Laman

Kamis, 17 Desember 2009

Saat Lelah

Saat lelah menjemput hati
ada kelabu membayangi senja
bukan mega bertabur matahari kemerahan
namun, mendung berhiaskan seruan kilat

Saat lelah menghembus hari
gelap bukan sesuatu yang patut membuat bingung
Remuk redam jiwa tersakiti kelam
Letih...
Ingin semua berakhir

Saat lelah menyapa raga
Inginku terlelap meski tak akan pernah terjaga lagi
Inginku mengakhiri meski hanya berbuah duka
Terlaknat dalam sisa hingga akhir hayat

Saat lelah membelai sukma
bahkan pada jiwa paling terang dan dipenuhi cahaya
Akan ada keluh dan kesah
Akan tetap ada bertanya
Kapan lelah ini berakhir
Kapan letih ini terputus

Saat lelah merajam jiwa
benar-benar tak akan ada asa

Yang terdengar hanya satu kata...
mati...

Karena...
saat lelah membadai menghantam jiwa
Menghanyutkan raga
Aku hanya ingin...
Mati...

Minggu, 13 Desember 2009

Cinta Sejati

Cinta sejati sama sekali tidak menuntut apapun
Cinta sejati selalu ingin memberi
Tanpa mengharap imbalan

Cinta sejati akan tersenyum ketika dia bahagia
Dan akan ikut menangis ketika ia berduka

Cinta sejati tidak pernah menyesal akan rasa
Karena ia sebuah ketulusan yang murni dari dasar jiwa

Cinta sejati tidak pernah mengikat
Karena ia hanya memperjuangkan

Memperjuangkan cintanya hingga batas terakhir
Memperjuangkan apa yang ia rasa dapat membahagiakan cintanya
Memperjuangkan sesuatu demi seukir senyum diwajah sang cinta

Meski ketika akhirnya sang cinta harus berlalu pergi
Ia hanya akan tersenyum
Merelakan

Karena ia sadar,
Ketika perjuangan telah mencapai batasnya
Harus ada kerelaan di ujung jalan itu
Bersama kesadaran bahwa cinta tak harus memiliki

Cinta sejati tidak memiliki dendam
Karena yang ia punya hanya keikhlasan

Karena cinta sejati hanya ingin memberi
Tanpa pernah meminta imbalan....

Rabu, 04 November 2009

Menyesal

Pudar seperti terhapus tangan-tangan halus
Kemudian seakan menghilang, lenyap, dan tak lagi terjangkau

Dalam detak waktu yang makin mennghujam asa
Menjauhkannya dari kehangatan dan cinta
Pergi bersama detik jam yang bergulir perlahan,
setitik waktu yang tersisa

Jika masa lalu mengguratkan kehangatan tawa,
Menorehkan cerita bahagia
Maka kini dalam rambatan hari ia mennjauh
Menghantarkan pada bisu yang kian membeku

Dari segunung perhatian yang mengharukan
Yang tersisa hanya sebutir perpisahan menyakitkan

Dan jiwa pun menjerit dalam penyesalan tanpa arti
Tak bergaung meski telah menyerahkan seluruh daya

Andai lidah bertulang,
dan andai rasa memiliki logika
Mungkin tak kan pernah terucap
.
.
.
.
"cinta"

Mungkin ia masih di sini
Mungkin, masih akan ada kehangatan yang mendebarkan
Masih berada dalam pelukan tanpa kerikuhan
Dan...
Rasa itu mungkin tak kan pernah pudar,
Tak kan pernah terhaous dan hilang

Ia...
akan tetap di sini, bersamaku
Menjaga dalam keutuhan tak terbantahkan
Merengkuh dalam nyanyian cinta meski tanpa kata

Bukan ini,
bukan dingin yang kian membekukan rasa
Bukan ia yang semakin menjauh
Meninggalkanku di sini,
di belakang,
jauh...
dan...
tetap sendiri....

Senin, 19 Oktober 2009

Curhat diary... ^^

DD...........

Kyaaaa... akhirnya gue bukan lagi seorang pecundang. Gue udah bisa menyatakan perasaan gue terhadap seseorang yanng gue sukai! Yaaah... meski pun awalnya penuh dengan air mata (T.T) tapi toh akhirnya gue puas dan nggak harus tersiksa mendam perasaan gue lagi.

Walaupun, hasilnya nggak seperti yang gue harapkan, tapi setidaknya gue udah lega. Dan gue bisa buktikan pada diri gue sendiri dan pada dunia bahwa gue bisa! Yeaaaahh!! :-)

Well, dengan ini gue banyak belajar tentang kehidupan, specially, love! Kalo dulu gue ngganggap cinta hanya sekedar omong kosong belaka, perasaan bulshit dan nggak guna, tapi sekarang gue ngerasain sendiri kalo ternyata, banyak benernya ya penggambaran yang dilakukan penyair-penyair cinta jadul atau pujangga picisan.

Cinta itu buta, that's right! Cinta nggak mengenal wajah, stats sosial, jarak, atau pun rentang waktu. Dan cinta adalah sesuatu yang pengorbanannya paling tinggi hingga mampu melakukan apapun, APAPUN! Baik untuk memiliki cinta itu, maupun untuk melepaskannya demi kebahagiaannya. Sesakit apapun itu.

Kalo lo pada kagak percaya, cobalah mencintai seseorang dengan setulus hati. Dan lo akan lihat sendiri betapa anehnya cinta, betapa logika benar-benar nggak dibutuhkan. Dan betatapun jantan atau kuatnya diri lo, lo tetap akan tunduk dan jatuh di bawah kaki cinta.

Karena itulah cinta, sebuah perasaan aneh seperti sihir, yang mampu membuat apapun terasa begitu indah ketika kesakitan ada disekelilingmu, atau membuatnya segalanya jadi menyakitkan meskipun disekitarmu ada orang yang berpesta pora...^^

:)
Fight for your love, beibeeehhh............
yattaaaaaaaaaaaaa............!!

