Laman

Minggu, 11 Oktober 2009

Surat dari Malaikat Kecil

BUK!!

Ia terjengkang kebelakang. Aku menyeringai puas. Akhirnya aku bisa mempraktekan hasil latihan karateku. Belum tahu ya kalau aku sudah ban hitam!

“Sial!” dengusnya, Exel. Aku menatapnya dingin. Exel ini tipe anak badung sok berkuasa yang selalu menyembunyikan diri dibalik pangkat dan kedudukan orang tuanya. Sama sekali bukan tipe cowok sejati. Lihat saja sekarang, yang menolongnya hanya Rudy, Anton, dan Demas, para kacung setianya.

Dan kini ia mendapat ganjaran setimpal atas apa yang selama ia lakukan, khususnya terhadapku.

Selalu mengejekku karena ia tahu aku seorang piatu yang ditinggal Ibu.

“Brengsek!” ia mengusap ujung bibirnya, menatapku dengki. “Ternyata chiken ditinggal Induk kayak lo berani juga ya?!”

BUK! BUK!! DUK!!

Dan tanpa ampun aku menghajarnya habis-habisan. Untunglah kami sudah cukup jauh dari sekolah sehingga aku tidak perlu sungkan mengajar bajingan tengik ini!

“Denger cacing-cacing kotor! Bacot sial kalian sama sekali nggak pantes nyebut-nyebut tentang Nyokap gue. Dia terlalu berharga untuk manusia nggak guna macem lo semua!” seruku murka, menatap tajam keempat sosok yang sudah KO dihadapanku. Sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.

Aku pulang dengan amarah memuncak. Kesal bukan main. Huh, ini semua gara-gara anak kecil sial itu. Anak yang tega-teganya membunuh Ibu. Anak yang berlabelkan ‘adikku’.

Aku memasuki rumah dengan langkah berat. Tanpa disuruh, memori pahit itu berputar lagi di benakku layaknya rol film yang diputar di bioskop.

Beberapa tahun lalu Ibu meninggalkan kami semua untuk selamanya. Ibu telah dipanggil oleh Tuhan semesta alam, Tuhan yang menguasai jiwa raga umat manusia.

Ketika itu umurku masih dua belas tahun, masih kecil, masih membutuhkan figur seorang Ibu, sepenuhnya. Aku sangat dekat dengan Ibu. Sangat dekat. Bagiku Ibu adalah segalanya, selain Ayah. Kematian Ibu menjadi pukulan teramat pedih untukku. Aku tidak pernah rela Ibu meninggalkan kami, hingga detik ini.

Aku mengerti kehidupan. Maksudku, aku teramat tahu dan mengerti kalau kehidupan itu berputar. Dunia terus melaju, kehidupan terus berubah. Layaknya sebuah roda, kehidupan pun tak pernah berhenti berjalan. Hukum alam terus diterapkan, tidak peduli apa atau siapapun. Dan keluargaku adalah salah satu dari miliaran penduduk bumi yang mengalami masa-masa itu. Masa dimana roda ada kalanya terinjak dibawah.

Tapi sungguh, aku tidak ingin hukum yang seperti ini. Meski aku tahu suatu saat Ibu pasti meninggal, tapi kenapa harus saat itu? Saat dimana aku masih sangat membutuhkannya.

Begitulah akhirnya. Kehidupanku gelap untuk sesaat. Mataku kabur dan batinku tak dapat melihat ke depan. Ibu telah kembali pada Dzat yang menciptakannya. Ibu telah menyatu dengan tanah. Meninggalkanku, Ayah, dan seorang bayi perempuan yang baru saja dilahirkannya. Yang saat itu telah sukses menjelma menjadi malaikat maut laknat yang tega-teganya mengambil ibu dariku!

Benar. Semenjak bayi, ia kujuluki malaikat maut laknat. Atau Izrail terkutuk. Dialah yang merenggut Ibu dariku. Dialah yang membuat kehidupanku buram bahkan hingga tersisa hingga detik ini, setelah lima tahun kepergian Ibu.

