”… Ibu kalian masih hidup. Carilah ia karena kalian sama sekali bukan anak yatim piatu. Maafkan Ayah Nak…,”
***
Kalimat terakhir Ayah sebelum beliau meninggal masih saja terasa nyata di benak maupun telinga Ariva. Dan tentu saja, sampai detik ini pun ia masih belum percaya sepenuhnya bahwa ia masih memiliki Ibu.
“Benarkah kau adalah Ibuku?” gumam Ariva lirih seraya mengusap air matanya pada selembar foto usang yang diberikan Ayah untuknya. Foto Ayah dan Ibunya ketika masih muda.
“Riva, kau belum tidur?” teguran Yuy mengagetkan Ariva. Ia segera mengusap air matanya, tersenyum pada Abangnya yang terlihat letih.
“Belum Bang. Abang baru pulang? Gimana kerjanya? Lancar?”
Yuy tertawa. “Tanyanya satu-satu dong Va…,”
Ariva ikut tertawa, lalu menarik napas. “Apa Riva boleh cari wanita ini Bang? Ayah meninggalkan alamatnya, bukan?”
Yuy mengejang. “Untuk apa Va? Ia telah meninggalkan kita semua, ia tidak sepantasnya menjadi Ibu kita,”
“Tapi…,”
“Sudahlah, tidak usah kau pikirkan. Toh Abang juga masih bisa memenuhi kebutuhanmu. Abang janji bahwa kau tidak akan pernah putus sekolah sampai sarjana,” ia mengacak rambut pendek Ariva, lalu keluar kamar setelah mengecup kening adik kesayangannya itu.
Ariva menarik napas. Kasihan Abang, harus cuti kuliah sampai waktu tidak terbatas sejak Ayah pergi untuk selamanya beberapa minggu yang lalu.
Maafin Riva Bang… batinnya getir.
***
Dan disinilah ia sekarang. Bersama Edwin–sahabatnya dari kecil–mencari jejak sang Ibu. Sayang, yang ia miliki hanya dua keping pauzzle kecil dan tampaknya itu tidak cukup berarti untuk keberhasilannya.
“Ini rumahnya,” gumam Edwin. Cowok jangkung itu menyipitkan mata, rumah yang besar. Mungkin tiga atau empat kali besar rumahnya sendiri.
“Menurutmu apa dia masih tinggal disini?”
Edwin mengangkat bahu. “Entahlah…,” ia maju menuju gerbang. “Tapi kita akan segera tahu,”
Sebelum Ariva sempat bertanya, Edwin sudah membunyikan bel dan beberapa menit kemudian seorang wanita setengah baya keluar menemui mereka. Edwin mulai mengintrogasi wanita itu sementara Ariva mendengarkan.
“Tidak ada Ibu Eva Lydia, yang ada hanya Ibu Ely,” Edwin kembali mengulang kalimat pembantu itu. “Tapi kau tidak usah berkecil hati karena kita akan terus mencarinya,” Edwin melanjutkan seraya merangkul erat Ariva, berusaha menegarkan hati gadis itu.
Ariva mengangguk, menarik napas. “Terimakasih Ed, kau sangat baik. Entah apa yang bisa kulakukan kalau kau tidak ada untuk membantuku,”
“Bicara apa sih? Aku kan sahabatmu, sudah sepantasnya aku membantumu. Apalagi ini menyangkut Ibumu,”
Edwin menatap sedih pada manik hitam Ariva yang seakan kehilangan cahaya. Dulu, sebelum semua musibah ini menghapiri kehidupan gadis kecilnya, Edwin sangat suka melihat binar mata Ariva yang seakan tidak pernah redup. Begitu indah seperti ada pendar cahaya pada bola hitam kelam itu. Membawamu masuk untuk mencari tahu cahaya apa yang ada di baliknya. Edwin melakukan hal itu, mencari tahu apa yang ada di balik binar misterius di bola mata Ariva. Tapi dengan bodohnya ia terperangkap di sebuah ruang hangat yang membuatnya enggan untuk kembali.
Ya, hatinya telah tertawan mata hitam itu. Hatinya telah hilang separuh untuk gadis ini, tapi begonya, ia hanya diam tanpa mau mengetuk balik pintu hati Ariva, memberi tahunya bahwa tanpa sadar Ariva telah membawa separuh jiwanya.