MY LOVE, AISHITERUUUU!! =D

MASA LALU

“Piyu, ada yang mencarimu,” suara Bang Vino terdengar sampai ke halaman belakang, tempat Piyu sibuk dengan lukisannya. Piyu mendongak, mendapati Bang Vino melongok dari ruang depan.
“Siapa?”
“Cewek,” Abangnya itu nyengir kuda, lalu langsung hilang dari pandangan. Meninggalkan Piyu yang terbengong-bengong heran.
Karena penasaran, ia bangkit meninggalkan keasyikannya melukis seekor burung gereja yang tengah bertengger manis di atas pohon jambu belakang rumah.
“Shena?” seru Piyu lirih, kaget melihat gadis tinggi ramping itu telah berdiri di depan pintu rumahnya.
Gadis yang dipanggil Shena itu tersenyum hangat. Mengangguk sopan pada Bang Vino yang numpang lewat. Kayaknya ia pulang hanya untuk mengambil sesuatu karena sekarang ia sudah nangkring di atas motornya, kembali ke kantor.
“Hai Piyu,” sapanya kalem. Melihat ke dalam rumah dari balik tubuh jangkung cowok di depannya. “Boleh aku masuk?”
“Hah?” Piyu ndomblong. Lalu menggeleng. “Maaf, tapi ngapain kamu ke sini, ke rumahku?” tiba-tiba saja nada suara Piyu berubah datar. Berbeda sama sekali dengan ekspresi terkejutnya barusan.
Shena terdiam. Bingung mau jawab apa. “Aku… ng… mau dilukis olehmu,” ia menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal. “Bisa?”
Piyu menatap tajam gadis yang terlihat salah tingkah itu. Lalu menarik napas, menggeser badannya ke belakang tanpa memberi jalan masuk untuk Shena. “Maaf, aku bukan pelukis bayaran,” ia mengatupkan rahang. “Kamu boleh pergi sekarang,”
BRAK! Dan yang menemani Shena saat ini adalah daun pintu yang terbanting tepat di depan hidung bangirnya.
Piyu menggerutu, menarik napas berkali-kali sambil terus berjalan menuju halaman belakang, tempat kanvas dan alat lukisnya yang lain menunggu dengan setia. Ngapain sih dia kesini? Tumben banget. Dan alasannya itu loh, minta dilukis? Nggak masuk akal banget!
Baru saja pantat Piyu mencium bantal kursi, bel pintu di depan berbunyi lagi. Ia kembali beridiri, membuka pintu, dan menemukan Shena sedang tersenyum ragu ke arahnya.
“Ada yang tertinggal?” tanyanya dingin. Shena menggeleng. Lalu menarik napas.
“Sebenarnya aku ingin menyerahkan ini, proposal kita yang besok pagi mau diserahkan ke dekan. Kamu kan ketua panitianya, jadi kupikir kamu harus tahu, karena mungkin saja masih ada yang perlu diedit,” terang Shena. Ia menyerahkan proposal yang sudah djilid rapi itu ragu-ragu. Menatap Piyu agak takut. “Maaf telah mengarang alasan bodoh,”
Pintu melirik Shena sekilas ketika mencermati proposal itu. “Ya, kau memang bodoh,” ia tersenyum dan itu sungguh, sungguh membuat Shena lega dan… melambung hingga langit ke tujuh!
“Proposalnya udah oke. Biar ditinggal di sini dulu. Besok aku dan Indra yang akan mengantarkannya ke dekan. Ada lagi?”
Shena menarik bibirnya, ragu dan bingung. “Ng… sebenarnya… mm…,” ia tampak sangat gugup. Piyu jadi tidak tega. Ia melunakkan sedikit nada bicaranya pada adik tingkatnya itu.
“Ada apa, Na?”
“Ng… b-boleh… boleh aku pinjam… toiletmu?” Shena mencuri pandang, agak takut dan ragu. Mau tak mau Piyu mengangguk, menahan senyum geli dan mempersilahkan gadis itu masuk.
“Bilang dari tadi dong,” ucapnya tanpa bisa ditahan. Shena mengangguk dan buru-buru ngacir ke arah yang ditunjukan Piyu.
Lima menit kemudian Shena keluar dari toilet dan menemukan Piyu sudah kembali sibuk dengan lukisannya. Shena mendekatinya ragu-ragu.
“Kamu… lagi lukis apa?” Piyu kaget, tapi ia segera menjawab tanpa mengalihkan tatapannya dari kanvas, terus melukis.
“Kamu bisa melihatnya sendiri kan?”
Shena mengangguk, tanpa sadar telah berdiri memperhatikan Piyu melukis selama setengah jam tanpa beranjak, terpaku oleh pesona ganjil dan aneh cowok itu. Shena tertarik tanpa bisa lepas seperti pertemun dan interaksi mereka sebelumnya.
“Sudah jadi,” ia berdesis kagum, memperhatikan seekor burung gereja berlatar pohon jambu dan langit malam. Shena menatapnya heran.
“Tapi ini kan masih sore,” ia menunjuk langit. “Langitnya juga cerah. Bukankah lebih baik berlatarkan senja, dengan mega atau magenta yang menunggu matahrari kembali kepangkuan cakrawala. Pasti akan lebih bagus,” pernyataan itu begit lugu, lugas dan polos. Tapi hal itu cukup membuat Piyu kembali menjadi ia sebelumnya. Seorang laki-laki dingin dan enggan dekat-dekat wanita.
“Aku tidak menyukai senja,” ia menatap Shena tajam. Seketika Shena sadar hawanya sudah berubah tapi tetap saja ia masih terpancang tak berdaya di samping cowok itu. “Dan karena sudah senja seperti katamu, sekarang kau boleh pulang,”
Shena menelan ludah, mengangguk dan berbalik kaku. Kemudian terburu-buru mengambil tasnya sambil mencicit pamit. “Permisi Piyu!”
Dan dalam kesendirian setelah semuanya tak ada lagi di sampingnya, Piyu merasakan hawa dingin biasa yang selalu menyergapnya ketika hatinya terasa begitu kosong dan hampa. Mendadak, ia kembali kehilangan arah terhadap kompas hatinya.
^^^
“Yu, sorry gue nggak bisa nemenin lo ke dekan. Gue ada kencan sama Rifka,” ucap Indra keesokan harinya. Nyengir Kuda tanpa rasa bersalah. “Plis ngertiin gue, man! Lo tahu ndiri gue udah gebet dia dari jaman kapan gila. Oke oke,”
Piyu memberenggut. “Sarap lo ye! Ini tuh acara kita, lo wakil ketua! Tanggung jawab dikit dong sama jabatan…,”
“Jiaaah, bro! Sekali ini doang kok. Lagian lo bakal ada yang nemenin kok,” Indra nyengir lagi, menaik-naikan alisnya.
“Hah? Lo bener-bener nyari keuntungan banget ya? Emang sapa yang bego bangetmau gantiin lo?”
Ukiran senyum Indra makin lebar. Menunjuk ke arah beberapa panitia yang sedang berkumpul. “Tuh, gue udah minta tolong sekretaris panitia, Shena,”
Piyu terpaku, menatap gadis yang sedang menerangkan sesuatu dengan semangat di seberang sana begitu lekat.
Indra melanjutkan. “Gimana? Deal?”
Piyu kembali sadar. Menonjok pelan bahu Indra. “Nggak,, deal apaan! Gue males pergi ama cewek,”
“Lebai lo! Biasanya lo lempeng-lempeng aja kok kalo disuruh kemana-mana bareng Dhita, Ine, atau cewek-cewek laen. Napa ama Shena kagak? Lo ada masalah ama dia?” selidik Indra. Masalahnya, bukan sekali ini saja Piyu ogah dipasangkan dengan Shena. Ia tampak selalu menghindari gadis itu, bersikap terlalu dingin dan acuh. Padahal meskipun Piyu seoraang cowok yang kayaknya nggak punya rasa apa-apa sama cewek, yang dingin dan lempeng, tetep aja nggak pernah segitunya. Ia masih berinteraksi meski pun nggak intim seperti yang dilakukan cowok lain.
“Nggak kok,” Piyu melengos. “Gue Cuma males,”
Indra mengangkat alis. Lalu angkat bahu. “Terserah deh, pokoknya hari ini gue izin dan lo bakal ke dekan bareng Shena karena Cuma dia panitia yang mau nemenin lo. Sip bro? See ya!”
Dan yang bisa Piyu lakukan hanya bengong memandang Indra yang berjalan semakin jauh, menuju Rifka yang telah berdiri menantinya di depan sekretariat.
Kini ia malah garuk-garuk kepala. Bingung mau melakukan apa. Sempat terbersit di kepalanya ia akan pergi sendir ke dekan dan besoknya akan memberikan seabrek tugas buat Indra demi menghukumnya. Tapi ternyata Shena sudah keburu menghampirinya.
“Kita pergi sekarang?” tanyanya. Piyu kaget, dan tanpa bisa dicegah Shena sudah menarik lengannya. “Ayo, ntar keburu beliau nggak ada di ruangan,”
Tanpa bisa menolak, Piyu melangkah mengikuti Shena menuju ruangan dekan. Memperhatikan gadis yang berjalan di depanya itu, dan mendadak hatinya terasa sakit lagi. Ia melepaskan pegangan tangan Shena dengan sedikit kasar.
“Sudah, aku bisa jalan sendiri!” serunya kaku, lalu kembali melangkah meninggalkan Shena yang terpaku di belakangnya.
^^^
Sore kembali bersaput mendung. Piyu mendongak memandang awan hitam yang mulai berarak pelan. Tampaknya akan segera hujan. Senja bersaput mendung, sama dengan waktu itu. Waktu dimana dunianya mulai terbalik, tanpa arah.
Tin tin!
Tiba-tiba saja suara klakson mobil sedan hijau mengagetkan Piyu. Ia menoleh dan mendapati Shena beranjak keluar dari mobilnya.
“Piyu, kamu nggak bawa motor ya? Bareng aku aja yuk?” ajak Shena memamerkan senyumnya.
“Nggak usah, aku naik bus,”
“Tapi kan lebih hemat dan cepat kalo bareng aku…,”
“NGGAK USAH!” seru Piyu menggelegar. Menatap Shena berapi-api dan tanpa bisa ditahan emosinya meluap seperti larva pijar panas yang menyembur dari pusat gunung berapi. “Kamu bebal ya? Aku selalu bilang tidak tapi kamu tetap saja mengikutiku, seperti bayangan yang sama sekali tidak kuinginkan!”
Tes tes tes…
Lagi, seperti saat itu. Kini hujan pun mulai turun membasahi bumi tempat Piyu berpijak, membasahi hatinya dengan penyesalan.
Shena mendongak, matanya yang besar berkaca-kaca. Hatinya terasa sakit. Sakit karena ia selalu diperlakukan buruk oleh Piyu, sakit karena selalu saja hanya dirinnya yang terlihat begitu dibenci, sakit karena perhatiannya selalu ditampik, padahal terhadap cowok ini ia selalu…
“Piyu, kenapa sih kamu membenciku? Apa salahku sampai kamu terlihat begiu enggan dekat-dekat denganku. Apa yang telah kulakukan sampai membuatmu anti terhadapku? Padahal dengan gadis-gadis lain, kamu biasa saja,” ujar Shena, terengah-engah tersulut ketidakmengertian. “Apa yang salah pada diriku yang sudah begitu mencintaimu!!?”
Mata Piyu membesar, melotot tidak percaya terhadap pernyataan Shena. Rasanya hatinya menjadi begitu dingin, bahkan lebih diginn daripada tubuhnya yang sudah basah kuyup oleh hujan.
“Kenapa? Kamu kaget?” seru Shena, ia kembali mencari manik mata Piyu. “Aku selalu mencintaimu, dari dulu ketika pertama kali kenal kamu hingga detik ini. Aku selalu menyukaimu, meski kamu terlihat nggak mau dekat-dekat denganku. Aku benar-benar nggak ngerti alasanmu terlihat selalu menjauhiku. Yang aku tahu, aku hanya ingin selalu memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan untukmu. Apa aku salah, Piyu?”
Kini dari mata itu pun keluar hujan. Piyu menatapnya tak berdaya.
“Apa aku salah telah mencintaimu? Apa aku salah berusaha melakukan apapun untuk mendekatimu?” kali ini suaranya lirih, hingga seakan bersatu dengan hujan. “Apa aku salah…?”
Hening, bersama hujan dan deru angin. Bersama isak tertahan Shena, bersama luka yang kembali menggores hati bernanah milik Piyu.
Kamu nggak salah Shena, kamu samasekali nggak salah…
Tapi kalimat itu hanya bisa diucapkannya dalam hati. Kalimat yang selamanya tidak akan pernah berani ia ucapkan, oleh Piyu sang pecundang.
“Maaf telah membuatmu terganggu,” Shena mengusap wajahnya, berusaha tersenyum. “Janji, mulai sekarang aku nggak akan menganggumu lagi. Maaf sudah begitu egois mempertahankan cintaku padahal kamu sepertinya sudah muak padaku. Aku janji, kamu bahkan tidak akan pernah melihatku lagi, di tempat ini atau dimana pun,”
Untuk yang kedua kalinya, mata Piyu membesar, bingung.
“Besok aku pindah ke Paris. Mungkin akan menetap lama di sana,” ia memegang dadanya. “Perlu waktu sangat lama untuk menyembuhkan lukaku. Kamu tahu, rasanya benar-benar sakit,” ia menarik napas. Lalu berbalik. “Kuharap suatu saat aku beruntung bisa menyembuhkannya dan bisa melihatmu tersenyum tanpa tatapan benci lagi kepadaku,”
Dalam tubuh basahnya, Shena masuk mobil, menutup pintu dan satu menit kemudian telah melindas jalan raya.