“Holee... Kak Ibel pulang... Kak Ibel pulaang!!” suara cempreng khas balita itu mengejututkan lamunanku. Aku menoleh kearah suara, dan mendapati gadis cilik berusia lima tahun berlari menyongsongku. Amarahku kembali menyala.

“Kak Ibel dengelin Uty deh. Uty punya cerita buat Kakak...,” celoteh gadis kecil itu manja dengan suara cadelnya. Kini bocah yang tingginya hanya sampai pohon bonsai tetangga itu memeluk kakiku. Mendongakan kepalanya yang mungil dengan rambut keriwil khas balita sehingga membuat wajahnya–yang menurut semua orang lucu dan tembem–kepadaku.

Aku menepis tangannya dengan kasar. Mendorong tubuhnya hingga terjatuh di lantai tanpa belas kasihan. Huh, biar saja. Siapa suruh membuat kehidupanku hancur? Siapa suruh dulu membunuh Ibu hingga aku menerima ejekan-ejekan menyakitkan.

“Minggir! Dasar anak sial!” bentakku kasar. Tidak peduli mata bulat yang biasanya berbinar ceria itu kini menghadirkan mendung dan siap menurunkan hujan air mata disertai teriakannya laksana petir di siang bolong.

Aku meninggalkannya dan masuk ke kamar. Masih sempat kudengar suara lembut Oma berusaha menenangkannya, juga nyanyian yang cukup merdu dari Mbak Rita, baby sitter anak celaka itu.

Sekali lagi kutegaskan, aku sama sekali tak peduli. Toh ia juga tak peduli saat dengan sadisnya merenggut nyawa Ibu. Padahal Ibu sudah baik sekali memberinya tumpangan hidup selama sembilan bulan. Memberinya asupan nutrisi hingga ia menjadi seperti sekarang, menjadi salah satu balita cerdas nan sehat. Itu semua karena Ibu!

Dengan gerakan kasar aku menghempaskan tubuhku keatas ranjang. Tatapanku tiba-tiba terhenti pada figura besar di depanku. Figura berisi foto Ibu dan aku. Disana Ibu tersenyum lembut. Kami berpelukan sangat erat, seolah tak kan ada lagi saat dimana nanti hal yang sama akan terulang kembali.

Dan ternyata, memang begitulah kenyataannya.

^^^

Malamnya seusai dinner, pintu kamarku diketuk dari luar. Ternyata Ayah. Wajah tuanya yang masih terlihat tampan mengguratkan kelelahan yang teramat sangat. Aku tersenyum kearahnya. “Yah?”

Ayah balas tersenyum. Beliau duduk di atas ranjangku. Sementara aku masih di atas kursi meja belajar. Tadi aku memang sedang mengetik laporan untuk tugas sekolah di laptop saat Ayah datang.

“Tadi Omamu cerita, kamu bikin Uty nangis lagi, ya?” suara Ayah yang berat dan bersahaja, namun terdengar lembut memasuki ruang dengarku. Aku hanya diam.

“Ibel, kamu masih menyalahkan Uty atas kematian Ibu?” selidik Ayah. Beliau menghela napas berat saat aku tidak bersuara. “Sadarlah Ibel, Ibu pergi karena memang sudah begitu seharusnya, Allah yang menggariskan demikian. Kamu sudah besar, seharusnya bisa memahami hal itu,” Ayah menarik napas. Menatapku yang makin tertunduk dalam.

Ayah melanjutkan. “Apa tidak ada sedikit pun rasa belas kasihmu terhadap Uty? Setiap hari kamu bentak begitu, sudah lima tahun, Nak...,” kini tatapan Ayah melembut. Berusaha mencairkan hatiku kehangatannya. “Apa kamu tidak menyayangi Uty?”

“Tidak!” aku mengangkat wajah. Berang, berapi-api. “Untuk apa Ibel menyayangi bocah yang sudah membunuh Ibu? Apapun kata Ayah, hal itu tidak akan mengubah kenyataan, bahwa karena dialah Ibu meninggal. Karena melahirkan dia Ibu pergi dan Ibel diejek teman-teman!”

