“Piyu, ada yang mencarimu,” suara Bang Vino terdengar sampai ke halaman belakang, tempat Piyu sibuk dengan lukisannya. Piyu mendongak, mendapati Bang Vino melongok dari ruang depan.
“Siapa?”
“Cewek,” Abangnya itu nyengir kuda, lalu langsung hilang dari pandangan. Meninggalkan Piyu yang terbengong-bengong heran.
Karena penasaran, ia bangkit meninggalkan keasyikannya melukis seekor burung gereja yang tengah bertengger manis di atas pohon jambu belakang rumah.
“Shena?” seru Piyu lirih, kaget melihat gadis tinggi ramping itu telah berdiri di depan pintu rumahnya.
Gadis yang dipanggil Shena itu tersenyum hangat. Mengangguk sopan pada Bang Vino yang numpang lewat. Kayaknya ia pulang hanya untuk mengambil sesuatu karena sekarang ia sudah nangkring di atas motornya, kembali ke kantor.
“Hai Piyu,” sapanya kalem. Melihat ke dalam rumah dari balik tubuh jangkung cowok di depannya. “Boleh aku masuk?”
“Hah?” Piyu ndomblong. Lalu menggeleng. “Maaf, tapi ngapain kamu ke sini, ke rumahku?” tiba-tiba saja nada suara Piyu berubah datar. Berbeda sama sekali dengan ekspresi terkejutnya barusan.
Shena terdiam. Bingung mau jawab apa. “Aku… ng… mau dilukis olehmu,” ia menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal. “Bisa?”
Piyu menatap tajam gadis yang terlihat salah tingkah itu. Lalu menarik napas, menggeser badannya ke belakang tanpa memberi jalan masuk untuk Shena. “Maaf, aku bukan pelukis bayaran,” ia mengatupkan rahang. “Kamu boleh pergi sekarang,”
BRAK! Dan yang menemani Shena saat ini adalah daun pintu yang terbanting tepat di depan hidung bangirnya.
Piyu menggerutu, menarik napas berkali-kali sambil terus berjalan menuju halaman belakang, tempat kanvas dan alat lukisnya yang lain menunggu dengan setia. Ngapain sih dia kesini? Tumben banget. Dan alasannya itu loh, minta dilukis? Nggak masuk akal banget!
Baru saja pantat Piyu mencium bantal kursi, bel pintu di depan berbunyi lagi. Ia kembali beridiri, membuka pintu, dan menemukan Shena sedang tersenyum ragu ke arahnya.
“Ada yang tertinggal?” tanyanya dingin. Shena menggeleng. Lalu menarik napas.
“Sebenarnya aku ingin menyerahkan ini, proposal kita yang besok pagi mau diserahkan ke dekan. Kamu kan ketua panitianya, jadi kupikir kamu harus tahu, karena mungkin saja masih ada yang perlu diedit,” terang Shena. Ia menyerahkan proposal yang sudah djilid rapi itu ragu-ragu. Menatap Piyu agak takut. “Maaf telah mengarang alasan bodoh,”
Pintu melirik Shena sekilas ketika mencermati proposal itu. “Ya, kau memang bodoh,” ia tersenyum dan itu sungguh, sungguh membuat Shena lega dan… melambung hingga langit ke tujuh!
“Proposalnya udah oke. Biar ditinggal di sini dulu. Besok aku dan Indra yang akan mengantarkannya ke dekan. Ada lagi?”
Shena menarik bibirnya, ragu dan bingung. “Ng… sebenarnya… mm…,” ia tampak sangat gugup. Piyu jadi tidak tega. Ia melunakkan sedikit nada bicaranya pada adik tingkatnya itu.
“Ada apa, Na?”
“Ng… b-boleh… boleh aku pinjam… toiletmu?” Shena mencuri pandang, agak takut dan ragu. Mau tak mau Piyu mengangguk, menahan senyum geli dan mempersilahkan gadis itu masuk.
“Bilang dari tadi dong,” ucapnya tanpa bisa ditahan. Shena mengangguk dan buru-buru ngacir ke arah yang ditunjukan Piyu.
Lima menit kemudian Shena keluar dari toilet dan menemukan Piyu sudah kembali sibuk dengan lukisannya. Shena mendekatinya ragu-ragu.
