?
Ada masa penuh tawa yang terajut dalam hangatnya kebersamaan.
Ada celoteh bahagia yang tertoreh dalam bingkai indah kenangan.
Ada tangis rindu menyertai setiap detik yang berlalu.

Namun,
yang kulihat kini hanya pertikaian dan perselisihan.
Hanya ada tangis dan duka.
Hanya ada kesedihan, amarah, kekecewaan

Benarkah telah hilang masa yang lalu?
Benarkah tak dapat terajut lagi kenangan baru?
Benarkah semua telah berakhir?
Padahal dulu ada janji yang selalu terucap seperti rapalan mantra,
"kita akan tetap bersama selamanya sampai mati"

Jika ini yang terjadi, sahabat
Yang mampu kulakukan hanya menatap kepergianmu

Taukah kau, aku tak lagi mampu mempertahankan langkahmu yang menjauh
Tak lagi kubisa memintamu untuk tetap tinggal
Meski selalu kugemakan kata "jangan pergi", kau tetap bergerak.
Menghadapkan punggungmu padaku dan menjauh

Hingga sahabat,
Tak lagi dapat tangan ini meraihmu
Tak mampu lagi jemari ini menggenggammu

Duhai sahabat,
Taukah kau apa yang telah kulakukan demi memintamu untuk tetap tinggal disini?
Demi memelihara janji dan kebersamaan kita

Sampai ku pertaruhkan jiwaku
Keselamatan dan harga diri

Tapi, apa kau melihat itu?
TIDAK!!

Karena bagimu, aku hanya masa lalu.
Karena untukmu, tak lagi pantas persahabatan kita ada

Salahkah aku, sahabatku?
Ketika yang kuminta hanyalah derai tawa.
Ketika yang kumau hanya kepedulianmu lagi
Hanya kau, sebagai sahabatku

Salahkah aku, sahabatku?
Jika kini hatiku merintih dalam luka baru.
Bukan hanya karena kehilangan cinta, tapi juga kehilangan sahabat

Sahabatku,
Jika kepergian akan membawamu bahagia,
Maka aku akan tetap disini meski sendiri

Jika keberadaanku mengganggumu,
Maka aku akan menghilang dari pandanganmu

Jika aku tak lagi cukup berarti untukmu,
Maka aku pun akan pergi
Kupastikan kau tak kan lagi menjumpaiku

Disini, dalam kesendirian yang menyakiti
Aku hanya bisa mendoakanmu
Demi dirimu dan kebahagiaanmu

Karena tawamu, tetap adalah tawaku selamanya.
Karena dukamu, tetap air mataku sampai kapan pun..

Senin, 20 September 2010

Sahabat = Zero

Sahabat? Apa itu sahabat? Orang-orang bilang, sahabat adalah teman setia yang selalu menemanimu sampai kapanpun, kapanpun yang kamu mau. Saat senang dan susah, sedih dan bahagia. Yang selalu berusaha sekuat tenaga melindungi dan menjagamu.

Tapi benarkah begitu? Aku tidak lagi percaya.

Dulu, aku pernah punya sahabat. Satu-satunya sahabat yang akhirnya kupunya setelah tujuh belas tahun kehidupanku saat itu. Benar, akhirnya aku punya sahabat setelah aku berumur tujuh belas, hanya selang beberapa hari setelah ulang tahunku. Aku sangat, sangat, sangat bahagia. Bagiku, dia adalah kado terindah yang pernah kumiliki. Darinya aku mengenal persahabatan, yang tadinya hanya kuimpikan dalam setiap angan berujung mimpi, yang hanya mampu kugoreskan dalam setiap kata yang teruntai dalam baris doa.

Memang, dia jauh. Tak mampu kujangkau atau kuraih. Jauh dari pelupuk mata ini, akan tetapi setap waktu yang kulalui, rasanya ia seperti berada di sisi, dalam setiap langkah yang kuatur.

Ada janji setia, sumpah yang berarti selamanya. Bahwa akan tetap selamanya seperti ini, bersahabat sampai kakek nenek, bahkan sampai mati. Yang saling berjanji akan melindungi satu sama lain, berucap sayang dengan ketulusan yang mampu membuatku meneteskan air mata haru. Ya, aku punya sahabat.

Akan tetapi, karena suatu hal yang berlanjut pada hubungan yang sangat kuselali akhirnya, membawaku menyadari, bahwa apa yang kumiliki selama ini ternyata hanya mimpi. Membuatku mengetahui bahwa ternyata sesungguhnya aku memang hanya sendiri.
Tidak pernah ada sahabat sejati, atau kekasih sejati. Sahabat, kata yang sangat diagungkannya, katanya, yang bisa dibelanya mati-matian, yang katanya ingin ia lindungi bahkan meski ia harus mengorbankan nyawa, bagiku akhirnya hanya sekedar isapan jempol belaka. Hanya sekadar omong kosong yang membawaku bermimpi terlalu tinggi, lalu jatuh dengan hempasan paling keras dan paling menghancurkan.