Ayah melotot. Aku mengerti, aku salah telah membentak Ayah. Tapi amarah membuatku gelap mata. Padahal selama ini aku tidak pernah berkata kasar pada orang tua.

“Ibel, jaga bicaramu! Apa kamu tidak mengerti apa yang Ayah bilang?! Kamu sudah besar, Ibel! Sadarlah kalau kamu bukan anak kecil lagi!” Ayah menghela napas, berusaha sabar. “Kalau kamu begini terus, Uty bisa jauh darimu. Kasihan dia...,”

“Kenapa aku harus mengasihani dia? Dia tidak pernah kasihan pada Ibu. Dia tidak pernah merasa kasihan padaku!”

“Belajarlah mengasihani orang lain sebelum kamu dikasihani!” seru Ayah tegas. “Apalagi Uty adalah adikmu. Kamu mau menyia-nyiakan dia? Padahal demi dia Ibu rela menukar nyawanya. Dan sekarang, kamu tega tidak menjaga peninggalan Ibu satu-satunya? Memperlakukan ia dengan tidak baik, padahal kamu tahu Ibumu adalah wanita penuh kasih. Kamu mau membuat Ibumu sedih di alam sana ?”

Aku tercekat. Kata-kata Ayah menohokku begitu telak. Aku hanya diam dan menunduk. Ayah berdiri dan menepuk pundakku.

“Apa kamu tahu Ibel, bahwa Uty begitu sedih diperlakukan begitu olehmu? Dia selalu bertanya pada Ayah, apa ia pernah berbuat salah padamu. Apa ia pernah melakukan suatu hal yang membuatmu begitu membencinya, begitu tidak menginginkannya. Dan ironisnya, ketika Ayah atau Oma hanya diam, ia selalu berkata begini...,” Ayah berdehem. “...’Kalau Uty bikin salah sama Kak Ibel, Uty minta maaf. Kalau Uty bikin Kak Ibel nangis dan sedih, Uty mau kok dipukul atau dicubit. Dibunuh kayak di film-film itu juga boleh. Asal Kakak mau maafin Uty, sayang lagi sama Uty seperti Kak Ela sayang sama Niko. Uty selalu sayang Kakak, Ayah..’” Ela dan Niko adalah tetangga depan rumah kami. Niko juga teman main Uty.

Ayah kembali menatapku. Tapi aku tak berani menatap balik matanya. Karena aku tahu kini mataku menghangat. Dadaku mendadak sakit dan rasanya sulit sekali bernapas. Aku tahu Ayah tidak bohong, karena sekali dua kali aku memang pernah mendengar ucapan polos itu terlontar dari bibir mungilnya ketika aku tidak sengaja lewat di depan kamar anak itu. Hal itu benar-benar mencubit perasaanku, menghantam nuraniku untuk berpikir. Ya, Ayah benar. Aku memang masih seperti anak kecil, childish. Aku memang belum dewasa menerima kehidupan.

Perkataan Ayah membuatku kembali berpikir. Oh Tuhan, apa benar perasaanku selama ini? Atau semua ini hanya sebuah penghalang, suatu kebohongan yang dihadirkan egoku, untuk menutupi nuraniku yang sesungguhnya. Bahwa sebenarnya... aku tidak pernah benar-benar membenci anak itu.

Perlahan, aku merasa ada yang luruh di dasar jiwaku...

^^^

Kain hitam itu ada di sana . Melambai tertiup angin. Dan pekarangan begitu ramai, dengan payung-payung hitam. Oh Tuhan, ini semua sama... sama seperti lima tahun silam.

Seperti orang kesetanan aku masuk rumah. Siapa, siapa yang meninggal? Siapa lagi yang tega meninggalkanku? Omakah? Ayah? Atau... Uty?!

Yang kutemukan pertama kali adalah sosok Ayah yang berdiri menerima tamu. Wajahnya terlihat sendu menyambut tamu. Mata beliau merah, seperti habis menangis. Kemudian aku melihat Oma... dengan selendang hitam menutupi kepalanya yang memutih dimakan usia. Jadi... jadi siapa yang meninggal? Diakah?