Maaf Shena… maaf… maaf… maaf… maafkan aku yang telah begitu bodoh, maafkan pecundang ini, maafkan pecundang masa lalu ini…
Piyu menatap nanar ke ujung jalan, tempat mobil Shena menghilang. Hatinya terasa sakit lagi, seolah kembali ke masa lalu.
Maaf Shena, bukan keinginanku untuk bersikap tidak adil padamu, untuk bersikap kasar dan mengabaikan perasaanmu, menepis cintamu. Mungkin karena aku terlalu mencintaimu, hingga aku tidak ingin kau terluka, karena aku.
Maaf Shena, kuharap walau hatimu sekarang terluka, nanti tetap akan sembuh juga. Tidak seperti aku, seorang pecundang yang telah kalah oleh tikaman masa lalu…
Masa lalu yang membuatku tidak berani untuk mencintai wanita, mencintaimu, sekali lagi…


-nALa-

Kamis, 15 Oktober 2009

Love Story Part 2

mencintai adalah hal terindah dan paling berarti
yang pernah dilakkan manusia

Meski dengan mencintai ia harus terluka
hingga tak dapat melakukan apa-apa
meski dengan mencintai ia harus selalu menangis
dalam duka dan perih

Karena cinta adalah perasaan paling murni
dari relung jiwa manusia
Yang tak terjamah tangan-tangan kepalsuan
Yang bersih dan tanpa noda
Yang memiliki kekuatan terbesar untuk
memaafkan, merelakan, dan mengikhlaskan
apapun yang terbaik demi cintanya
Meski ia sendiri harus terluka dalam, meski ia harus sekarat
dan mati karenanya...

Minggu, 11 Oktober 2009

Curhat Cinta

Dari "Aku"

aku selalu dianggap cuek oleh orang lain. Soal pacar, aku tidak begitu peduli. Katanya... well, sebenarnya sih emang gitu. Masa-masa pengen punya pacar tuh udah lewat lamaaaa banget. Mending juga cuci mata, hehehe... ^^

Tapi apa benar begitu?

Sejujurnya, sama sekali tidak. Siapa sih yang nggak mau punya seseorang yang sayang sama kita, ada kapan pun kita butuhkan, menerima kita apa adanya. Yang bisa kita cintai dan sayangi. Tapi, terkadang sikapku yang tertutup membuat semuanya begitu sulit.

Aku pernah menyayangi seseorang, layaknya orang lain. Menyayanginya begitu tulus tapi sayangnya, ia tidak pernah tahu. Menyebalkan bukan? Tapi buatku itu lebih indah, atau juga menyakitkan. Payahnya, aku bukan tipe orang pendendam yang bisa langsung membenci begitu seseorang menyakiti. Salahkah itu?

Mereka yang kusayangi, atau "dia" yang begitu tulus ku sayangi, bukan siapa-siapa. Ia hanya dirinya yang tersembunyi dibalik lngan orang-orang. Dia yang ingin berjuang untuk maju namun sering terpuruk oleh keadaan. Tapi rasa ini hanya milikku, selamanya.

Aku bukan pejuang cinta kawan...
Aku hanya seseorang "penunggu", penonon diobalik panggung gemerlap cinta remaja sekarang...

tapi apapun itu, aku sungguh brharap yang terbaik untuknya...
selalu dan hal itu nggak akan pernah berubah.

Satu hal yang ingin kusampaikan, jika kau mencintai seseorang, perjuangkanlah ia dengan sepenuh hati. Karena menyatakan dengan jujur akan begitu melegakan, terlepas dari kenyataan ia menyukaimu atau tidak. Kau hanya harus berjuang, jangan selalu mnganggap dirimu pungguk yang nggak akan pernah mencapai rembulan. Kau bisa, jika mau berusaha. Jadilah seorang pejuang yang denganbangga menang dimedan pertempuran, atau kalah dengan kehormatan tertinggi dipundakmu.

Jangan menjadi "aku" yang hanya menunggu hingga kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik"ku" lenyap begitu saja..

Berjuanglah untuk dirimu, juga untuk dia yang mungkin lelah menunggumu. Nyatakanlah cintamu selagi mampu, dan optimislah ia akan menerimamu, atau jika tidak, akan ada seseorang yang lebih baik menantimu di luar sana.

Semangat dan Good luck ya!!