***
Hari keempat…
Ariva dan Edwin berdiri di depan sebuah restoran besar yang cukup terkenal di Surabaya. Mereka mendapat kabar bahwa Ibu Ariva dulu pernah bekerja di restoran ini ketika ia masih menjalani hari-harinya bersama Doni, Ayah Ariva.
“Kami mencari Ibu Eva Lydia,” begitu Ariva memulai pencariannya. Pelayan yang ditanyainya mengerutkan kening. Lalu menggeleng.
“Kami bisa bertemu manager retoran ini?” potong Edwin.
“Ada yang bisa saya bantu?” tiba-tiba sebuah suara berat mengangetkan mereka. Ariva berbalik dan mendapati seorang pria tambun berdiri di belakangnya.
“Apa Anda manager restoran ini?” pria itu mengangguk ketika Edwin menanyainya. “Kalau begitu…,”
“Ia bilang Ibumu memang pernah berkerja disini. Tapi itu sudah belasan tahun yang lalu. Kau sendiri melihat kalau dokumennya sudah usang begitu,”
“Ya, tapi,” Ariva tersenyum sumringah, membuat jantung Edwin berdebar lagi. Oh, thanks God, Kau sudah mengembalikan setitik binar itu. “Kita tahu alamatnya yang baru,”
“Tapi Va…,” Edwin tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tidak tega untuk melanjutkan pikirannya bahwa, bagaimanapun alamat itu merupakan alamat sembilan belas tahun lalu. Ia sanksi kalau Ibu Eva masih tinggal disana. Tapi Edwin sama sekali tidak ingin binar itu hilang, meski ia harus membiarkan Ariva tenggelam dalam kolam harapan yang mungkin akan berakhir buruk. Edwin berdalih, toh harapan itu masih ada. Mereka telah menemukan satu lagi kepingan puzzle kehidupan masa lalu keluarga Ariva.
“Tapi apa?”
“Nggak papa,” Edwin tersenyum. “Makan yuk, aku lapar. Kau juga kan? Kita langsung pergi sepulang sekolah tanpa sempat makan ,”
“Baiklah!” seru Ariva sumringah, membuat Edwin semakin enggan untuk memaparkkan kekhawatirannya.
***
Hari kelima….
Seperti yang telah diperkirakan Edwin, Ibu Eva Lydia sudah tidak tinggal disana lagi. Ia seperti menunda kekecewaan Ariva. Tapi…
“Kami ngontrak di sini sudah enam belas tahun. Pada seorang wanita kaya. Ia baik, karena tidak pernah memaksa kami untuk membayar kontrakan pada tepat waktu,”
“Apa dia wanita ini?” dengan terburu-buru Ariva mengangsurkan foto usang Ayahnya dan Eva Lydia. Berharap akan mendapatkan sekeping, ah tidak, beberapa keping puzzle yang akan membawanya pada akhir permainan.
Dan pria setengah baya berperawakan kurus ceking itu mengangguk. “Ya benar, ini dia. Saya tidak pernah lupa wajahnya karena ia…,” pria itu berbisik malu. “Sangat cantik…,”
Ariva ingin melompat senang, kalau perlu langsung memeluk Edwin saking bahagianya ia. Tapi yang dilakukannya hanyalah meremas tangan cowok itu. Edwin meremas balik tangan itu, menguatkan.
“Bapak tahu alamat wanita ini?” tanya Ariva tidak sabar. “Dia Ibu saya Pak, kami sudah terpisah selama belasan tahun. Dan Ayah saya sudah meninggal, beliau menyuruh saya untuk mencari Ibu…,”
Bapak ceking itu menatap Ariva prihatin. Tapi akhirnya mengangguk. “Ya tentu saja. Rumah itu sangat besar. Alamatnya…,”
***
“Kau sering pulang sore bahkan sudah malam akhir-akhir ini,” tegur Yuy malam itu ketika mereka berdua makan malam. “Main kemana saja dengan Edwin?”
“Nggak kemana-mana kok Bang,” dusta Ariva. “Kami hanya jalan-jalan karena Ed kasihan melihatku mengurung dri terus di rumah sejak Ayah meninggal,”
Yuy mendesah. “Maaf Riva, Abang tahu kau kesepian. Tapi Abang tidak pernah menemanimu meski Abang ingin sekali melakukan hal itu,”
Ariva menjadi merasa bersalah pada Yuy karena telah berbohong dan membuat Abangnya sedih. “Tak apa Bang. Riva tahu kok Abang sibuk kerja di bengkel. Ed cukup menghiburku kok,” ia nyengir.