“Kamu… lagi lukis apa?” Piyu kaget, tapi ia segera menjawab tanpa mengalihkan tatapannya dari kanvas, terus melukis.
“Kamu bisa melihatnya sendiri kan?”
Shena mengangguk, tanpa sadar telah berdiri memperhatikan Piyu melukis selama setengah jam tanpa beranjak, terpaku oleh pesona ganjil dan aneh cowok itu. Shena tertarik tanpa bisa lepas seperti pertemun dan interaksi mereka sebelumnya.
“Sudah jadi,” ia berdesis kagum, memperhatikan seekor burung gereja berlatar pohon jambu dan langit malam. Shena menatapnya heran.
“Tapi ini kan masih sore,” ia menunjuk langit. “Langitnya juga cerah. Bukankah lebih baik berlatarkan senja, dengan mega atau magenta yang menunggu matahrari kembali kepangkuan cakrawala. Pasti akan lebih bagus,” pernyataan itu begit lugu, lugas dan polos. Tapi hal itu cukup membuat Piyu kembali menjadi ia sebelumnya. Seorang laki-laki dingin dan enggan dekat-dekat wanita.
“Aku tidak menyukai senja,” ia menatap Shena tajam. Seketika Shena sadar hawanya sudah berubah tapi tetap saja ia masih terpancang tak berdaya di samping cowok itu. “Dan karena sudah senja seperti katamu, sekarang kau boleh pulang,”
Shena menelan ludah, mengangguk dan berbalik kaku. Kemudian terburu-buru mengambil tasnya sambil mencicit pamit. “Permisi Piyu!”
Dan dalam kesendirian setelah semuanya tak ada lagi di sampingnya, Piyu merasakan hawa dingin biasa yang selalu menyergapnya ketika hatinya terasa begitu kosong dan hampa. Mendadak, ia kembali kehilangan arah terhadap kompas hatinya.
^^^
“Yu, sorry gue nggak bisa nemenin lo ke dekan. Gue ada kencan sama Rifka,” ucap Indra keesokan harinya. Nyengir Kuda tanpa rasa bersalah. “Plis ngertiin gue, man! Lo tahu ndiri gue udah gebet dia dari jaman kapan gila. Oke oke,”
Piyu memberenggut. “Sarap lo ye! Ini tuh acara kita, lo wakil ketua! Tanggung jawab dikit dong sama jabatan…,”
“Jiaaah, bro! Sekali ini doang kok. Lagian lo bakal ada yang nemenin kok,” Indra nyengir lagi, menaik-naikan alisnya.
“Hah? Lo bener-bener nyari keuntungan banget ya? Emang sapa yang bego bangetmau gantiin lo?”
Ukiran senyum Indra makin lebar. Menunjuk ke arah beberapa panitia yang sedang berkumpul. “Tuh, gue udah minta tolong sekretaris panitia, Shena,”
Piyu terpaku, menatap gadis yang sedang menerangkan sesuatu dengan semangat di seberang sana begitu lekat.
Indra melanjutkan. “Gimana? Deal?”
Piyu kembali sadar. Menonjok pelan bahu Indra. “Nggak,, deal apaan! Gue males pergi ama cewek,”
“Lebai lo! Biasanya lo lempeng-lempeng aja kok kalo disuruh kemana-mana bareng Dhita, Ine, atau cewek-cewek laen. Napa ama Shena kagak? Lo ada masalah ama dia?” selidik Indra. Masalahnya, bukan sekali ini saja Piyu ogah dipasangkan dengan Shena. Ia tampak selalu menghindari gadis itu, bersikap terlalu dingin dan acuh. Padahal meskipun Piyu seoraang cowok yang kayaknya nggak punya rasa apa-apa sama cewek, yang dingin dan lempeng, tetep aja nggak pernah segitunya. Ia masih berinteraksi meski pun nggak intim seperti yang dilakukan cowok lain.
“Nggak kok,” Piyu melengos. “Gue Cuma males,”
Indra mengangkat alis. Lalu angkat bahu. “Terserah deh, pokoknya hari ini gue izin dan lo bakal ke dekan bareng Shena karena Cuma dia panitia yang mau nemenin lo. Sip bro? See ya!”