“Yah, ada apa ini? Siapa yang meninggal?” mataku jelalatan melihat sekeliling. Lalu melihat sesosok kecil tubuh di tengah ruangan, ditutupi kain hitam.

Ayah menatapku nanar, kemudian memelukku erat. “Adikmu Nak... Uty... memilih untuk menyusul Ibu... Dia tewas tertabrak mobil di depan kompleks...,”

APA?!

TIDAK!!

“NGGAK! Ayah pasti bohong!” seruku tiba-tiba melepaskan pelukan Ayah. “Uty nggak mati, pasti lagi ngumpet. Pasti!” aku berlari masuk kedalam rumah. Meninggalkan tamu-tamu yang menatapku prihatin, sama sekali tidak mengacuhkan tubuh kaku yang terbujur di tengah ruangan. Itu bukan Uty-ku! Adik kecilku tak mungkin meninggal. Ayah bohong, semua pasti bohong. Mereka mengerjaiku karena aku tahu, hari ini aku ulang tahun. Aku tahu, setelah nanti aku panik mencari, akan ada yang bilang “gotcha” dan terbahak menyaksikan kepanikanku.

Aku terus berlari. Mencari Uty kesetiap sudut rumah. Ke bawah kolong tempat tidur, di balik tirai jendela, kamar mandi, di setiap kamar, taman belakang, bahkan ke rumah Ela dan Niko. Tapi ia tak kunjung kutemukan. Tidak ada jerit behagianya ketika aku pulang dan kembali ke rumah.

Dengan gontai aku masuk kekamar terakhir, kamar Uty. Namun yang kutemukan hanyalah kamar dingin dan kosong. Tidak ada apapun di sana . Tidak ada Uty, tidak ada siapapun.

Aku terhempas lemas di ranjang kecil Uty. Mataku masih mencari. Namun tak kunjung kutemukan. Sampai akhirnya aku menemukan sesuatu di meja belajar anak itu. Aku bergegas menghampirinya. Ternyata sebuah surat dan sepiring omelet keju yang sedikit berantakan.

Aku membaca surat itu. Tulisan tangan Uty yang belum rapi, khas anak TK. Tulisan yang dulu sempat ia perlihatkan untukku.

Buat Kak Ibel tersayang,

Kakak, waktu Kakak baca surat Uty, mungkin Uty udah nggak ada lagi disini. Uty lagi menuhin keinginannya Kak Ibel. Uty mau mati.

Kakak selalu bilang kalau kakak lebih suka Uty mati kan ? Jadi Uty dapet ide. Sekarag kan ulang tahunnya Kakak, Uty mau ngasih hadiah yang paling Kakak inginkan, yaitu kematian Uty.

Uty dapet idenya waktu lagi nonton tivi. Mati itu artinya ketabrak mobil ya Kak? Habis, waktu Uty nonton sinetron, katanya mati kalo ketabrak mobil. Uty nggak tau juga sih mati itu apa. Hehehe...

Sebelum Uty mati (?), Uty mau Kakak tau kalo Uty tuh sayaang... banget sama Kakak. Maafin Uty ya Kak kalo udah bikin Kakak sedih. Uty nggak bermaksud bunuh Ibu seperti yang selalu Kakak bilang. Sekali lagi, maafin Uty ya Kak.

Uty sayang Kak Ibel, selalu dan selamanya.

Selamat ulang tahun ya Kak. Semoga Pajang umur.

*Uty juga buatin Kakak omelet keju sama Mbak Rita dan Oma. Semoga Kakak menyukainya ya!

Salam sayang

Uty

Tidak, ini tidak benar. Uty sama sekali tidak mati! Tidak... TIDAK!!

Tidak...

Tapi kini tubuh kecil kaku itu ada dipelukanku... Sementara surat darinya kugenggam erat. Tidak! Uty tolong jangan tinggalin Kakak. Kakak sayang Uty, selamanya dan itu nggak akan pernah berubah. Uty... tolong... tolong jangan tinggalin Kakak...