Puzzle Masa Lalu

”… Ibu kalian masih hidup. Carilah ia karena kalian sama sekali bukan anak yatim piatu. Maafkan Ayah Nak…,”
***
Kalimat terakhir Ayah sebelum beliau meninggal masih saja terasa nyata di benak maupun telinga Ariva. Dan tentu saja, sampai detik ini pun ia masih belum percaya sepenuhnya bahwa ia masih memiliki Ibu.
“Benarkah kau adalah Ibuku?” gumam Ariva lirih seraya mengusap air matanya pada selembar foto usang yang diberikan Ayah untuknya. Foto Ayah dan Ibunya ketika masih muda.
“Riva, kau belum tidur?” teguran Yuy mengagetkan Ariva. Ia segera mengusap air matanya, tersenyum pada Abangnya yang terlihat letih.
“Belum Bang. Abang baru pulang? Gimana kerjanya? Lancar?”
Yuy tertawa. “Tanyanya satu-satu dong Va…,”
Ariva ikut tertawa, lalu menarik napas. “Apa Riva boleh cari wanita ini Bang? Ayah meninggalkan alamatnya, bukan?”
Yuy mengejang. “Untuk apa Va? Ia telah meninggalkan kita semua, ia tidak sepantasnya menjadi Ibu kita,”
“Tapi…,”
“Sudahlah, tidak usah kau pikirkan. Toh Abang juga masih bisa memenuhi kebutuhanmu. Abang janji bahwa kau tidak akan pernah putus sekolah sampai sarjana,” ia mengacak rambut pendek Ariva, lalu keluar kamar setelah mengecup kening adik kesayangannya itu.
Ariva menarik napas. Kasihan Abang, harus cuti kuliah sampai waktu tidak terbatas sejak Ayah pergi untuk selamanya beberapa minggu yang lalu.
Maafin Riva Bang… batinnya getir.
***
Dan disinilah ia sekarang. Bersama Edwin–sahabatnya dari kecil–mencari jejak sang Ibu. Sayang, yang ia miliki hanya dua keping pauzzle kecil dan tampaknya itu tidak cukup berarti untuk keberhasilannya.
“Ini rumahnya,” gumam Edwin. Cowok jangkung itu menyipitkan mata, rumah yang besar. Mungkin tiga atau empat kali besar rumahnya sendiri.
“Menurutmu apa dia masih tinggal disini?”
Edwin mengangkat bahu. “Entahlah…,” ia maju menuju gerbang. “Tapi kita akan segera tahu,”
Sebelum Ariva sempat bertanya, Edwin sudah membunyikan bel dan beberapa menit kemudian seorang wanita setengah baya keluar menemui mereka. Edwin mulai mengintrogasi wanita itu sementara Ariva mendengarkan.
“Tidak ada Ibu Eva Lydia, yang ada hanya Ibu Ely,” Edwin kembali mengulang kalimat pembantu itu. “Tapi kau tidak usah berkecil hati karena kita akan terus mencarinya,” Edwin melanjutkan seraya merangkul erat Ariva, berusaha menegarkan hati gadis itu.
Ariva mengangguk, menarik napas. “Terimakasih Ed, kau sangat baik. Entah apa yang bisa kulakukan kalau kau tidak ada untuk membantuku,”
“Bicara apa sih? Aku kan sahabatmu, sudah sepantasnya aku membantumu. Apalagi ini menyangkut Ibumu,”
Edwin menatap sedih pada manik hitam Ariva yang seakan kehilangan cahaya. Dulu, sebelum semua musibah ini menghapiri kehidupan gadis kecilnya, Edwin sangat suka melihat binar mata Ariva yang seakan tidak pernah redup. Begitu indah seperti ada pendar cahaya pada bola hitam kelam itu. Membawamu masuk untuk mencari tahu cahaya apa yang ada di baliknya. Edwin melakukan hal itu, mencari tahu apa yang ada di balik binar misterius di bola mata Ariva. Tapi dengan bodohnya ia terperangkap di sebuah ruang hangat yang membuatnya enggan untuk kembali.
Ya, hatinya telah tertawan mata hitam itu. Hatinya telah hilang separuh untuk gadis ini, tapi begonya, ia hanya diam tanpa mau mengetuk balik pintu hati Ariva, memberi tahunya bahwa tanpa sadar Ariva telah membawa separuh jiwanya.
***
Hari keempat…
Ariva dan Edwin berdiri di depan sebuah restoran besar yang cukup terkenal di Surabaya. Mereka mendapat kabar bahwa Ibu Ariva dulu pernah bekerja di restoran ini ketika ia masih menjalani hari-harinya bersama Doni, Ayah Ariva.
“Kami mencari Ibu Eva Lydia,” begitu Ariva memulai pencariannya. Pelayan yang ditanyainya mengerutkan kening. Lalu menggeleng.
“Kami bisa bertemu manager retoran ini?” potong Edwin.
“Ada yang bisa saya bantu?” tiba-tiba sebuah suara berat mengangetkan mereka. Ariva berbalik dan mendapati seorang pria tambun berdiri di belakangnya.
“Apa Anda manager restoran ini?” pria itu mengangguk ketika Edwin menanyainya. “Kalau begitu…,”