Dan yang bisa Piyu lakukan hanya bengong memandang Indra yang berjalan semakin jauh, menuju Rifka yang telah berdiri menantinya di depan sekretariat.
Kini ia malah garuk-garuk kepala. Bingung mau melakukan apa. Sempat terbersit di kepalanya ia akan pergi sendir ke dekan dan besoknya akan memberikan seabrek tugas buat Indra demi menghukumnya. Tapi ternyata Shena sudah keburu menghampirinya.
“Kita pergi sekarang?” tanyanya. Piyu kaget, dan tanpa bisa dicegah Shena sudah menarik lengannya. “Ayo, ntar keburu beliau nggak ada di ruangan,”
Tanpa bisa menolak, Piyu melangkah mengikuti Shena menuju ruangan dekan. Memperhatikan gadis yang berjalan di depanya itu, dan mendadak hatinya terasa sakit lagi. Ia melepaskan pegangan tangan Shena dengan sedikit kasar.
“Sudah, aku bisa jalan sendiri!” serunya kaku, lalu kembali melangkah meninggalkan Shena yang terpaku di belakangnya.
^^^
Sore kembali bersaput mendung. Piyu mendongak memandang awan hitam yang mulai berarak pelan. Tampaknya akan segera hujan. Senja bersaput mendung, sama dengan waktu itu. Waktu dimana dunianya mulai terbalik, tanpa arah.
Tin tin!
Tiba-tiba saja suara klakson mobil sedan hijau mengagetkan Piyu. Ia menoleh dan mendapati Shena beranjak keluar dari mobilnya.
“Piyu, kamu nggak bawa motor ya? Bareng aku aja yuk?” ajak Shena memamerkan senyumnya.
“Nggak usah, aku naik bus,”
“Tapi kan lebih hemat dan cepat kalo bareng aku…,”
“NGGAK USAH!” seru Piyu menggelegar. Menatap Shena berapi-api dan tanpa bisa ditahan emosinya meluap seperti larva pijar panas yang menyembur dari pusat gunung berapi. “Kamu bebal ya? Aku selalu bilang tidak tapi kamu tetap saja mengikutiku, seperti bayangan yang sama sekali tidak kuinginkan!”
Tes tes tes…
Lagi, seperti saat itu. Kini hujan pun mulai turun membasahi bumi tempat Piyu berpijak, membasahi hatinya dengan penyesalan.
Shena mendongak, matanya yang besar berkaca-kaca. Hatinya terasa sakit. Sakit karena ia selalu diperlakukan buruk oleh Piyu, sakit karena selalu saja hanya dirinnya yang terlihat begitu dibenci, sakit karena perhatiannya selalu ditampik, padahal terhadap cowok ini ia selalu…
“Piyu, kenapa sih kamu membenciku? Apa salahku sampai kamu terlihat begiu enggan dekat-dekat denganku. Apa yang telah kulakukan sampai membuatmu anti terhadapku? Padahal dengan gadis-gadis lain, kamu biasa saja,” ujar Shena, terengah-engah tersulut ketidakmengertian. “Apa yang salah pada diriku yang sudah begitu mencintaimu!!?”
Mata Piyu membesar, melotot tidak percaya terhadap pernyataan Shena. Rasanya hatinya menjadi begitu dingin, bahkan lebih diginn daripada tubuhnya yang sudah basah kuyup oleh hujan.
“Kenapa? Kamu kaget?” seru Shena, ia kembali mencari manik mata Piyu. “Aku selalu mencintaimu, dari dulu ketika pertama kali kenal kamu hingga detik ini. Aku selalu menyukaimu, meski kamu terlihat nggak mau dekat-dekat denganku. Aku benar-benar nggak ngerti alasanmu terlihat selalu menjauhiku. Yang aku tahu, aku hanya ingin selalu memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan untukmu. Apa aku salah, Piyu?”
Kini dari mata itu pun keluar hujan. Piyu menatapnya tak berdaya.
“Apa aku salah telah mencintaimu? Apa aku salah berusaha melakukan apapun untuk mendekatimu?” kali ini suaranya lirih, hingga seakan bersatu dengan hujan. “Apa aku salah…?”
Hening, bersama hujan dan deru angin. Bersama isak tertahan Shena, bersama luka yang kembali menggores hati bernanah milik Piyu.