UTYYYY!!!

BRAK!

“Kakak?”

Hah? Aku menoleh ke samping dan menemukan Uty berdiri di samping ranjangku. Jadi, jadi Uty nggak meninggal? Jadi itu semua hanya... mimpi?

Aku langsung menghambur memeluk anak itu. Gadis kecilku, malaikat kecilku. Oh Tuhan... rasanya aku begitu rindu ingin memeluk tubuh kecil ini. Menciuminya, menimangnya. Sudah berapa banyak waktuku yang telah terbuang untuk merawatnya? Memberikan kasihku sebagai seorang kakak padanya.

“Uty... maafin Kakak ya. Kakak udah jahat sama kamu. Maafin Kakak... Maaf...,” aku terisak sambil memeluknya. Aku merasakan jemari kecilnya memelukku, erat. “Kakak juga sayang sama Uty...,”

“Kakak kenapa?” Uty melepaskan pelukanku, menatapku bingung dengan mata besarnya yang berbinar lucu. “Kakak habis mimpi buruk ya?” lalu ia terbelalak. Begitu menggemaskan. “Kak Ibel nangis?”

Aku tersenyum kecil sambil mengusap air mataku. Kemudian mengacak-acak rambutnya. Mengangkatnya untuk naik ketempat tidurku, memeluknya.

Ada banyak hal yang ingin kulakukan untuknya. Tapi kurasa, hal yang paling ingin kulakukan adalah memeluknya terus seperti ini.

“Kakak udah nggak benci Uty lagi? Udah nggak marah sama Uty?” tanyanya polos. Aku menggeleng haru. Mememluknya lebih erat.

“Kakak nggak pernah benci adik semanis dan secantik Uty. Maafin Kakak ya udah jahatin Uty selama ini...,”

Ia mengangguk. “Nggak papa, Uty selalu sayang Kak Ibel,”

Aku tersenyum, kembali memeluknya.

“Oh ya, Uty punya sesuatu buat Kakak,” Uty menepuk jidatnya, tampak lucu. Ya, aku juga sadar Uty adalah seorang balita sehat dan menggemaskan. Dengan tubuhnya yang padat berisi, rambutnya yang keriwil kecil, jemarinya yang padat, kulitnya yang putih bersih. Semuanya. Dan Uty bukan anak kecil rewel yang selalu minta ini itu.

“Apa?”

“Omelet keju!”

Aku terdiam. Membiarkannya berlari senang keluar kamarku. Ya, baru kali ini aku melihatnya begitu bahagia. Aku tercenung.

Dan tiba-tiba... ada sesuatu yang terjatuh dari ranjangku. Terbang begitu saja. Aku memungutnya. Kemudian terbelalak membaca isi kertas – surat itu.

Buat Kak Ibel tersayang....

Ini kan ...

Surat dalam mimpiku. Remuk, seperti sehabis di genggam. Dan ada bekas air mata di atasnya. Aku tertegun.

Tiba-tiba aku merasa limbung. Mendadak tidak yakin. Benarkah yang tadi hanya sekadar mimpi? Mungkinkah... itu adalah peringatan untukku?

Tapi apapun itu, aku bersyukur. Setidaknya aku sudah lepas dari mimpi burukku. Bagaimapun, aku tidak pernah membenci Uty. Dan aku tahu ia bukan malaikat maut laknat seperti anggapanku selama ini.

Ia adalah Uty. Adik kecilku yang sangat manis. Hadiah teakhir yang ditinggalkan Ibu untukku, yang harus kujaga dan kurawat sepenuh hati.

Seorang malaikat kecil yang begitu putih dan bersih.

Terimakasih malaikat kecilku. Terimakasih atas suratmu yang berharga. Terimakasih atas kasih sayangmu yang tak pernah habis untukku, untuk Kakakmu yang tolol ini.

Selamanya, aku akan selalu menyayangimu... selalu. Jangan pernah pergi lagi ya...

(By: Nalasari T)

^^^


0 komentar:

Posting Komentar