“Jangan sedih terus menerus, ya. Kau gadis yang kuat, Abang tahu itu. Jadilah Ariva yang ceria seperti dulu. Yang selalu tersenyum dan menganggap enteng semua masalah. Yang tidak pernah menyerah dengan keadaan,”
Ariva mengangguk. “Riva tahu Bang. Maaf sudah membuat Abang khawatir,”
Yuy tersenyum, dalam hati sungguh-sungguh berharap semuanya akan baik-baik saja meski ia tahu keadaan tidak akan pernah menjadi seperti dulu lagi. Ia tidak akan menjadi Yuy Mario yang selalu unggul di kelas, yang dihormati junior dan disegani senior, yang sebentar lagi akan dilantik menjadi ketua BEM.
Tapi bukankah hidup adalah cobaan? Dan Yuy bukan tipe orang yang menyerah pada nasib. Ia suka tantangan, dan semakin banyak tantangan dan cobaan yang dihadapinya, semakin membuat pria itu kuat dan bijaksana dalam mengartikan hidup.
Tapi maafkan Abang, Riva. Tidak mengizinkanmu mencari wanita itu. Abang hanya tidak mau kau terluka lebih dalam oleh pisau yang selalu ia bawa dalam dirinya. Kau hanya akan semakin terpuruk, dan hal itu sama seali bukanlah hal yang Abang inginkan…
***
Hari keenam…
“Ed, ini kan…,” rumah besar yang beberapa hari lalu mereka datangi, yang tidak ada Ibu Eva Lydia melainkan Ibu Ely.
Tin tin…
Sebuah mobil sedan mengilap lewat, hampir saja menabrak mereka. Ariva melompat kaget.
“Hey, ngapain kalian disana?”
Seorang wanita setengah baya dengan tubuh berisi dan rambut coklat dicat sasak tinggi plus make-up lengkap keluar dari mobil itu. Mata besar Ariva seperti hendak melompat keluar. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu dengan wanita ini.
“Ibu…,” desis Ariva. Edwin segera menemui Ibu itu.
“Maaf, apa Anda Ibu Eva Lydia?” Edwin langsung bertanya tanpa tedeng aling-aling.
“A-pa?!” mata Ibu itu melotot, dan meski sesaat ia mengejang. Seakan ada sepuluh ribu mega volt listrik yang menyetrumnya.
“Anda Ibu Eva? Karena kalau ya, ini Ariva, putri Ibu Eva yang sudah belasan tahun tidak pernah bertemu dengan beliau,” terang Edwin lebih lanjut, merangkul pundak Ariva yang tiba-tiba saja menjadi layu.
Mata coklat Ibu itu–soft lens–menatap tajam Ariva, melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dan lagi-lagi, entah kenapa tegang. Ia mematung, wajahnya yang tadi tampak kesal dan marah kini berubah pucat. Edwin menyadari hal itu.
“Ayahnya baru saja meninggal, dan ia harus dihadapkan pada persoalan baru kalau selama ini Ibunya masih hidup. Kami sudah mencari Ibu Eva Lydia sejak beberapa hari lalu, dan akhirnya kami sampai disini setelah mencari kesana kemari,” Edwin terus bicara mewakili Ariva yang sejak tadi diam tanpa bicara apa-apa, terus menatap nanar Ibu itu.
“Eva Lydia…,” setelah beberapa menit, Ibu itu menggumam pelan. “Dia… s-sudah meninggal… e-empat tahun lalu…,”
Dan kenyataan inilah yang paling tidak ingin mereka dengar. Ariva menemukan kembali suara dan perasaannya, setelah beberapa saat tenggelam ditelan kebisuan tanpa rasa.
“Ha-ha! Ibu bohong kan? Itu tidak benar karena Ibu saya PASTI masih hidup! Ayah sendiri yang bilang begitu. Kemarin kami sudah sampai disini, tapi pembantu bilang kalau tidak ada Ibu Eva Lydia disini, melainkan Ibu Ely. Dan sekarang, kami kembali ada disini berdasarkan petunjuk berbeda! Saya tahu Ayah tidak pernah bohong, Ayah benar! Ibu masih hidup dan INI adalah rumahnya!” air mata Ariva meleleh deras, mewakili perasaannya yang semberawut.
“Ini Ibu saya! Ibu Eva Lydia. Siapa Anda hingga dengan mudah mengatakan bahwa dia telah meninggal?!!” jerit Ariva tanpa bisa dibendung lagi, memperlihatkan foto Ayah dan Ibunya dengan tidak sabar. Ibu itu–entah siapa namanya-melihat sebentar, lalu berpaling.