Kamu nggak salah Shena, kamu samasekali nggak salah…
Tapi kalimat itu hanya bisa diucapkannya dalam hati. Kalimat yang selamanya tidak akan pernah berani ia ucapkan, oleh Piyu sang pecundang.
“Maaf telah membuatmu terganggu,” Shena mengusap wajahnya, berusaha tersenyum. “Janji, mulai sekarang aku nggak akan menganggumu lagi. Maaf sudah begitu egois mempertahankan cintaku padahal kamu sepertinya sudah muak padaku. Aku janji, kamu bahkan tidak akan pernah melihatku lagi, di tempat ini atau dimana pun,”
Untuk yang kedua kalinya, mata Piyu membesar, bingung.
“Besok aku pindah ke Paris. Mungkin akan menetap lama di sana,” ia memegang dadanya. “Perlu waktu sangat lama untuk menyembuhkan lukaku. Kamu tahu, rasanya benar-benar sakit,” ia menarik napas. Lalu berbalik. “Kuharap suatu saat aku beruntung bisa menyembuhkannya dan bisa melihatmu tersenyum tanpa tatapan benci lagi kepadaku,”
Dalam tubuh basahnya, Shena masuk mobil, menutup pintu dan satu menit kemudian telah melindas jalan raya.
Maaf Shena… maaf… maaf… maaf… maafkan aku yang telah begitu bodoh, maafkan pecundang ini, maafkan pecundang masa lalu ini…
Piyu menatap nanar ke ujung jalan, tempat mobil Shena menghilang. Hatinya terasa sakit lagi, seolah kembali ke masa lalu.
Maaf Shena, bukan keinginanku untuk bersikap tidak adil padamu, untuk bersikap kasar dan mengabaikan perasaanmu, menepis cintamu. Mungkin karena aku terlalu mencintaimu, hingga aku tidak ingin kau terluka, karena aku.
Maaf Shena, kuharap walau hatimu sekarang terluka, nanti tetap akan sembuh juga. Tidak seperti aku, seorang pecundang yang telah kalah oleh tikaman masa lalu…
Masa lalu yang membuatku tidak berani untuk mencintai wanita, mencintaimu, sekali lagi…
-nALa-
“Siapa?”
“Cewek,” Abangnya itu nyengir kuda, lalu langsung hilang dari pandangan. Meninggalkan Piyu yang terbengong-bengong heran.
Karena penasaran, ia bangkit meninggalkan keasyikannya melukis seekor burung gereja yang tengah bertengger manis di atas pohon jambu belakang rumah.
“Shena?” seru Piyu lirih, kaget melihat gadis tinggi ramping itu telah berdiri di depan pintu rumahnya.
Gadis yang dipanggil Shena itu tersenyum hangat. Mengangguk sopan pada Bang Vino yang numpang lewat. Kayaknya ia pulang hanya untuk mengambil sesuatu karena sekarang ia sudah nangkring di atas motornya, kembali ke kantor.
“Hai Piyu,” sapanya kalem. Melihat ke dalam rumah dari balik tubuh jangkung cowok di depannya. “Boleh aku masuk?”
“Hah?” Piyu ndomblong. Lalu menggeleng. “Maaf, tapi ngapain kamu ke sini, ke rumahku?” tiba-tiba saja nada suara Piyu berubah datar. Berbeda sama sekali dengan ekspresi terkejutnya barusan.
Shena terdiam. Bingung mau jawab apa. “Aku… ng… mau dilukis olehmu,” ia menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal. “Bisa?”
Piyu menatap tajam gadis yang terlihat salah tingkah itu. Lalu menarik napas, menggeser badannya ke belakang tanpa memberi jalan masuk untuk Shena. “Maaf, aku bukan pelukis bayaran,” ia mengatupkan rahang. “Kamu boleh pergi sekarang,”
BRAK! Dan yang menemani Shena saat ini adalah daun pintu yang terbanting tepat di depan hidung bangirnya.
Piyu menggerutu, menarik napas berkali-kali sambil terus berjalan menuju halaman belakang, tempat kanvas dan alat lukisnya yang lain menunggu dengan setia. Ngapain sih dia kesini? Tumben banget. Dan alasannya itu loh, minta dilukis? Nggak masuk akal banget!