“Ia bilang Ibumu memang pernah berkerja disini. Tapi itu sudah belasan tahun yang lalu. Kau sendiri melihat kalau dokumennya sudah usang begitu,”
“Ya, tapi,” Ariva tersenyum sumringah, membuat jantung Edwin berdebar lagi. Oh, thanks God, Kau sudah mengembalikan setitik binar itu. “Kita tahu alamatnya yang baru,”
“Tapi Va…,” Edwin tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tidak tega untuk melanjutkan pikirannya bahwa, bagaimanapun alamat itu merupakan alamat sembilan belas tahun lalu. Ia sanksi kalau Ibu Eva masih tinggal disana. Tapi Edwin sama sekali tidak ingin binar itu hilang, meski ia harus membiarkan Ariva tenggelam dalam kolam harapan yang mungkin akan berakhir buruk. Edwin berdalih, toh harapan itu masih ada. Mereka telah menemukan satu lagi kepingan puzzle kehidupan masa lalu keluarga Ariva.
“Tapi apa?”
“Nggak papa,” Edwin tersenyum. “Makan yuk, aku lapar. Kau juga kan? Kita langsung pergi sepulang sekolah tanpa sempat makan ,”
“Baiklah!” seru Ariva sumringah, membuat Edwin semakin enggan untuk memaparkkan kekhawatirannya.
***
Hari kelima….
Seperti yang telah diperkirakan Edwin, Ibu Eva Lydia sudah tidak tinggal disana lagi. Ia seperti menunda kekecewaan Ariva. Tapi…
“Kami ngontrak di sini sudah enam belas tahun. Pada seorang wanita kaya. Ia baik, karena tidak pernah memaksa kami untuk membayar kontrakan pada tepat waktu,”
“Apa dia wanita ini?” dengan terburu-buru Ariva mengangsurkan foto usang Ayahnya dan Eva Lydia. Berharap akan mendapatkan sekeping, ah tidak, beberapa keping puzzle yang akan membawanya pada akhir permainan.
Dan pria setengah baya berperawakan kurus ceking itu mengangguk. “Ya benar, ini dia. Saya tidak pernah lupa wajahnya karena ia…,” pria itu berbisik malu. “Sangat cantik…,”
Ariva ingin melompat senang, kalau perlu langsung memeluk Edwin saking bahagianya ia. Tapi yang dilakukannya hanyalah meremas tangan cowok itu. Edwin meremas balik tangan itu, menguatkan.
“Bapak tahu alamat wanita ini?” tanya Ariva tidak sabar. “Dia Ibu saya Pak, kami sudah terpisah selama belasan tahun. Dan Ayah saya sudah meninggal, beliau menyuruh saya untuk mencari Ibu…,”
Bapak ceking itu menatap Ariva prihatin. Tapi akhirnya mengangguk. “Ya tentu saja. Rumah itu sangat besar. Alamatnya…,”
***
“Kau sering pulang sore bahkan sudah malam akhir-akhir ini,” tegur Yuy malam itu ketika mereka berdua makan malam. “Main kemana saja dengan Edwin?”
“Nggak kemana-mana kok Bang,” dusta Ariva. “Kami hanya jalan-jalan karena Ed kasihan melihatku mengurung dri terus di rumah sejak Ayah meninggal,”
Yuy mendesah. “Maaf Riva, Abang tahu kau kesepian. Tapi Abang tidak pernah menemanimu meski Abang ingin sekali melakukan hal itu,”
Ariva menjadi merasa bersalah pada Yuy karena telah berbohong dan membuat Abangnya sedih. “Tak apa Bang. Riva tahu kok Abang sibuk kerja di bengkel. Ed cukup menghiburku kok,” ia nyengir.
“Jangan sedih terus menerus, ya. Kau gadis yang kuat, Abang tahu itu. Jadilah Ariva yang ceria seperti dulu. Yang selalu tersenyum dan menganggap enteng semua masalah. Yang tidak pernah menyerah dengan keadaan,”
Ariva mengangguk. “Riva tahu Bang. Maaf sudah membuat Abang khawatir,”
Yuy tersenyum, dalam hati sungguh-sungguh berharap semuanya akan baik-baik saja meski ia tahu keadaan tidak akan pernah menjadi seperti dulu lagi. Ia tidak akan menjadi Yuy Mario yang selalu unggul di kelas, yang dihormati junior dan disegani senior, yang sebentar lagi akan dilantik menjadi ketua BEM.
Tapi bukankah hidup adalah cobaan? Dan Yuy bukan tipe orang yang menyerah pada nasib. Ia suka tantangan, dan semakin banyak tantangan dan cobaan yang dihadapinya, semakin membuat pria itu kuat dan bijaksana dalam mengartikan hidup.
Tapi maafkan Abang, Riva. Tidak mengizinkanmu mencari wanita itu. Abang hanya tidak mau kau terluka lebih dalam oleh pisau yang selalu ia bawa dalam dirinya. Kau hanya akan semakin terpuruk, dan hal itu sama seali bukanlah hal yang Abang inginkan…
***
Hari keenam…
“Ed, ini kan…,” rumah besar yang beberapa hari lalu mereka datangi, yang tidak ada Ibu Eva Lydia melainkan Ibu Ely.
Tin tin…
Sebuah mobil sedan mengilap lewat, hampir saja menabrak mereka. Ariva melompat kaget.
“Hey, ngapain kalian disana?”
Seorang wanita setengah baya dengan tubuh berisi dan rambut coklat dicat sasak tinggi plus make-up lengkap keluar dari mobil itu. Mata besar Ariva seperti hendak melompat keluar. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu dengan wanita ini.
“Ibu…,” desis Ariva. Edwin segera menemui Ibu itu.
“Maaf, apa Anda Ibu Eva Lydia?” Edwin langsung bertanya tanpa tedeng aling-aling.
“A-pa?!” mata Ibu itu melotot, dan meski sesaat ia mengejang. Seakan ada sepuluh ribu mega volt listrik yang menyetrumnya.
“Anda Ibu Eva? Karena kalau ya, ini Ariva, putri Ibu Eva yang sudah belasan tahun tidak pernah bertemu dengan beliau,” terang Edwin lebih lanjut, merangkul pundak Ariva yang tiba-tiba saja menjadi layu.
Mata coklat Ibu itu–soft lens–menatap tajam Ariva, melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dan lagi-lagi, entah kenapa tegang. Ia mematung, wajahnya yang tadi tampak kesal dan marah kini berubah pucat. Edwin menyadari hal itu.
“Ayahnya baru saja meninggal, dan ia harus dihadapkan pada persoalan baru kalau selama ini Ibunya masih hidup. Kami sudah mencari Ibu Eva Lydia sejak beberapa hari lalu, dan akhirnya kami sampai disini setelah mencari kesana kemari,” Edwin terus bicara mewakili Ariva yang sejak tadi diam tanpa bicara apa-apa, terus menatap nanar Ibu itu.
“Eva Lydia…,” setelah beberapa menit, Ibu itu menggumam pelan. “Dia… s-sudah meninggal… e-empat tahun lalu…,”
Dan kenyataan inilah yang paling tidak ingin mereka dengar. Ariva menemukan kembali suara dan perasaannya, setelah beberapa saat tenggelam ditelan kebisuan tanpa rasa.
“Ha-ha! Ibu bohong kan? Itu tidak benar karena Ibu saya PASTI masih hidup! Ayah sendiri yang bilang begitu. Kemarin kami sudah sampai disini, tapi pembantu bilang kalau tidak ada Ibu Eva Lydia disini, melainkan Ibu Ely. Dan sekarang, kami kembali ada disini berdasarkan petunjuk berbeda! Saya tahu Ayah tidak pernah bohong, Ayah benar! Ibu masih hidup dan INI adalah rumahnya!” air mata Ariva meleleh deras, mewakili perasaannya yang semberawut.
“Ini Ibu saya! Ibu Eva Lydia. Siapa Anda hingga dengan mudah mengatakan bahwa dia telah meninggal?!!” jerit Ariva tanpa bisa dibendung lagi, memperlihatkan foto Ayah dan Ibunya dengan tidak sabar. Ibu itu–entah siapa namanya-melihat sebentar, lalu berpaling.
“S-saya Ely, sahabat Eva. E-Eva meninggal karena kecelakaan. Kalau kamu tidak percaya, saya bisa tunjukan tempat ia dimakamkan,”
“BOHOOONG!!!” teriakan itu menggema, laksana petir di siang bolong. Tidak hanya menggemparkan tempat yang cukup tenang itu, namun juga langsung memporandakan setengah hati yang tertawan di dalam diri Ariva. Hati milik Edwin.
“Ibu pasti bohong!! Ibu BOHOOONG!! Ibu saya tidak meninggal. Tolonglah Ibu, beri tahu saya dimana ia berada. Beritahu saya, karena yang saya butuhkan bukan hartanya melainkan kasih sayangnya! Yang saya dan Abang saya butuhkan hanya CINTANYA!!”
“Ariva, tenanglah… Kita bicarakan ini semua dengan tenang, ok?!” Edwin berusaha menarik Ariva menjauhi Bu Ely, yang anehnya hanya diam dan berpaling dengan wajah berkerut seperti menahan tangis. Ia mungkin sangat sedih kembali diingatkan pada sahabatnya, pikir Edwin kalut. Oh Riva, please, tenanglah… Jangan buat aku sedih lagi…
“NGGAK BISA!! Ed, kamu tidak pernah merasakan jadi AKU!! Kau punya orang tua lengkap yang begitu mencintaimu. Aku?! Yatim yang berharap kasih sayang seorang Ibu! Apa itu salah? APA AKU SALAH?!!” Ia menjerit lagi, membuat Edwin tidak tahan. Dengan sedikit kasar ia menarik Ariva kedalam pelukannya, membenamkan kepala gadis itu kedalam dadanya. Mengusap kepala dan menepuk lembut punggungnya, terus berkata “sabar” meski Ariva terus meronta dan menjerit.
“Huhuhuhuhu… aku hanya ingin menemuinya, sekali saja. Merasakan pelukannya, usapannya, kasih sayangnya. Apa permintaanku terlalu berlebihan, Ed? Apa aku terlalu serakah meminta semua itu sehingga Tuhan enggan mengabulkannya?”
“Kau tidak serakah, Dear… permintaanmu wajar. Hanya saja mungkin belum saatnya kau merasakan itu. Akan ada cinta lain untukmu, percayalah…,”
Ariva terus menangis hingga lelah dipelukan Edwin. Sementara Bu Ely hanya diam menyaksikan dengan tatapan nanar. Setelah Ariva tenang dan kembali menguasai diri, ia menatap sendu Ibu setengah baya itu.
“Tolong beri tahu dimana Ibu saya dimakamkan,” ucap Ariva pasti, dengan suaranya yang serak.
“………,”
“!!!”
***
Ini bukan akhir permainan yang Ariva inginkan. Kekalahan. Puzzlenya mungkin utuh, tapi yang ia temukan justru sesuatu yang tidak ingin dilihatnya. Ya, karena kematian bukanlah hal yang ingin ditemui seseorang yang masih waras.
“Kau meninggalkanku, lagi. Tanpa memperlihatkan wajahmu di hadapanku sekali saja. Apa kau tidak mencintaiku? Tidak mencintai kedua anakmu? Benarkah kau seorang Ibu?” isak Ariva sambil meremas gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput dan bunga liar.
Edwin benar-benar tidak sanggup melihatnnya. Jika saja ia sendiri dan tidak harus terlihat kuat di depan Ariva, mungkin ia akan ikut meneteskan air mata melihat cahayanya begitu redup. Ariva-nya yang begitu kelabu ditelan kesedihan.
“Itu juga bukan keinginannya Riva. Takdirlah yang menentukan segalanya. Kau harus sabar…,”
“Aku selalu benci menangis karena itu akan membuatku lemah. Tapi semuanya begitu membingungkan, menjungkir-balikan duniaku! Apa aku salah jika ingin hidup bersama orang yang mencintaiku? Apa aku salah jika ingin mendapatkan seorang Ibu yang menyayangiku? Aku tidak minta harta. Aku hanya ingin cinta! Salahkah itu? Berlebihankah?” Ariva menunduk, menatap benci sekaligus rindu pada gundukan tanah itu.
Edwin benar-benar tidak tahan melihatnya yang semakin lama semakin redup, seolah seperti siang yang perlahan beranjak malam disaput mendung tanpa sedikitpun cahaya dari bulan dan bintang.
Dan di sore itu, dibawah lembayung senja yang memerah menghadirkan magenta, di depan sebuah makam, Edwin memutuskan mencoba mengetuk pintu hati Ariva untuk pertama kalinya. Berharap ia diizinkan untuk tetap tinggal disana, membawa setengah hati Ariva untuk menyeimbangkan hatinya sendiri.
“Apa aku boleh menggantikan posisinya, menjadi seseorang yang mencintamu sepenuh hati, memelukmu ketika bahagia dan bersedih, menerimamu apa adanya?” ucap Edwin pelan. “Apa aku boleh mencintaimu, memiliki hatimu?”
Ariva tersedak, menajamkan pendengarannya, lalu mendongak. Menatap nanar Edwin dengan mata sayunya setelah menangis.
“Apa?” tanyanya pelan, seakan tidak mendengar dengan cukup jelas pernyataan Edwin barusan.
Edwin menarik napas, meremas lembut jemari Ariva yang kotor oleh tanah dan merangkul pundaknya. “I love you, my dear…,”
Kali ini Ariva yakin mendengar peryataan itu. Bukan hanya karena mendengar untaian kalimat cinta itu, namun lebih karena melihat mata Edwin yang menyiratkan kesungguhan yang belum pernah Ariva lihat seelumnya.
“Ed…,” Ariva mendesah. “Apa maksud ucapanmu itu?”
Edwin menggeleng “Tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin au tahu karena aku telah lelah menunggu dibalik pintu hatimu, tertawan tanpa bisa memberitahumu bahwa aku ada di sana. Aku selalu mencintaimu, dari dulu, sekarang, sampai seterusnya. Dan itu nggak akan pernah berubah, malah bertambah…,”
Ariva meneteskan air mata lagi. Kali ini bukan karena takdir yang dianggapnya tidak adil, tapi karena ia tahu bahwa Edwin ternyata mencintainya, juga.
“Please, jangan menangis lagi, Dear. Kau selalu membuatku sedih jika meeteskan air mata. Tolonglah, tersenyum… ,” pinta Edwin memelas seraya mengusa air mata Ariva.
“Aku hanya… terharu. Ternyata masih ada cinta lain untukku,” Ariva tersenyum dan Edwin mendesah lega. “Terimakasih telah mencintaiku… Terimakasih…,”
Dan… Hup! Ia memeluk Edwin dengan begitu eratnya. Menangis sepuasnya kali ini di dada cowok itu. Edwin hanya diam, memeluk sambil terus mengusap-usap pundaknya dan menciumi ubun-ubun kepalanya. Menghirup wanginya rambut pendek Ariva.
Dan ketika matahari benar-benar telah kembali kepangkuan cakrawala, keduanya berdiri dan berjalan pulang. Antara lega karena berpikir telah menyelesaikan puzzle masa lalu yang ditinggalkan Ayah untuknya dan sedih karena puzzle itu berakhir tidak seperti yang diharapkan karena disana tertera gambar yang sangat ia benci. Tapi bagaimanapun, ada rasa lapang di hati keduanya. Karena sudah ada cinta lain yang menggantikan cinta yang telah pergi.
Oh kawan, bukankah Tuhan itu maha adil?
Benarkah seuruh kepingan puzzle Ariva sudah terpasang dan terkumpul?
Jawabannya, belum.
Karena kepingan terpenting yang ia cari, kini tengah menatap keduanya nanar dari balik pohon kamboja. Seorang wanita bertubuh berisi dan rambut coklat disasak tinggi, dengan soft lens coklat yang kini tengah mengeluarkan air mata. Ibu Ely, Eva Lydia.
“Maafkan Ibu, Nak. Selalu mempermainkanmu dan Abangmu. Maaf, karena tidak bisa mengatakan hal yang sesungguhnya, bahwa akulah Ibumu…,”
***
(By: Nalasari Tanjung)