“S-saya Ely, sahabat Eva. E-Eva meninggal karena kecelakaan. Kalau kamu tidak percaya, saya bisa tunjukan tempat ia dimakamkan,”
“BOHOOONG!!!” teriakan itu menggema, laksana petir di siang bolong. Tidak hanya menggemparkan tempat yang cukup tenang itu, namun juga langsung memporandakan setengah hati yang tertawan di dalam diri Ariva. Hati milik Edwin.
“Ibu pasti bohong!! Ibu BOHOOONG!! Ibu saya tidak meninggal. Tolonglah Ibu, beri tahu saya dimana ia berada. Beritahu saya, karena yang saya butuhkan bukan hartanya melainkan kasih sayangnya! Yang saya dan Abang saya butuhkan hanya CINTANYA!!”
“Ariva, tenanglah… Kita bicarakan ini semua dengan tenang, ok?!” Edwin berusaha menarik Ariva menjauhi Bu Ely, yang anehnya hanya diam dan berpaling dengan wajah berkerut seperti menahan tangis. Ia mungkin sangat sedih kembali diingatkan pada sahabatnya, pikir Edwin kalut. Oh Riva, please, tenanglah… Jangan buat aku sedih lagi…
“NGGAK BISA!! Ed, kamu tidak pernah merasakan jadi AKU!! Kau punya orang tua lengkap yang begitu mencintaimu. Aku?! Yatim yang berharap kasih sayang seorang Ibu! Apa itu salah? APA AKU SALAH?!!” Ia menjerit lagi, membuat Edwin tidak tahan. Dengan sedikit kasar ia menarik Ariva kedalam pelukannya, membenamkan kepala gadis itu kedalam dadanya. Mengusap kepala dan menepuk lembut punggungnya, terus berkata “sabar” meski Ariva terus meronta dan menjerit.
“Huhuhuhuhu… aku hanya ingin menemuinya, sekali saja. Merasakan pelukannya, usapannya, kasih sayangnya. Apa permintaanku terlalu berlebihan, Ed? Apa aku terlalu serakah meminta semua itu sehingga Tuhan enggan mengabulkannya?”
“Kau tidak serakah, Dear… permintaanmu wajar. Hanya saja mungkin belum saatnya kau merasakan itu. Akan ada cinta lain untukmu, percayalah…,”
Ariva terus menangis hingga lelah dipelukan Edwin. Sementara Bu Ely hanya diam menyaksikan dengan tatapan nanar. Setelah Ariva tenang dan kembali menguasai diri, ia menatap sendu Ibu setengah baya itu.
“Tolong beri tahu dimana Ibu saya dimakamkan,” ucap Ariva pasti, dengan suaranya yang serak.
“………,”
“!!!”
***
Ini bukan akhir permainan yang Ariva inginkan. Kekalahan. Puzzlenya mungkin utuh, tapi yang ia temukan justru sesuatu yang tidak ingin dilihatnya. Ya, karena kematian bukanlah hal yang ingin ditemui seseorang yang masih waras.
“Kau meninggalkanku, lagi. Tanpa memperlihatkan wajahmu di hadapanku sekali saja. Apa kau tidak mencintaiku? Tidak mencintai kedua anakmu? Benarkah kau seorang Ibu?” isak Ariva sambil meremas gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput dan bunga liar.
Edwin benar-benar tidak sanggup melihatnnya. Jika saja ia sendiri dan tidak harus terlihat kuat di depan Ariva, mungkin ia akan ikut meneteskan air mata melihat cahayanya begitu redup. Ariva-nya yang begitu kelabu ditelan kesedihan.
“Itu juga bukan keinginannya Riva. Takdirlah yang menentukan segalanya. Kau harus sabar…,”
“Aku selalu benci menangis karena itu akan membuatku lemah. Tapi semuanya begitu membingungkan, menjungkir-balikan duniaku! Apa aku salah jika ingin hidup bersama orang yang mencintaiku? Apa aku salah jika ingin mendapatkan seorang Ibu yang menyayangiku? Aku tidak minta harta. Aku hanya ingin cinta! Salahkah itu? Berlebihankah?” Ariva menunduk, menatap benci sekaligus rindu pada gundukan tanah itu.