Baru saja pantat Piyu mencium bantal kursi, bel pintu di depan berbunyi lagi. Ia kembali beridiri, membuka pintu, dan menemukan Shena sedang tersenyum ragu ke arahnya.
“Ada yang tertinggal?” tanyanya dingin. Shena menggeleng. Lalu menarik napas.
“Sebenarnya aku ingin menyerahkan ini, proposal kita yang besok pagi mau diserahkan ke dekan. Kamu kan ketua panitianya, jadi kupikir kamu harus tahu, karena mungkin saja masih ada yang perlu diedit,” terang Shena. Ia menyerahkan proposal yang sudah djilid rapi itu ragu-ragu. Menatap Piyu agak takut. “Maaf telah mengarang alasan bodoh,”
Pintu melirik Shena sekilas ketika mencermati proposal itu. “Ya, kau memang bodoh,” ia tersenyum dan itu sungguh, sungguh membuat Shena lega dan… melambung hingga langit ke tujuh!
“Proposalnya udah oke. Biar ditinggal di sini dulu. Besok aku dan Indra yang akan mengantarkannya ke dekan. Ada lagi?”
Shena menarik bibirnya, ragu dan bingung. “Ng… sebenarnya… mm…,” ia tampak sangat gugup. Piyu jadi tidak tega. Ia melunakkan sedikit nada bicaranya pada adik tingkatnya itu.
“Ada apa, Na?”
“Ng… b-boleh… boleh aku pinjam… toiletmu?” Shena mencuri pandang, agak takut dan ragu. Mau tak mau Piyu mengangguk, menahan senyum geli dan mempersilahkan gadis itu masuk.
“Bilang dari tadi dong,” ucapnya tanpa bisa ditahan. Shena mengangguk dan buru-buru ngacir ke arah yang ditunjukan Piyu.
Lima menit kemudian Shena keluar dari toilet dan menemukan Piyu sudah kembali sibuk dengan lukisannya. Shena mendekatinya ragu-ragu.
“Kamu… lagi lukis apa?” Piyu kaget, tapi ia segera menjawab tanpa mengalihkan tatapannya dari kanvas, terus melukis.
“Kamu bisa melihatnya sendiri kan?”
Shena mengangguk, tanpa sadar telah berdiri memperhatikan Piyu melukis selama setengah jam tanpa beranjak, terpaku oleh pesona ganjil dan aneh cowok itu. Shena tertarik tanpa bisa lepas seperti pertemun dan interaksi mereka sebelumnya.
“Sudah jadi,” ia berdesis kagum, memperhatikan seekor burung gereja berlatar pohon jambu dan langit malam. Shena menatapnya heran.
“Tapi ini kan masih sore,” ia menunjuk langit. “Langitnya juga cerah. Bukankah lebih baik berlatarkan senja, dengan mega atau magenta yang menunggu matahrari kembali kepangkuan cakrawala. Pasti akan lebih bagus,” pernyataan itu begit lugu, lugas dan polos. Tapi hal itu cukup membuat Piyu kembali menjadi ia sebelumnya. Seorang laki-laki dingin dan enggan dekat-dekat wanita.
“Aku tidak menyukai senja,” ia menatap Shena tajam. Seketika Shena sadar hawanya sudah berubah tapi tetap saja ia masih terpancang tak berdaya di samping cowok itu. “Dan karena sudah senja seperti katamu, sekarang kau boleh pulang,”
Shena menelan ludah, mengangguk dan berbalik kaku. Kemudian terburu-buru mengambil tasnya sambil mencicit pamit. “Permisi Piyu!”
Dan dalam kesendirian setelah semuanya tak ada lagi di sampingnya, Piyu merasakan hawa dingin biasa yang selalu menyergapnya ketika hatinya terasa begitu kosong dan hampa. Mendadak, ia kembali kehilangan arah terhadap kompas hatinya.
^^^
“Yu, sorry gue nggak bisa nemenin lo ke dekan. Gue ada kencan sama Rifka,” ucap Indra keesokan harinya. Nyengir Kuda tanpa rasa bersalah. “Plis ngertiin gue, man! Lo tahu ndiri gue udah gebet dia dari jaman kapan gila. Oke oke,”
Piyu memberenggut. “Sarap lo ye! Ini tuh acara kita, lo wakil ketua! Tanggung jawab dikit dong sama jabatan…,”
“Jiaaah, bro! Sekali ini doang kok. Lagian lo bakal ada yang nemenin kok,” Indra nyengir lagi, menaik-naikan alisnya.