Surat dari Malaikat Kecil

BUK!!

Ia terjengkang kebelakang. Aku menyeringai puas. Akhirnya aku bisa mempraktekan hasil latihan karateku. Belum tahu ya kalau aku sudah ban hitam!

“Sial!” dengusnya, Exel. Aku menatapnya dingin. Exel ini tipe anak badung sok berkuasa yang selalu menyembunyikan diri dibalik pangkat dan kedudukan orang tuanya. Sama sekali bukan tipe cowok sejati. Lihat saja sekarang, yang menolongnya hanya Rudy, Anton, dan Demas, para kacung setianya.

Dan kini ia mendapat ganjaran setimpal atas apa yang selama ia lakukan, khususnya terhadapku.

Selalu mengejekku karena ia tahu aku seorang piatu yang ditinggal Ibu.

“Brengsek!” ia mengusap ujung bibirnya, menatapku dengki. “Ternyata chiken ditinggal Induk kayak lo berani juga ya?!”

BUK! BUK!! DUK!!

Dan tanpa ampun aku menghajarnya habis-habisan. Untunglah kami sudah cukup jauh dari sekolah sehingga aku tidak perlu sungkan mengajar bajingan tengik ini!

“Denger cacing-cacing kotor! Bacot sial kalian sama sekali nggak pantes nyebut-nyebut tentang Nyokap gue. Dia terlalu berharga untuk manusia nggak guna macem lo semua!” seruku murka, menatap tajam keempat sosok yang sudah KO dihadapanku. Sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.

Aku pulang dengan amarah memuncak. Kesal bukan main. Huh, ini semua gara-gara anak kecil sial itu. Anak yang tega-teganya membunuh Ibu. Anak yang berlabelkan ‘adikku’.

Aku memasuki rumah dengan langkah berat. Tanpa disuruh, memori pahit itu berputar lagi di benakku layaknya rol film yang diputar di bioskop.

Beberapa tahun lalu Ibu meninggalkan kami semua untuk selamanya. Ibu telah dipanggil oleh Tuhan semesta alam, Tuhan yang menguasai jiwa raga umat manusia.

Ketika itu umurku masih dua belas tahun, masih kecil, masih membutuhkan figur seorang Ibu, sepenuhnya. Aku sangat dekat dengan Ibu. Sangat dekat. Bagiku Ibu adalah segalanya, selain Ayah. Kematian Ibu menjadi pukulan teramat pedih untukku. Aku tidak pernah rela Ibu meninggalkan kami, hingga detik ini.

Aku mengerti kehidupan. Maksudku, aku teramat tahu dan mengerti kalau kehidupan itu berputar. Dunia terus melaju, kehidupan terus berubah. Layaknya sebuah roda, kehidupan pun tak pernah berhenti berjalan. Hukum alam terus diterapkan, tidak peduli apa atau siapapun. Dan keluargaku adalah salah satu dari miliaran penduduk bumi yang mengalami masa-masa itu. Masa dimana roda ada kalanya terinjak dibawah.

Tapi sungguh, aku tidak ingin hukum yang seperti ini. Meski aku tahu suatu saat Ibu pasti meninggal, tapi kenapa harus saat itu? Saat dimana aku masih sangat membutuhkannya.

Begitulah akhirnya. Kehidupanku gelap untuk sesaat. Mataku kabur dan batinku tak dapat melihat ke depan. Ibu telah kembali pada Dzat yang menciptakannya. Ibu telah menyatu dengan tanah. Meninggalkanku, Ayah, dan seorang bayi perempuan yang baru saja dilahirkannya. Yang saat itu telah sukses menjelma menjadi malaikat maut laknat yang tega-teganya mengambil ibu dariku!

Benar. Semenjak bayi, ia kujuluki malaikat maut laknat. Atau Izrail terkutuk. Dialah yang merenggut Ibu dariku. Dialah yang membuat kehidupanku buram bahkan hingga tersisa hingga detik ini, setelah lima tahun kepergian Ibu.

“Holee... Kak Ibel pulang... Kak Ibel pulaang!!” suara cempreng khas balita itu mengejututkan lamunanku. Aku menoleh kearah suara, dan mendapati gadis cilik berusia lima tahun berlari menyongsongku. Amarahku kembali menyala.

“Kak Ibel dengelin Uty deh. Uty punya cerita buat Kakak...,” celoteh gadis kecil itu manja dengan suara cadelnya. Kini bocah yang tingginya hanya sampai pohon bonsai tetangga itu memeluk kakiku. Mendongakan kepalanya yang mungil dengan rambut keriwil khas balita sehingga membuat wajahnya–yang menurut semua orang lucu dan tembem–kepadaku.

Aku menepis tangannya dengan kasar. Mendorong tubuhnya hingga terjatuh di lantai tanpa belas kasihan. Huh, biar saja. Siapa suruh membuat kehidupanku hancur? Siapa suruh dulu membunuh Ibu hingga aku menerima ejekan-ejekan menyakitkan.

“Minggir! Dasar anak sial!” bentakku kasar. Tidak peduli mata bulat yang biasanya berbinar ceria itu kini menghadirkan mendung dan siap menurunkan hujan air mata disertai teriakannya laksana petir di siang bolong.

Aku meninggalkannya dan masuk ke kamar. Masih sempat kudengar suara lembut Oma berusaha menenangkannya, juga nyanyian yang cukup merdu dari Mbak Rita, baby sitter anak celaka itu.

Sekali lagi kutegaskan, aku sama sekali tak peduli. Toh ia juga tak peduli saat dengan sadisnya merenggut nyawa Ibu. Padahal Ibu sudah baik sekali memberinya tumpangan hidup selama sembilan bulan. Memberinya asupan nutrisi hingga ia menjadi seperti sekarang, menjadi salah satu balita cerdas nan sehat. Itu semua karena Ibu!

Dengan gerakan kasar aku menghempaskan tubuhku keatas ranjang. Tatapanku tiba-tiba terhenti pada figura besar di depanku. Figura berisi foto Ibu dan aku. Disana Ibu tersenyum lembut. Kami berpelukan sangat erat, seolah tak kan ada lagi saat dimana nanti hal yang sama akan terulang kembali.

Dan ternyata, memang begitulah kenyataannya.