Edwin benar-benar tidak tahan melihatnya yang semakin lama semakin redup, seolah seperti siang yang perlahan beranjak malam disaput mendung tanpa sedikitpun cahaya dari bulan dan bintang.
Dan di sore itu, dibawah lembayung senja yang memerah menghadirkan magenta, di depan sebuah makam, Edwin memutuskan mencoba mengetuk pintu hati Ariva untuk pertama kalinya. Berharap ia diizinkan untuk tetap tinggal disana, membawa setengah hati Ariva untuk menyeimbangkan hatinya sendiri.
“Apa aku boleh menggantikan posisinya, menjadi seseorang yang mencintamu sepenuh hati, memelukmu ketika bahagia dan bersedih, menerimamu apa adanya?” ucap Edwin pelan. “Apa aku boleh mencintaimu, memiliki hatimu?”
Ariva tersedak, menajamkan pendengarannya, lalu mendongak. Menatap nanar Edwin dengan mata sayunya setelah menangis.
“Apa?” tanyanya pelan, seakan tidak mendengar dengan cukup jelas pernyataan Edwin barusan.
Edwin menarik napas, meremas lembut jemari Ariva yang kotor oleh tanah dan merangkul pundaknya. “I love you, my dear…,”
Kali ini Ariva yakin mendengar peryataan itu. Bukan hanya karena mendengar untaian kalimat cinta itu, namun lebih karena melihat mata Edwin yang menyiratkan kesungguhan yang belum pernah Ariva lihat seelumnya.
“Ed…,” Ariva mendesah. “Apa maksud ucapanmu itu?”
Edwin menggeleng “Tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin au tahu karena aku telah lelah menunggu dibalik pintu hatimu, tertawan tanpa bisa memberitahumu bahwa aku ada di sana. Aku selalu mencintaimu, dari dulu, sekarang, sampai seterusnya. Dan itu nggak akan pernah berubah, malah bertambah…,”
Ariva meneteskan air mata lagi. Kali ini bukan karena takdir yang dianggapnya tidak adil, tapi karena ia tahu bahwa Edwin ternyata mencintainya, juga.
“Please, jangan menangis lagi, Dear. Kau selalu membuatku sedih jika meeteskan air mata. Tolonglah, tersenyum… ,” pinta Edwin memelas seraya mengusa air mata Ariva.
“Aku hanya… terharu. Ternyata masih ada cinta lain untukku,” Ariva tersenyum dan Edwin mendesah lega. “Terimakasih telah mencintaiku… Terimakasih…,”
Dan… Hup! Ia memeluk Edwin dengan begitu eratnya. Menangis sepuasnya kali ini di dada cowok itu. Edwin hanya diam, memeluk sambil terus mengusap-usap pundaknya dan menciumi ubun-ubun kepalanya. Menghirup wanginya rambut pendek Ariva.
Dan ketika matahari benar-benar telah kembali kepangkuan cakrawala, keduanya berdiri dan berjalan pulang. Antara lega karena berpikir telah menyelesaikan puzzle masa lalu yang ditinggalkan Ayah untuknya dan sedih karena puzzle itu berakhir tidak seperti yang diharapkan karena disana tertera gambar yang sangat ia benci. Tapi bagaimanapun, ada rasa lapang di hati keduanya. Karena sudah ada cinta lain yang menggantikan cinta yang telah pergi.
Oh kawan, bukankah Tuhan itu maha adil?
Benarkah seuruh kepingan puzzle Ariva sudah terpasang dan terkumpul?
Jawabannya, belum.
Karena kepingan terpenting yang ia cari, kini tengah menatap keduanya nanar dari balik pohon kamboja. Seorang wanita bertubuh berisi dan rambut coklat disasak tinggi, dengan soft lens coklat yang kini tengah mengeluarkan air mata. Ibu Ely, Eva Lydia.
“Maafkan Ibu, Nak. Selalu mempermainkanmu dan Abangmu. Maaf, karena tidak bisa mengatakan hal yang sesungguhnya, bahwa akulah Ibumu…,”
***
(By: Nalasari Tanjung)
skip to main |
skip to sidebar
Laman
Minggu, 11 Oktober 2009
Facebook Badge
Blog Archive
Blog-list
samurai X
i love you much
Welcome
hello guys! welcome to Stonary!!
A blog with a theme of love. Enjoy this story!!
A blog with a theme of love. Enjoy this story!!
married
Mengenai Saya
- nalatanjung
- I'm just an ordinary girl who want's to be something in the whole world





0 komentar:
Posting Komentar