Sahabatkah itu namanya, ketika akhirnya yang ia berikan hanya kesakitan dan perih. Sahabatkah itu namanya, ketika aku hendak pergi karena tidak tahan, dia tak pernah mneyuruhku berhenti dan tetap tinggal. Sahabatkah itu namanya, ketika hanya sekali dua kali menjelaskan dan masih tidak mampu membuatku mengerti tentang arti sesuatu ia langsung menyerah dan menghujatku. Sahabatkah itu namanya, ketika janji yang ia rangkai dan menerbangkan nyatanya hanya sekedar ucapan pemanis kata. Sahabatkah itu namanya, ketika ia berulang kali membohongi dan berkhianat. Sahabatkah itu namanya, yang selalu membuat sakit, sangat sakit.

Akhirnya, aku menyadari bahwa tidak pernah ada sahabat sejati di dunia ini. Bahwa sesungguhnya, sahabat hanya suatu pemanis dalam tiap hubungan bernama pertemanan. Aku sadar, akhirnya, setelah tertidur panjang dalam buaian mimpi semu, terbangun dan tersentak, bahwa sesungguhnya, aku selamanya memang sendiri.
Seharusnya aku sudah tahu dari dulu, bahwa dalam tiap tangis dan duka, yang bisa kuandalkan hanya dirku sendiri dan Tuhan. Seharusnya aku menyadari, aku tidak bisa minta bantuan siapapun meski itu hanya untuk sekadar menghibur. Seharusnya aku sadar dari dulu, bahwa yang mampu menguatkanku hanya Tuhan, hanya diriku sendiri. Seharusnya aku mengetahui, manusia tidak sepantasnya dipercaya.

Aku mempercayainya. Sangat percaya bahwa yang mampu menenangkan gundahku hanya dia, sang sahabat. Bahwa yang mampu menghiburku, tempatku lari ketika sedih, tempatku pertama kali menyerukan kebahagiaan adalah dia. Dia, sahabatku tidak hanya dalam suka, tapi juga duka. Yang kupercaya, dalam keadaan apapun mampu membantuku, meski itu hanya sekadar kata-kata hiburan dan kekuatan. Yang akan selalu ada dalam keadaan apapun.

Tapi ternyata, dia berbohong dan mengkhianatiku. Memaksaku kembali memijak dunia, menghempasku sampai kedasar bumi. Tanpa ampun.
Aku belajar, bahwa aku memang sendiri. Tidak ada yang bisa diandalkan selain diriku sendiri. Tidak ada yang bisa dipercaya selain diriku sendiri. Dan Tuhan. Keluarga saja bisa mengkhianati dan memakanku ketika terdesak, kenapa pula aku harus mempercayai seorang sahabat yang bahkan tidak punya hubungan apapun denganku.

Tempatku mengadu, hanya Tuhan. Tempatku meminta tolong, juga hanya Tuhan. Teman dalam suka ataupun duka. Karena Tuhan, yang bisa kuambil pelajaran, tidak seperti manusia yang pengkhianat. Dia, Sang Khaliq, memberi cobaan berupa kesakitan misalnya, untuk menguji iman sang hamba, yang jika mampu dilewati pasti akan semakin dicintai olehNYA, dibalas dengan pahala dan kenikmatan berlipat ganda.
Tidak seperti manusia. Yang menyakiti benar-benar untuk kepentingan diri sendiri dan ego. Yang akan merugikan orang-orang yang disakitinya.
Jadi, lagi-lagi aku sendiri. Tidak ada sahabat, karena memang, selamanya pintu hatiku sudah tertutup untuk kata yang satu itu, sahabat.

Sekarang pun, yang bisa kulakukan hanya tetap bersikap baik kepada mereka yang telah menyakitiku. Kesakitan ini membuatku kuat, dan sedikit bertambah dewasa. Aku akan menjadi wanita kuat, meski harus sendiri. Tidak, memang aku tidak punya sahabat manusia, tapi aku punya sahabat, tempat mengadu yang lebih konkret dan pasti, yang dipercaya 1000% dan dicintai berjuta-juta kali lipat, yaitu Tuhan. Dan aku tidak pernah menyesal.

Kali ini, aku hanya ingin bersabar dan tetap bertawakal pada Nya. Aku tidak akan memutus tali silahturahim, karena itu sangat dibenci Tuhan. Aku tidak mau dibenci, karena itulah aku memutuskan untuk tetap berteman, atau mungkin ber”sahabat” dengan semuanya. Ya, aku tulus jika siapapun menganggapku sahabat. Aku sangat tulus jika mereka menginginkan bantuanku dalam hal apapun, meski hatiku harus kembali hancur dan terluka. Tapi bagiku, mereka bukan sahabatku.

Aku akan tetap tersenyum meski hatiku menangis. Aku akan tetap tertawa meski hatiku ingin menjerit sakit. Aku akan tetap membantu meski dia atau mereka atau siapapun telah menyakitiku sedemikian rupa. Aku akan tetap berdiri meski kakiku tidak sanggup lagi. Aku akan tetap berusaha maju meski aku tidak mampu lagi untuk berjalan, meski harus merangkak menggunakan tangan. Karena aku kuat, meski sendiri. Meski tanpa sahabat, karena memang, tidak pernah ada sahabat di dunia ini, tidak untukku.