^^^

Malamnya seusai dinner, pintu kamarku diketuk dari luar. Ternyata Ayah. Wajah tuanya yang masih terlihat tampan mengguratkan kelelahan yang teramat sangat. Aku tersenyum kearahnya. “Yah?”

Ayah balas tersenyum. Beliau duduk di atas ranjangku. Sementara aku masih di atas kursi meja belajar. Tadi aku memang sedang mengetik laporan untuk tugas sekolah di laptop saat Ayah datang.

“Tadi Omamu cerita, kamu bikin Uty nangis lagi, ya?” suara Ayah yang berat dan bersahaja, namun terdengar lembut memasuki ruang dengarku. Aku hanya diam.

“Ibel, kamu masih menyalahkan Uty atas kematian Ibu?” selidik Ayah. Beliau menghela napas berat saat aku tidak bersuara. “Sadarlah Ibel, Ibu pergi karena memang sudah begitu seharusnya, Allah yang menggariskan demikian. Kamu sudah besar, seharusnya bisa memahami hal itu,” Ayah menarik napas. Menatapku yang makin tertunduk dalam.

Ayah melanjutkan. “Apa tidak ada sedikit pun rasa belas kasihmu terhadap Uty? Setiap hari kamu bentak begitu, sudah lima tahun, Nak...,” kini tatapan Ayah melembut. Berusaha mencairkan hatiku kehangatannya. “Apa kamu tidak menyayangi Uty?”

“Tidak!” aku mengangkat wajah. Berang, berapi-api. “Untuk apa Ibel menyayangi bocah yang sudah membunuh Ibu? Apapun kata Ayah, hal itu tidak akan mengubah kenyataan, bahwa karena dialah Ibu meninggal. Karena melahirkan dia Ibu pergi dan Ibel diejek teman-teman!”

Ayah melotot. Aku mengerti, aku salah telah membentak Ayah. Tapi amarah membuatku gelap mata. Padahal selama ini aku tidak pernah berkata kasar pada orang tua.

“Ibel, jaga bicaramu! Apa kamu tidak mengerti apa yang Ayah bilang?! Kamu sudah besar, Ibel! Sadarlah kalau kamu bukan anak kecil lagi!” Ayah menghela napas, berusaha sabar. “Kalau kamu begini terus, Uty bisa jauh darimu. Kasihan dia...,”

“Kenapa aku harus mengasihani dia? Dia tidak pernah kasihan pada Ibu. Dia tidak pernah merasa kasihan padaku!”

“Belajarlah mengasihani orang lain sebelum kamu dikasihani!” seru Ayah tegas. “Apalagi Uty adalah adikmu. Kamu mau menyia-nyiakan dia? Padahal demi dia Ibu rela menukar nyawanya. Dan sekarang, kamu tega tidak menjaga peninggalan Ibu satu-satunya? Memperlakukan ia dengan tidak baik, padahal kamu tahu Ibumu adalah wanita penuh kasih. Kamu mau membuat Ibumu sedih di alam sana ?”

Aku tercekat. Kata-kata Ayah menohokku begitu telak. Aku hanya diam dan menunduk. Ayah berdiri dan menepuk pundakku.

“Apa kamu tahu Ibel, bahwa Uty begitu sedih diperlakukan begitu olehmu? Dia selalu bertanya pada Ayah, apa ia pernah berbuat salah padamu. Apa ia pernah melakukan suatu hal yang membuatmu begitu membencinya, begitu tidak menginginkannya. Dan ironisnya, ketika Ayah atau Oma hanya diam, ia selalu berkata begini...,” Ayah berdehem. “...’Kalau Uty bikin salah sama Kak Ibel, Uty minta maaf. Kalau Uty bikin Kak Ibel nangis dan sedih, Uty mau kok dipukul atau dicubit. Dibunuh kayak di film-film itu juga boleh. Asal Kakak mau maafin Uty, sayang lagi sama Uty seperti Kak Ela sayang sama Niko. Uty selalu sayang Kakak, Ayah..’” Ela dan Niko adalah tetangga depan rumah kami. Niko juga teman main Uty.

Ayah kembali menatapku. Tapi aku tak berani menatap balik matanya. Karena aku tahu kini mataku menghangat. Dadaku mendadak sakit dan rasanya sulit sekali bernapas. Aku tahu Ayah tidak bohong, karena sekali dua kali aku memang pernah mendengar ucapan polos itu terlontar dari bibir mungilnya ketika aku tidak sengaja lewat di depan kamar anak itu. Hal itu benar-benar mencubit perasaanku, menghantam nuraniku untuk berpikir. Ya, Ayah benar. Aku memang masih seperti anak kecil, childish. Aku memang belum dewasa menerima kehidupan.

Perkataan Ayah membuatku kembali berpikir. Oh Tuhan, apa benar perasaanku selama ini? Atau semua ini hanya sebuah penghalang, suatu kebohongan yang dihadirkan egoku, untuk menutupi nuraniku yang sesungguhnya. Bahwa sebenarnya... aku tidak pernah benar-benar membenci anak itu.

Perlahan, aku merasa ada yang luruh di dasar jiwaku...

^^^

Kain hitam itu ada di sana . Melambai tertiup angin. Dan pekarangan begitu ramai, dengan payung-payung hitam. Oh Tuhan, ini semua sama... sama seperti lima tahun silam.

Seperti orang kesetanan aku masuk rumah. Siapa, siapa yang meninggal? Siapa lagi yang tega meninggalkanku? Omakah? Ayah? Atau... Uty?!

Yang kutemukan pertama kali adalah sosok Ayah yang berdiri menerima tamu. Wajahnya terlihat sendu menyambut tamu. Mata beliau merah, seperti habis menangis. Kemudian aku melihat Oma... dengan selendang hitam menutupi kepalanya yang memutih dimakan usia. Jadi... jadi siapa yang meninggal? Diakah?

“Yah, ada apa ini? Siapa yang meninggal?” mataku jelalatan melihat sekeliling. Lalu melihat sesosok kecil tubuh di tengah ruangan, ditutupi kain hitam.

Ayah menatapku nanar, kemudian memelukku erat. “Adikmu Nak... Uty... memilih untuk menyusul Ibu... Dia tewas tertabrak mobil di depan kompleks...,”

APA?!

TIDAK!!

“NGGAK! Ayah pasti bohong!” seruku tiba-tiba melepaskan pelukan Ayah. “Uty nggak mati, pasti lagi ngumpet. Pasti!” aku berlari masuk kedalam rumah. Meninggalkan tamu-tamu yang menatapku prihatin, sama sekali tidak mengacuhkan tubuh kaku yang terbujur di tengah ruangan. Itu bukan Uty-ku! Adik kecilku tak mungkin meninggal. Ayah bohong, semua pasti bohong. Mereka mengerjaiku karena aku tahu, hari ini aku ulang tahun. Aku tahu, setelah nanti aku panik mencari, akan ada yang bilang “gotcha” dan terbahak menyaksikan kepanikanku.

Aku terus berlari. Mencari Uty kesetiap sudut rumah. Ke bawah kolong tempat tidur, di balik tirai jendela, kamar mandi, di setiap kamar, taman belakang, bahkan ke rumah Ela dan Niko. Tapi ia tak kunjung kutemukan. Tidak ada jerit behagianya ketika aku pulang dan kembali ke rumah.

Dengan gontai aku masuk kekamar terakhir, kamar Uty. Namun yang kutemukan hanyalah kamar dingin dan kosong. Tidak ada apapun di sana . Tidak ada Uty, tidak ada siapapun.

Aku terhempas lemas di ranjang kecil Uty. Mataku masih mencari. Namun tak kunjung kutemukan. Sampai akhirnya aku menemukan sesuatu di meja belajar anak itu. Aku bergegas menghampirinya. Ternyata sebuah surat dan sepiring omelet keju yang sedikit berantakan.

Aku membaca surat itu. Tulisan tangan Uty yang belum rapi, khas anak TK. Tulisan yang dulu sempat ia perlihatkan untukku.

Buat Kak Ibel tersayang,

Kakak, waktu Kakak baca surat Uty, mungkin Uty udah nggak ada lagi disini. Uty lagi menuhin keinginannya Kak Ibel. Uty mau mati.

Kakak selalu bilang kalau kakak lebih suka Uty mati kan ? Jadi Uty dapet ide. Sekarag kan ulang tahunnya Kakak, Uty mau ngasih hadiah yang paling Kakak inginkan, yaitu kematian Uty.

Uty dapet idenya waktu lagi nonton tivi. Mati itu artinya ketabrak mobil ya Kak? Habis, waktu Uty nonton sinetron, katanya mati kalo ketabrak mobil. Uty nggak tau juga sih mati itu apa. Hehehe...