“Hah? Lo bener-bener nyari keuntungan banget ya? Emang sapa yang bego bangetmau gantiin lo?”
Ukiran senyum Indra makin lebar. Menunjuk ke arah beberapa panitia yang sedang berkumpul. “Tuh, gue udah minta tolong sekretaris panitia, Shena,”
Piyu terpaku, menatap gadis yang sedang menerangkan sesuatu dengan semangat di seberang sana begitu lekat.
Indra melanjutkan. “Gimana? Deal?”
Piyu kembali sadar. Menonjok pelan bahu Indra. “Nggak,, deal apaan! Gue males pergi ama cewek,”
“Lebai lo! Biasanya lo lempeng-lempeng aja kok kalo disuruh kemana-mana bareng Dhita, Ine, atau cewek-cewek laen. Napa ama Shena kagak? Lo ada masalah ama dia?” selidik Indra. Masalahnya, bukan sekali ini saja Piyu ogah dipasangkan dengan Shena. Ia tampak selalu menghindari gadis itu, bersikap terlalu dingin dan acuh. Padahal meskipun Piyu seoraang cowok yang kayaknya nggak punya rasa apa-apa sama cewek, yang dingin dan lempeng, tetep aja nggak pernah segitunya. Ia masih berinteraksi meski pun nggak intim seperti yang dilakukan cowok lain.
“Nggak kok,” Piyu melengos. “Gue Cuma males,”
Indra mengangkat alis. Lalu angkat bahu. “Terserah deh, pokoknya hari ini gue izin dan lo bakal ke dekan bareng Shena karena Cuma dia panitia yang mau nemenin lo. Sip bro? See ya!”
Dan yang bisa Piyu lakukan hanya bengong memandang Indra yang berjalan semakin jauh, menuju Rifka yang telah berdiri menantinya di depan sekretariat.
Kini ia malah garuk-garuk kepala. Bingung mau melakukan apa. Sempat terbersit di kepalanya ia akan pergi sendir ke dekan dan besoknya akan memberikan seabrek tugas buat Indra demi menghukumnya. Tapi ternyata Shena sudah keburu menghampirinya.
“Kita pergi sekarang?” tanyanya. Piyu kaget, dan tanpa bisa dicegah Shena sudah menarik lengannya. “Ayo, ntar keburu beliau nggak ada di ruangan,”
Tanpa bisa menolak, Piyu melangkah mengikuti Shena menuju ruangan dekan. Memperhatikan gadis yang berjalan di depanya itu, dan mendadak hatinya terasa sakit lagi. Ia melepaskan pegangan tangan Shena dengan sedikit kasar.
“Sudah, aku bisa jalan sendiri!” serunya kaku, lalu kembali melangkah meninggalkan Shena yang terpaku di belakangnya.
^^^
Sore kembali bersaput mendung. Piyu mendongak memandang awan hitam yang mulai berarak pelan. Tampaknya akan segera hujan. Senja bersaput mendung, sama dengan waktu itu. Waktu dimana dunianya mulai terbalik, tanpa arah.
Tin tin!
Tiba-tiba saja suara klakson mobil sedan hijau mengagetkan Piyu. Ia menoleh dan mendapati Shena beranjak keluar dari mobilnya.
“Piyu, kamu nggak bawa motor ya? Bareng aku aja yuk?” ajak Shena memamerkan senyumnya.
“Nggak usah, aku naik bus,”
“Tapi kan lebih hemat dan cepat kalo bareng aku…,”
“NGGAK USAH!” seru Piyu menggelegar. Menatap Shena berapi-api dan tanpa bisa ditahan emosinya meluap seperti larva pijar panas yang menyembur dari pusat gunung berapi. “Kamu bebal ya? Aku selalu bilang tidak tapi kamu tetap saja mengikutiku, seperti bayangan yang sama sekali tidak kuinginkan!”
Tes tes tes…
Lagi, seperti saat itu. Kini hujan pun mulai turun membasahi bumi tempat Piyu berpijak, membasahi hatinya dengan penyesalan.