Sebelum Uty mati (?), Uty mau Kakak tau kalo Uty tuh sayaang... banget sama Kakak. Maafin Uty ya Kak kalo udah bikin Kakak sedih. Uty nggak bermaksud bunuh Ibu seperti yang selalu Kakak bilang. Sekali lagi, maafin Uty ya Kak.

Uty sayang Kak Ibel, selalu dan selamanya.

Selamat ulang tahun ya Kak. Semoga Pajang umur.

*Uty juga buatin Kakak omelet keju sama Mbak Rita dan Oma. Semoga Kakak menyukainya ya!

Salam sayang

Uty

Tidak, ini tidak benar. Uty sama sekali tidak mati! Tidak... TIDAK!!

Tidak...

Tapi kini tubuh kecil kaku itu ada dipelukanku... Sementara surat darinya kugenggam erat. Tidak! Uty tolong jangan tinggalin Kakak. Kakak sayang Uty, selamanya dan itu nggak akan pernah berubah. Uty... tolong... tolong jangan tinggalin Kakak...

UTYYYY!!!

BRAK!

“Kakak?”

Hah? Aku menoleh ke samping dan menemukan Uty berdiri di samping ranjangku. Jadi, jadi Uty nggak meninggal? Jadi itu semua hanya... mimpi?

Aku langsung menghambur memeluk anak itu. Gadis kecilku, malaikat kecilku. Oh Tuhan... rasanya aku begitu rindu ingin memeluk tubuh kecil ini. Menciuminya, menimangnya. Sudah berapa banyak waktuku yang telah terbuang untuk merawatnya? Memberikan kasihku sebagai seorang kakak padanya.

“Uty... maafin Kakak ya. Kakak udah jahat sama kamu. Maafin Kakak... Maaf...,” aku terisak sambil memeluknya. Aku merasakan jemari kecilnya memelukku, erat. “Kakak juga sayang sama Uty...,”

“Kakak kenapa?” Uty melepaskan pelukanku, menatapku bingung dengan mata besarnya yang berbinar lucu. “Kakak habis mimpi buruk ya?” lalu ia terbelalak. Begitu menggemaskan. “Kak Ibel nangis?”

Aku tersenyum kecil sambil mengusap air mataku. Kemudian mengacak-acak rambutnya. Mengangkatnya untuk naik ketempat tidurku, memeluknya.

Ada banyak hal yang ingin kulakukan untuknya. Tapi kurasa, hal yang paling ingin kulakukan adalah memeluknya terus seperti ini.

“Kakak udah nggak benci Uty lagi? Udah nggak marah sama Uty?” tanyanya polos. Aku menggeleng haru. Mememluknya lebih erat.

“Kakak nggak pernah benci adik semanis dan secantik Uty. Maafin Kakak ya udah jahatin Uty selama ini...,”

Ia mengangguk. “Nggak papa, Uty selalu sayang Kak Ibel,”

Aku tersenyum, kembali memeluknya.

“Oh ya, Uty punya sesuatu buat Kakak,” Uty menepuk jidatnya, tampak lucu. Ya, aku juga sadar Uty adalah seorang balita sehat dan menggemaskan. Dengan tubuhnya yang padat berisi, rambutnya yang keriwil kecil, jemarinya yang padat, kulitnya yang putih bersih. Semuanya. Dan Uty bukan anak kecil rewel yang selalu minta ini itu.

“Apa?”

“Omelet keju!”

Aku terdiam. Membiarkannya berlari senang keluar kamarku. Ya, baru kali ini aku melihatnya begitu bahagia. Aku tercenung.

Dan tiba-tiba... ada sesuatu yang terjatuh dari ranjangku. Terbang begitu saja. Aku memungutnya. Kemudian terbelalak membaca isi kertas – surat itu.

Buat Kak Ibel tersayang....

Ini kan ...

Surat dalam mimpiku. Remuk, seperti sehabis di genggam. Dan ada bekas air mata di atasnya. Aku tertegun.

Tiba-tiba aku merasa limbung. Mendadak tidak yakin. Benarkah yang tadi hanya sekadar mimpi? Mungkinkah... itu adalah peringatan untukku?

Tapi apapun itu, aku bersyukur. Setidaknya aku sudah lepas dari mimpi burukku. Bagaimapun, aku tidak pernah membenci Uty. Dan aku tahu ia bukan malaikat maut laknat seperti anggapanku selama ini.

Ia adalah Uty. Adik kecilku yang sangat manis. Hadiah teakhir yang ditinggalkan Ibu untukku, yang harus kujaga dan kurawat sepenuh hati.

Seorang malaikat kecil yang begitu putih dan bersih.

Terimakasih malaikat kecilku. Terimakasih atas suratmu yang berharga. Terimakasih atas kasih sayangmu yang tak pernah habis untukku, untuk Kakakmu yang tolol ini.

Selamanya, aku akan selalu menyayangimu... selalu. Jangan pernah pergi lagi ya...

(By: Nalasari T)

^^^


A Little Thing About Love

Terkadang kita melihat betapa sangat menyedihkannya seseorang ketika diputus cinta. Tidak jarang mereka harus mengakhiri hidup hanya karena ditinggal oleh seorang kekasih. Bukankah itu hal yang sangat bodoh? Setidaknya aku berpikir begitu. Apa sih pentingnya mengakhiri kesenangan, bahkan kehidupan hanya karena ditinggal seorang kekasih? Memang itu akan sangat pedih, tapi... hey guys! Hidup tuh cuma sekali dan jangan pernah disia-siakan untuk menangisi sesuatu yang seharusnya tidak perlu.

Kehidupan tanpa cinta terasa hampa. Manusia ada di dunia, tidak lain karena cinta. Cinta dari Sang Pencipta, cinta dari orang tua, saudara, teman-teman, dan seseorang yang nantinya akan menjadi seseorang untuk kita. Tapi apakah kau harus menghapus kebahagiaan, menutup cinta dari orang lain seperti keluarga ketika kekasih yang kau cintai pergi meninggalkanmu?

Cinta benar-benar membuat orang kehilangan logika. Benar bukan? Jangan kau sangak hanya perempuan yang berjiwa melankolis sehingga berani mati ketika sang kekasih pergi darinya. Kau harus buka mata, karena sangat banyak pria yang ikut terpuruk ketika ditinggal kekasih.

Jadi, sebenarnya ini keasalahan siapa? Kalau mau bilang orang itu bodoh berkali-kali pun, terkadang yang ditemui malah orang pintar yang menjadi bodoh karena cinta. Dukungan dari sahabat, keluarga, dan teman-teman sangat diperlukan bagi mereka yang kehilangan asa seperti ini. Cinta itu ibarat racun, seperti Kahlil Gibran bilang. Racun yang mengalir dari gua-gua neraka, yang pada tegukan pertama begitu menyegarkan, tapi berakibat sesuatu yang fatal dan menjadi bom waktu bagi diri sendiri. Cinta akan terasa indah ketika sedang bahagia, namun akan begitu menyakitkan ketika semuanya hilang.

Kamu-kamu yang punya sodara, sahabat, atau teman yang begitu putus asa ditinggal cinta, mari dengan setulus hati hibur mereka. Bilang kalo cowo/cewe di dunia tuh nggak cuma satu, tapi miliaran jumlahnya. Dan ia bisa pilih atu yang terbaik, terbaik dari dia yang telah meninggalkannya. Beri dia support agar nggak terpuruk dan akhirnya nekat mengakhiri hidupnya sendiri.

At least, mari sama-sama kita berjuang ujntuk mendapatkan cinta sejati. Dan jangan sekali-kali berlaku bodoh dengan sedih berkepanjangan bahkan rela mati bersama kepergian cinta si dia. Anggap aja yang ninggalin kamu tuh bego, oon, tolol, dan stupid karena mau-mau aja ninggalin orang sebaik kamu dan optimis kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari dirinya.

Ganbatte ne minnasan!! ^_^

Minggu, 04 Oktober 2009

LOVE STORY



Ada yang bilang cinta itu seperti mawar
penuh rintangan menuju keindahan Ada yang bilang cinta itu seperti api yang membara
panas dan menggairahkan

Dan kudengar, cinta seperti angin,
yang tak memiliki rasa dan warna
namun memberi kesejukan dan kehidupan

Pun cinta seperti danau
seolah dapat diselami, namun ternyata begitu dalam
hingga kau tenggelam dalam pesonanya

Seperti air,
mengalir tenang dan menyegarkan,
hingga bermuara pada samudera kebebasan, lapang dan tidak terbatas...

Namun apapun itu,
cinta tetaplah cinta...
yang selalu tulus memberi tanpa mengharap imbalan,