Shena mendongak, matanya yang besar berkaca-kaca. Hatinya terasa sakit. Sakit karena ia selalu diperlakukan buruk oleh Piyu, sakit karena selalu saja hanya dirinnya yang terlihat begitu dibenci, sakit karena perhatiannya selalu ditampik, padahal terhadap cowok ini ia selalu…
“Piyu, kenapa sih kamu membenciku? Apa salahku sampai kamu terlihat begiu enggan dekat-dekat denganku. Apa yang telah kulakukan sampai membuatmu anti terhadapku? Padahal dengan gadis-gadis lain, kamu biasa saja,” ujar Shena, terengah-engah tersulut ketidakmengertian. “Apa yang salah pada diriku yang sudah begitu mencintaimu!!?”
Mata Piyu membesar, melotot tidak percaya terhadap pernyataan Shena. Rasanya hatinya menjadi begitu dingin, bahkan lebih diginn daripada tubuhnya yang sudah basah kuyup oleh hujan.
“Kenapa? Kamu kaget?” seru Shena, ia kembali mencari manik mata Piyu. “Aku selalu mencintaimu, dari dulu ketika pertama kali kenal kamu hingga detik ini. Aku selalu menyukaimu, meski kamu terlihat nggak mau dekat-dekat denganku. Aku benar-benar nggak ngerti alasanmu terlihat selalu menjauhiku. Yang aku tahu, aku hanya ingin selalu memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan untukmu. Apa aku salah, Piyu?”
Kini dari mata itu pun keluar hujan. Piyu menatapnya tak berdaya.
“Apa aku salah telah mencintaimu? Apa aku salah berusaha melakukan apapun untuk mendekatimu?” kali ini suaranya lirih, hingga seakan bersatu dengan hujan. “Apa aku salah…?”
Hening, bersama hujan dan deru angin. Bersama isak tertahan Shena, bersama luka yang kembali menggores hati bernanah milik Piyu.
Kamu nggak salah Shena, kamu samasekali nggak salah…
Tapi kalimat itu hanya bisa diucapkannya dalam hati. Kalimat yang selamanya tidak akan pernah berani ia ucapkan, oleh Piyu sang pecundang.
“Maaf telah membuatmu terganggu,” Shena mengusap wajahnya, berusaha tersenyum. “Janji, mulai sekarang aku nggak akan menganggumu lagi. Maaf sudah begitu egois mempertahankan cintaku padahal kamu sepertinya sudah muak padaku. Aku janji, kamu bahkan tidak akan pernah melihatku lagi, di tempat ini atau dimana pun,”
Untuk yang kedua kalinya, mata Piyu membesar, bingung.
“Besok aku pindah ke Paris. Mungkin akan menetap lama di sana,” ia memegang dadanya. “Perlu waktu sangat lama untuk menyembuhkan lukaku. Kamu tahu, rasanya benar-benar sakit,” ia menarik napas. Lalu berbalik. “Kuharap suatu saat aku beruntung bisa menyembuhkannya dan bisa melihatmu tersenyum tanpa tatapan benci lagi kepadaku,”
Dalam tubuh basahnya, Shena masuk mobil, menutup pintu dan satu menit kemudian telah melindas jalan raya.
Maaf Shena… maaf… maaf… maaf… maafkan aku yang telah begitu bodoh, maafkan pecundang ini, maafkan pecundang masa lalu ini…
Piyu menatap nanar ke ujung jalan, tempat mobil Shena menghilang. Hatinya terasa sakit lagi, seolah kembali ke masa lalu.
Maaf Shena, bukan keinginanku untuk bersikap tidak adil padamu, untuk bersikap kasar dan mengabaikan perasaanmu, menepis cintamu. Mungkin karena aku terlalu mencintaimu, hingga aku tidak ingin kau terluka, karena aku.
Maaf Shena, kuharap walau hatimu sekarang terluka, nanti tetap akan sembuh juga. Tidak seperti aku, seorang pecundang yang telah kalah oleh tikaman masa lalu…
Masa lalu yang membuatku tidak berani untuk mencintai wanita, mencintaimu, sekali lagi…
-nALa-






0 komentar:
Posting Komentar